“Mau turun sebelah mana mas?” tanya driver Goride yang saya tumpangi dengan tujuan kota tua Semarang.
Saya tak langsung menjawab karena mesti memanggil memori di kepala untuk menentukan disisi mana saya hendak mengakhiri duduk di jok belakang motor Honda Beat berwarna kebiruan itu.
“Dekat Gereja Blenduk saja mas,” akhirnya jawaban itu saya temukan.
Gereja GPIB Imannuel oleh masyarakat kota Semarang memang lebih dikenal dengan nama Gereja Blenduk karena atapnya yang berbentuk kubah. Atap setengah lingkaran itu dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai mblendug.
Bangunannya sendiri berbentuk segi delapan dan karena terletak di tengah-tengah kawasan serta dengan segala keunikannya maka mudah untuk diingat.
Akhir tahun 2019 yang lalu, sesaat sebelum pandemi Covid 19 melanda Indonesia, saya sempat berkunjung ke kawasan kota tua Semarang. Kebetulan pada waktu itu Presiden Jokowi yang disertai beberapa menteri juga sedang berkunjung kesana. Presiden dan rombongan datang untuk meresmikan revitalisasi kota tua Semarang tahap yang pertama.
Turut diresmikan pada saat itu adalah Semarang Creative Hub, yang bangunannya berada di sisi belakang Gereja Blenduk. Revitalisasi kota tua Semarang konon menelan biaya lebih dari 100 milyard rupiah. Dana yang digelontorkan itu berasal dari anggaran nasional melalui Kementerian PUPR.
Maka ketika pandemi Covid 19 mulai melandai dan datang kesempatan untuk berkunjung ke Semarang, kota tua menjadi pilihan daerah tujuan yang mesti saya sambangi. Sebab sama seperti kebanyakan orang lainnya, saya termasuk mahkluk yang suka pada kelampauan.
Meskipun begitu saya juga menyadari bahwa menjaga dan memelihara kelampauan terutama yang berbentuk kawasan dan bangunan bukanlah soal yang gampang.
Dalam ingatan saya ada banyak upaya atau inisiatif yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk menjaga eksistensi bangunan dan kawasan tua namun hanya sedikit saja yang berhasil. Kebanyakan hanya berhasil memoles namun keberlanjutannya tidak terjaga.
Sebagian lain dari upaya revitalisasi bahkan terjerumus dalam beautifikasi. Kawasan yang direvitalisasi kemudian justru kehilangan otentisitasnya. Wajahnya berubah jauh, meskipun indah namun banyak pernak-pernik yang tak sesuai dengan kondisi aslinya.
Upaya revitalisasi juga terkadang tidak tuntas karena berbagai masalah seperti kemampuan pemilik untuk menjaga dan merawat bangunannya. Ketidakmampuan itu sering kali membuat mereka lebih berpikir untuk merobohkan atau menjualnya. Persoalan lainnya adalah silang sengketa soal kepemilikan termasuk penguasaan, yang membuat aset tidak mudah untuk diambil alih.
BACA JUGA : Kuliner itu Soal Rasa, Kenangan atau Suasana?
Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Surabaya, Salatiga, Solo dan beberapa kota lainnya mempunyai kawasan yang disebut kota tua atau kota lama. Namun Semarang mempunyai kekhasan tersendiri karena yang disebut sebagai kota tua atau kawasan kota lama mempunyai dua corak yakni China dan Belanda.
Kebetulan juga kedua kawasan bercorak kolonial dan peranakan ini tidak berjauhan.
Kehadiran masyarakat keturunan China di Semarang awalnya adalah untuk berdagang. Namun kemudian ada yang menetap, salah satunya di daerah yang kemudian dikenal dengan nama Desa Ngaliyan. Ngaliyan artinya perpindahan atau berpindah.
Kelak mereka tidak hanya tinggal di sekitar bandar melainkan juga masuk hingga ke pedalaman seperti wilayah Kranggan, Damaran dan Petudungan. Masyarakat keturunan China kemudian membaur dan kawin mawin dengan masyarakat setempat.
Pembauran itu kemudian memunculkan penampilan wanita-wanita peranakan China yang memakai kebaya, berkonde dan mengunyah sirih pinang.
Pengaruh dalam bahasa dan kuliner dari masyarakat keturunan China juga masih kental hingga sekarang. Cat atau cet misalnya berasal dari kata Hokkian ‘Thjat’. Atau anglo yang berasal dari kata ‘Hanglow’.
Sedangkan istilah yang berhubungan dengan kuliner atau makanan yang identik dengan pengaruh keturunan China adalah bakso, bakmi, tahu, bolang baling, kue ku, bakpao, pia, misoa, moho dan tentu saja lunpia.
Hal ikonik lainnya yang merupakan peninggalan dari keturunan China adalah kelenteng. Kurang lebih ada 10 kelenteng ikonik di Semarang, 9 berada di kawasan pecinan dan satu berada di luar. Yang berada di luar kawasan pecinan adalah Kelenteng Sam Poo Kong. Lokasi kelenteng ini konon merupakan petilasan atau tempat singgah dari Laksamana Cheng Ho.
Di dalam kompleks Kelenteng Sam Poo Kong ada jangkar dan makan dari juru mudi kapal Panglima Cheng Ho.
Kawasan pecinan atau kota tua peninggalan keturunan China lebih dahulu dikembangkan menjadi lokasi wisata. Di kawasan itu dikembangkan Pasar Semawis, yakni pasar kuliner pada hari Jum’at, Sabtu dan Minggu. Selain itu setahun sekali diadakan Pasar Imlek Semawis selama 3 hari.
Semawis adalah sebutan untuk Semarang dalam bahasa Jawa kromo {halus}.
BACA JUGA : Makan Makan di Museum
Kota tua warisan kolonial Belanda dulunya merupakan kawasan pusat pemerintahan kolonial yang kerap disebut sebagai Litle Nederland. Karena kawasan seluas kurang lebih 33 hektar itu didesain layaknya kota di Eropa yang dikelilingi oleh kanal.
Pintu masuk ke kawasan kota lama ini adalah sebuah jembatan yang dikenal dengan nama Jembatan Berok. Sebutan ini muncul karena masyarakat setempat sulit untuk mengucapkan kata ‘burg’ yang artinya adalah jembatan.
Kini sebagian besar bangunan di kawasan kota tua sudah berhasil di restorasi, namun masih ada bagian yang belum mendapat sentuhan entah karena kerusakannya sudah sangat parah atau karena persoalan lainnya. Di salah satu sisinya juga masih terlihat adanya ‘penghuni liar’ yang belum berhasil ditata.
Namun penampilannya sudah jauh dari kata kusam dan suram.
Dua tahun setelah diresmikan revitalisasinya, saya masih melihat keramaian kota tua sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kota Semarang. Namun kebanyakan yang datang lebih memilih untuk berjalan keliling sambil berfoto-foto ketimbang menyambangi pusat UMKM, Creative Hub, Galeri dan lainnya.
Dan nampaknya revitalisasi kota tua memang mengabdi kepada kepentingan wisata visual, kegemaran masyarakat untuk bergaya dengan berfoto-foto di obyek yang instagramable.
Perubahan wajah kota tua yang kusam hingga kembali menjadi cerah tak lepas dari Hendrar Prihadi, walikota Semarang yang setelah terpilih kemudian menandatangani komitmen yang disebut Piagam Komitmen Kota Pusaka. Piagam itu berisi niat untuk mengajak semua pihak menyelamatkan kawasan kota tua.
Revitalisasi yang telah berhasil dilaksanakan adalah revitalisasi tahap yang pertama dan akan diteruskan pada tahap yang kedua.
Meski demikian ada beberapa catatan terkait dengan revitalisasi dimana nilai-nilai konservasi kurang dihormati. Bangunan tua di kota tua Semarang ternyata bukan hanya dipulihkan ke kondisi aslinya melainkan juga dipoles disana-sini. Bahkan bisa jadi berlebihan demi menampilkan keindahan atau beautifikasi.
Wajah jalanannya kemudian ditambahkan dengan berbagai ornament termasuk tiang-tiang lampu yang jelas tidak bergaya Indis, melainkan bergaya Victoria ala Inggris. Gaya Inggris bahkan semakin kuat dengan kehadiran bilik telepon merah di beberapa titik yang difungsikan sebagai tempat untuk mengisi ulang baterei handphone.
Adalah penting untuk mengembalikan kawasan tua, kawasan yang penuh sejarah menjadi ruang yang akrab dengan publik. Namun terlalu mengabdi kepada turisme bisa membuat revitalisasi dan konservasi bangunan warisan sejarah menjadi taman rekreasi yang penuh warna-warni ala Disneyland.








