“Lewat Wates atau Nanggulan Mas?”
Pertanyaan bernada pilihan itu selalu saya sukai apabila dilontarkan oleh sopir taksi online yang nyangkut pada panggilan aplikasi ride hailing. Dan saya akan segera menjawab “Lewat Nanggulan Pak,”
Ada banyak jalan untuk menuju Purworejo dari Yogyakarta. Yang paling mainstreams adalah lewat Wates, Kulonprogo. Jalur yang akan melewati jalan menuju Bandara YIA yang berada di Kecamatan Temon, Kulongprogo.
Jalannya lebih lebar dan mulus namun ramai karena merupakan jalur utama kendaraan angkutan penumpang antar provinsi dan kabupaten. Jalur ini kerap dinamai sebagai jalur selatan.
Namun sebagai generasi yang masih mencandui nostalgia, maka jalur Nanggulan yang akan melewati Jalan Raya Kaligesing jelas lebih menarik untuk saya.
Secara obyektif pemandangannya memang akan lebih menarik karena akan menaiki dan menuruni perbukitan Menoreh sisi selatan bagian barat. Menanjak dari wilayah Yogyakarta dan berpuncak di perbatasan Provinsi DIY – Jawa Tengah kemudian menurun untuk menuju Purworejo.
Jaraknya juga akan terasa lebih pendek pun dengan waktu tempuh karena tidak akan diganggu oleh kemacetan lalu lintas di sepanjang jalan. Terkecuali jika ada pohon tumbang atau sisi jalan yang longsor.
Di luar itu, saya lebih memilih jalur ini untuk memelihara memori lama, ingatan lampau, nostalgia di masa kecil dulu. Jalan Raya Kaligesing adalah jalur yang biasa saya lewati saat liburan, masa ketika saya biasa pergi berlibur ke rumah nenek, pak de dan pak lik. Pergi ke gunung begitu dulu saya menyebutnya.
Awalnya kendaraan umum hanya sampai di depan Kantor Kecamatan Kaligesing, sehingga perjalanan ke gunung mesti ditempuh dengan jalan kaki, terus menanjak melewati jalan yang diperkeras dengan bongkahan batu-batu gunung.
Ada beberapa tempat yang menjadi persinggahan favorit saat itu. Yang pertama adalah tempat penyulingan daun cengkeh. Disana ada bak tempat penampungan limbah sulingan yang airnya masih terasa hangat dan wangi jika dioleskan di kaki.
Sedangkan yang kedua adalah warung pinggir jalan, warungnya Mbah Tilah yang berada di tanjakan menuju Kalikotak. Setiap kali habis singgah di warung Mbah Tilah, hati kembali terasa bersemangat untuk mengayun kaki. Tujuan terasa sudah lebih dekat.
Kelak ketika jalan sudah diaspal, perjalanan menuju rumah nenek, pak de dan pak lik bisa ditempuh dengan kendaraan umum. Kendaraan yang melayani jalur itu adalah colt yang mangkal di dekat perempatan pantok dan belakang pasar Baledono. Kendaraan akan berangkat jika sudah penuh dan menunggu penuh butuh kesabaran tersendiri.
BACA JUGA : Meneroka Ekosistem Generasi Cashless dan Useless
Dulu istilah gunung identik dengan ketertinggalan, ketiadaan infrastruktur, udik dan seterusnya. Disebut sebagai ‘wong gunung’ akan terasa sebagai sebutan yang lebih merendahkan ketimbang membanggakan.
Namun kini lain ceritanya, daerah yang disebut sebagai gunung itu berkembang menjadi destinasi, tempat orang melepas penat, melihat keindahan alam dan menikmati aliran air jernih nan gemericik serta keindahan-keindahan lainnya.
Jalan Raya Kaligesing yang menghubungkan wilayah Kulon Progo di Daerah Istimewa Yogyakarta dan wilayah Purworejo di Jawa Tengah adalah jalur yang kaya dengan destinasi wisata baik wisata buatan maupun wisata alam.
Tak lama setelah melewati perempatan lalu lintas Nanggulan di sisi jalan akan plang nama Geblek Pari. Geblek bukanlah umpatan yang artinya bodoh sekali melainkan sebutan untuk makanan khas yang dikenal di sekitar Kulon Progo dan Purworejo. Geblek terbuat dari pati singkong yang kemudian digoreng seperti Cireng.
Dibuat dari campuran kanji, garam, bawang putih dan parutan kelapa, Geblek terasa gurih, asin dan kenyal saat dikunyah hangat-hangat. Begitu dingin Geblek akan terasa alot.
Geblek Pari adalah salah satu resto, kedai atau kafe yang berada di Jalan Raya Kaligesing yang menyajikan menu makanan ‘ndeso’ atau rumahan di pinggir persawahan dengan latar belakang perbukitan.
Memadukan corak outdoor dan indoor, tradisional dan modern, resto semacam ini sampai sekarang masih terus tumbuh dan dibangun di sepanjang Jalan Raya Kaligesing terutama yang berada di wilayah Yogyakarta.
Dan pada beberapa titik perbukitan yang berhutan dengan tutupan pohon pinus dan lainnya juga dibangun tempat singgah berupa taman dengan aneka permainan yang cocok untuk berfoto. Lokasi-lokasi yang instagramable bertaburan di sepanjang jalur ini.
Menilik dari nama-nama daerah yang dilewati di sepanjang Jalan Raya Kaligesing akan kelihatan bahwa wilayah ini memang dekat dengan air. Ada daerah bernama Tlagaguwo, Tuksanga, Banyuganti, Kaligono, Kalikotak dan lainnya.
Wisata air berupa air terjun atau curug jumlahnya puluhan di sepanjang jalur ini. Ada juga embung dan waduk.
Dan tentu saja ada banyak gua, yang terkenal adalah Gua Kiskendo yang didalamnya ada sungai bawah tanah dan Gua Seplawan tempat ditemukan patung emas berbentuk sepasang pengantin.
Ada juga gua alam yang kemudian dirubah menjadi Gua Maria, sehingga menjadi destinasi wisata rohani untuk umat Katolik. Gua Maria itu disebut Gua Lawangsih karena dulunya merupakan gua tempat bersarang kelelawar {lawa}.
Banyaknya sumber air di kawasan ini kemudian membentuk anak-anak sungai dan sungai yang jernih, berundak-undak dan berkelok-kelok. Air sungainya jernih karena dipenuhi bebatuan, bahkan lantai sungainya adalah batu. Yang pada bagian-bagian tertentu tergerus sehingga membentuk kedung layaknya kolam hingga kedalaman 3 meter.
Di wilayah Kulonprogo lokasi wisata sungai yang terkenal adalah Sungai Mudal, sedangkan di wilayah Purworejo, wisata sungai yang ternama adalah Taman Sidandang.
BACA JUGA : Selasar Malioboro
Cara terbaik untuk menikmati keindahan khayangan Menoreh adalah dengan kendaraan roda dua karena gerak akan menjadi lebih fleksibel. Namun perlu dipastikan kondisi mesin kendaraan harus prima dan remnya pakem.
Sayangnya perjalanan saya dari Yogyakarta ke Purworejo lewat Nanggulan atau Jalan Raya Kaligesing memakai taksi online sehingga tak elok untuk singgah-singgah.
Saya hanya bisa menikmati pemandangan dan perkembangan dari balik jendela sambil berbincang dengan sopir yang ternyata akrab dengan jalur ini.
Dan ketika memasuki Desa Pandanrejo, ingatan saya kembali melayang pada masa puluhan tahun lalu. Di desa itu salah satu Pak De saya tinggal. Dan setiap hari raya lebaran saya dan saudara sepupu lainnya akan berkunjung ke sana. Pak De biasanya akan menyembelih kambing untuk merayakan hari lebaran.
Di halaman rumahnya yang luas, ada kandang ayam hutan yang jantannya rajin berkokok. Dan juga berdiri patung megah kambing etawa. Pandanrejo dan desa-desa lainnya di Kecamatan Kaligesing memang dikenal sebagai sentra pengembangan kambing PE atau peranakan etawa.
Kini wajah Desa Pandanrejo berubah banyak. Desa ini akhir tahun lalu memperoleh penghargaan peringkat kedua sebagai desa wisata rintisan terbaik di Indonesia. Pandanrejo sebagaimana banyak desa di kawasan perbukitan Menoreh mengembangkan dirinya menjadi Desa Wisata.
Selain kambing Etawa yang menjadi andalan dari wisata Desa Pandanrejo adalah perbukitan yang disebut Gunung Gajah. Dari gardu pandang di bukit ini jika udara cerah dan langit terang akan bisa dilihat dari kejauhan megahnya Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro dan Gunung Slamet.
Selain gunung atau bukit Gajah ada juga gunung Sebutrong. Perbukitan yang mempunyai banyak lubang di bebatuan. Dulunya lubang-lubang itu adalah tempat landak bersarang, makanya disebut sebagai rong atau lubang sarang.
Di desa Pandanrejo juga bisa disaksikan tarian mirip kuda lumping yang dinamakan Incling Wedus. Gerakannya mirip dengan jaranan namun kostumnya berbeda karena lebih menyerupai kambing. Tarian ini memang berkembang karena kedekatan masyarakat Kaligesing dengan kambing.
Ketika sampai di Purworejo, saya berniat untuk menyusuri kembali sebagian Jalan Raya Kaligesing dengan sepeda motor pinjaman. Namun sayang cuaca selama saya berada di Purworejo tidak begitu bersahabat. Di sela panas yang menyengat tiba-tiba meredup, mendung dan hujan bertahan lama.
Saya mesti menyimpan keinginan itu dan menunda mewujudkannya mungkin saja hingga tahun depan sembari menguji keberlanjutan berbagai macam destinasi apakah tetap terus bertahan dan berkembang atau hanya viral sesaat.








