Bulan lalu saya mendapat pemberitahuan yang sekaligus merupakan ajakan mengikuti kegiatan berupa kunjungan pada creative space di Jakarta, Depok dan Bandung.

Hasil bacaan terhadap lokasi-lokasi yang hendak dikunjungi menunjukkan bahwa di tempat itu telah sepenuhnya ditetapkan sebagai ekosistem non tunai. Berapapun transaksinya semua akan diberlakukan melalui pembayaran non tunai, entah lewat kartu debet, kartu kredit, e wallet, e money dan lainnya.

Meski memahami dan mengikuti perkembangan finansial technology namun dalam kegiatan sehari-hari saya masih mengandalkan pembayaran tunai. Maklum saja saya adalah produk generasi yang mengukur seberapa punya uang lewat tebal tipisnya dompet.

Bagi generasi saya, seseorang dianggap punya uang jika dompetnya tebal. Hingga tak sedikit yang sengaja menebalkan dompet dengan lipatan  kertas agar saku belakang kelihatan tonjolan dompetnya.

Seminggu sebelum kerangkatan saya mendownload dan menginstall salah satu aplikasi fintech dari sebuah bank. Pemilihan banknya berdasarkan rekening tabungan yang saya punya dan  kebetulan banknya memang sedang gencar-gencarnya mempromosikan aplikasi fintechnya.

Dan tak butuh waktu lama, aplikasi itu telah tervalidasi dan kemudian terhubung dengan kartu debet sehingga kebutuhan untuk transfer, menarik uang tunai, pembayaran dan top up berbagai kebutuhan bisa dilakukan lewat aplikasi tersebut.

Aplikasi yang telah dilengkapi dengan QRIS atau Quick Response Indonesia Standard memungkinkan untuk melakukan aneka pembayaran lewat satu QR code.

Dan memang benar adanya, kawasan M Bloc di Jakarta dan Hallway di Bandung ternyata telah sepenuhnya menerapkan transaksi non tunai. Para merchant disana tak sudi lagi menerima uang kertas dan koin. Tidak ada batasan besaran transaksi atau biasa disebut transaksi minimal untuk pemberlakukan transaksi non tunai.

Lazimnya di beberapa tempat yang menyediakan transaksi non tunai, pemakaian alat bayar non tunai biasanya mengisyaratkan minimal belanja yakni 100 ribu.

Di negeri kita memang suka sekali menerapkan syarat-syarat minimal, seperti para perokok di Bandar Udara yang bisa mengakses ruang rokok di resto dengan syarat minimal belanja 50 ribu.

Aturan yang sama sekali tidak ilmiah dan tak berniat untuk ramah pada konsumen atau pengguna.

Dan akhirnya meski belum terlalu fasih menggunakan fintech untuk melakukan transaksi pembayaran pada akhirnya saya tak jadi malu hati ketika pingin mencicipi segelas kopi di M Bloc dan Hallway. Saya tak perlu membayar dengan mengeluarkan dompet, cukup membuka aplikasi dan memencet pemindai QRIS yang setelah terhubung dengan akun merchant tinggal diisi jumlah pembayaran yang disebutkan oleh kasir.

BACA JUGA : Selasar Malioboro

Generasi seumuran saya memang merupakan generasi digital migrant, sehingga meski doyan dan aktif memakai gadget serta aplikasi berbasis internet tetap saja masih membawa DNA analog yang mengagungkan sejarah kelampauan.

Sejarah bagi saya dan rekan segenerasi adalah kisah tentang masa lalu, yang kerap kali diglorifikasi sebagai lebih baik dari jaman kini. Saya menyukai nostalgia, keinginan untuk selalu nyaman dalam kondisi masa lalu.

Maka buat saya sungguh tidak mudah untuk berpindah dari satu moda ke moda lainnya, yang saat ini bergerak dengan cepat.

Lain halnya dengan anak-anak jaman sekarang yang terlahir sebagai digital native. Berhadapan dengan semua kemajuan dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi seperti tidak mengalami halangan untuk memasukinya. Mereka seolah langsung paham dibandingkan dengan orang tuanya yang kadang enggan belajar.

Ingatan anak muda jaman sekarang terhadap masa lampau memang lebih pendek. Mereka lebih menjalani hidup hari ini untuk membuat cerita tentang besok.

Maka selain tumbuh sebagai digital native, anak-anak masa kini juga berkembang sebagai generasi cashless, generasi yang tak terbiasa lagi menenteng dompet kemana-mana sebab uang ada di e wallet gadget mereka.

Sejak beberapa tahun lalu sebenarnya saya sudah merasakan upaya untuk mewujudkan masyarakat cashless. Pada beberapa pameran atau expo, transaksinya dilakukan dengan e-money yang dikeluarkan oleh lembaga keuangan tertentu.

Hanya saja belum nampak kerelaan dan kesukaan masyarakat pengunjung untuk memakainya.

Lain cerita dengan yang diterapkan di kawasan M Bloc dan Hallway dimana transaksi non tunai adalah sebuah ekosistem dan bukan event. Kebijakan ini menghasilkan pembiasaan, sehingga siapapun yang kesana kemudian akan mengikuti jika tak ingin kelaparan atau kehausan.

Penerapan ekosistem cashless memang membawa keuntungan baik bagi penjual maupun pembeli. Keduanya sama-sama aman karena uangnya sulit dirampok atau dicuri. Transaksinya juga akan selalu clear, karena pembeli tak perlu menunggu angsuran dan penjual mencari uang kecil untuk memberi pengembalian.

Transaksi menggunakan uang non tunai juga akan tercatat, baik penjual maupun pembeli bisa melakukan analisa terhadap arus keuangannya.

Hanya saja untuk pembeli, model pembayaran non tunai memang agak berbahaya utamanya untuk yang pemboros. Sebab yang dipencet hanya angka, beda dengan ketika memakai uang tunai. Membayar 1 juta dengan uang tunai akan terasa berbeda dengan mengetik angka 1 juta di keyboard gadget.

Membeli dengan moda non tunai tidak terasa mahalnya karena tinggal pencet.

BACA JUGA : Thrifting Ala Pasar Lilin dan Pasar Senthir 

Setelah mengunjungi creative space di Jakarta dan Bandung, saya kemudian pergi ke Yogyakarta. Yogya nampaknya sudah mulai ramai namun belum benar-benar pulih seperti sediakala.

Pagi dan siang di Yogyakarta terasa panas cetar membahana, namun sore hari biasanya akan hujan. Saat hujan merupakan kesempatan terbaik untuk nongkrong, duduk-duduk menikmati minuman panas dan camilan yang renyah.

Malam pertama di Yogyakarta, saya memilih njagong di sebuah kedai kopi yang terletak di pojokan perempatan Tugu Mangkubumi. Duduk di terasnya dengan mudah saya menyaksikan lalu lalang lalulintas di jalanan beserta tingkah polah para pengendaranya.

Sekitar jam sembilan malam saya mulai duduk di teras kedai kopi yang ramai dikunjungi anak-anak muda. Jalanan masih ramai dan kemudian semakin ramai dengan kehadiran rombongan supporter bola yang membawa bendera berkonvoi. Mulanya jumlahnya puluhan, namun lama kelamaan dari berbagai penjuru datang rombongan lainnya. Dan mereka mulai bergabung sehingga membentuk konvoi panjang.

Mereka ternyata supporter dari Perserikatan Sepakbola Indonesia Mataram yang pada hari merayakan kemenangan 1 – 0 melawan Sulut United.

Namun konon konvoy tidak hanya terjadi saat PSIM meraih kemenangan, kalahpun para supporternya tetap akan berkonvoy. Dan kadang akan berakhir dengan keributan jika lawan tandingnya adalah klub sepakbola daerah tetangga seperti Solo, Sleman atau Kulonprogo.

Rombongan supporter dalam jumlah besar dengan tiang-tiang bambu untuk mengibarkan bendera jelas akan rawan jika bertemu dengan rombongan supporter lainnya.

Meski selama beberapa jam perempatan Tugu terasa ramai mencekam akibat konvoi supporter yang terus menjadikan daerah perempatan sebagai tempat bertemu, namun tidak terjadi kericuhan, sebab klub lawannya berasal dari luar pulau.

Meski begitu saya malam itu menyaksikan wajah lain dari kota Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai kota pelajar, kota kreatif dan kota pariwisata. Ternyata Yogyakarta juga menyimpan sekelompok supporter yang garang.

Sebagian dari mereka yang ikut konvoy sambil mengibar-ngibarkan bendera, berteriak, mengeber-ngeber suara motor adalah anak-anak muda bahkan tak sedikit yang masih terlihat berkategori bocah.

Sulit bagi saya untuk memahami bagaimana mereka bisa mempunyai energi selama berjam-jam berkeliling kota tanpa tujuan yang nyata. Namun sekaligus saya juga kagum atas eforianya.

Waktu mendekati jam 01.00 dinihari dan kopi sudah tandas disesap. Saatnya melangkahkah kaki menuju penginapan untuk merebahkan badan di peraduan.

Meski sudah melampaui hari namun ternyata rombongan konvoy supporter belum usai. Masih tersisa beberapa kelompok yang terus mengitari jalanan. Sambil menyeberangi jalan yang mulai sepi, saya membatin “Semoga kalian bukan merupakan gambaran dari generasi useless,”