Rerata manusia hanya menggunakan kemampuan otaknya 10 persen. Keyakinan ini dipompakan oleh berbagai motivator di tahun 1990-an. Bergaung melalui berbagai seminar dan buku-buku yang ternyata laris di pasaran. Sebagian besar dilabeli dengan best seller.
Albert Einstein dan para jenius lainnya kerap dijadikan contoh sebagai manusia yang mampu mengefektikan 100 persen kemampuan otaknya. Berhasil melatih entah dengan senam otak atau apapun sehingga otak digunakan yang digunakan maksimal akan mengantar pada kemampuan manusia tanpa batas.
Entah darimana asalnya mitos atau legenda 10 persen ini. Keyakinan yang diimani sebagai kebenaran ini bisa jadi berasal dari dunia psikologi. Psikolog Amerika Serikat William James dalam buku The Energies of Men menuliskan bahwa manusia hanya menggunakan sedikit dari sumber daya fisik dan mental yang ada.
Apa yang dikemukakan James benar, sebab ada banyak orang bermalas-malasan, menunda-nunda pekerja atau kewajiban. Namun adalah salah bila malas atau menunda-nunda aktivitas dianggap sebagai kerja otak hanya 10 persen.
Pandangan bahwa otak hanya dipakai 10 persen merupakan pandangan yang bias moral perihal bagaimana seharusnya otak bekerja. Pandangan ini tidak didasari atas pengetahuan yang valid soal bagaimana otak bekerja.
Penganut faham otak 10 persen ini bukanlah ilmuwan ilmu alam, melainkan ilmu campuran yang mendasarkan dalil bukan pada pengamatan pada otak melainkan pada pengamatan atas perilaku dari luar.
Mungkin ada yang protes sebab ada banyak dokter yang mempercayai hal itu. Ya yang salah pun bisa dipercayai sebagai benar, yang tidak ada juga bisa dipercayai sebagai ada. Dan ingat kedokteran bukan ilmu alam, bukan ilmu pasti. Kedokteran adalah ilmu biologi yang dipadukan dengan moralitas tertentu. Ilmu biologi yang masih diselimuti oleh pengaruh filsafat.
Senyatanya otak manusia sejak semula bekerja 100 persen meski tidak seluruh bagian otak bekerja bersama selama 24 jam.
Pada saat tidur sebagian dari bagian otak memang tidak bekerja. Dan ketika terbangun namun sebagian belum bekerja maka mata terbuka namun badan tidak bisa bergerak, ada bagian yang terlambat bekerja sehingga mengalami ‘ketindihan’.
Andai ada bagian otak yang tidak bekerja atau otak tak bekerja 100 persen maka manusia yang berotak itu akan mengalami gangguan. Manusia bisa lumpuh, tidak bisa bicara, tidak bisa mendengar dan lainnya.
Kepandaian atau kepintaran tidak berhubungan dengan otak digunakan atau tidak. Maka tidak benar anggapan yang mengatakan kalau Einstein bisa maka saya juga bisa.
Banyak orang kerap menghardik orang lainnya dengan mengatakan “Pakai otakmu,”. Umpatan itu tidak membuktikan bahwa orang yang bikin jengkel itu tidak memakai otaknya secara penuh. Yang menyebabkan seseorang mengatakan kepada orang lain untuk memakai otaknya pasti bermuasal dari perbedaan cara pikir.
Yang satu memakai otak rasional sementara yang lain memakai otak emosional. Sehingga yang memakai otak rasional menganggap yang memakai otak emosional sebagai tidak bernalar, yang secara serampangan kemudian diterjemahkan sebagai tidak memakai otak.
Pandangan bahwa otak manusia rerata dipakai hanya 10 persen bermula pada keyakinan yang salah bahwa manusia adalah rasional dan otak dianggap sebagai pusat rasionalitas. Padahal otak sebenarnya juga mempunyai bagian irasionalitas, bagian emosional.
BACA JUGA : Covid 19 Bukan Malaikat Pencabut Nyawa Garuda
Ilmu tentang otak berkembang belum lama, bermula dari sekitar tahun 60-an setelah konsepsi Alan Turing yang disebut “Mesin Universal Turing’ terwujud sebagai komputer digital.
Yang disebut dengan mesin universal adalah perangkat yang mampu membaca rangkaian angka biner {0 dan 1} yang akan menguraikan masalah matematika sekaligus memberi jawaban yang dibutuhkan. Mesin ini akan menghitung apa saja yang bisa dihitung.
Temuan Alan Turing ini kemudian merubah algoritma lama yaitu proses perhitungan mekanik menjadi digital. Dengan algoritma ini kemudian lahirlah komputer yang dilengkapi dengan perangkat lunak, perangkat yang mampu bekerja sendiri atau mempunyai kecerdasan buatan.
Cara kerja komputer ini kemudian ‘menginspirasi’ para ilmuwan ilmu alam terutama biologi. Mereka menemukan bahwa cara kerja komputer seperti mengambarkan cara kerja otak meski tak persis sama.
Fase baru membedah realitas otak kemudian berkembang meninggalkan fase lama yang mendasarkan pemahaman dan pengetahuan tentang otak pada pemikiran filosofis, religius dan mitos-mitos pra filosofi serta agama.
Hanya saja para penekun neurosains tidak semuanya berlatar hard science sehingga teori-teori neurosains yang berkembang hingga sekarang juga masih diwarnai oleh pemikiran-pemikiran non ilmu alam.
Berkembang banyak pemikiran tentang otak yang dikategorikan sebagai pseudo science. Salah satu yang kemudian menjadi terkenal dalam dunia pendidikan anak adalah aktivasi otak tengah.
Dalam tawaran programnya yang tentu ditujukan pada orang tua yang ingin anaknya menjadi jenius {tentu saja dengan membayar} diterangkan bahwa anak-anak yang otak tengahnya diaktivasi akan bertumbuh menjadi anak yang luar biasa.
Iklan yang dilengkapi dengan video anak-anak dengan kemampuan luar biasa setelah mengikuti aktivasi otak tengah tentu membuat banyak orang tua menjadi tertarik. Video anak yang ditutup matanya namun mampu mengurutkan kartu remi secara benar membuat pertunjukan para master sulap menjadi tak menarik lagi.
Para pengusung metode ini mampu menjelaskan kepada masyarakat awam secara menyakinkan dengan menyertakan gambar-gambar bagian otak dan berbagai istilah berkaitan dengan otak. Menjelaskan dengan cara seperti ini dimata orang awam akan dianggap ilmiah.
Namun benarkah otak tengah adalah otak penghubung antara otak kiri dan kanan sehingga jika diaktivasi maka akan dengan cepat mengakses memori atau kemampuan otak kanan dan otak kiri sekaligus.
Pun juga benarkah bahwa otak kanan identik dengan hal-hal yang bersifat kreatif dan artistik, sementara otak kiri cenderung bersifat logis dan analitis?.
Keyakinan semacam ini ternyata klaim spekulatif. Belum ada penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa otak manusia hanya didominasi oleh salah satu bagian otak. Meski ada pusat-pusat untuk fungsi tertentu namun cara kerja otak selalu merupakan hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.
Maka tidaklah benar jika kemudian seseorang yang sangat artistik sama dengan orang yang hanya mengefektifkan bagian otak tertentu dan mengistirahatkan atau menyia-nyiakan bagian otak lainnya.
BACA JUGA : Penderitaan Yang Disengaja
Kabut pemahaman soal otak terjadi karena pemahaman tentang otak dipengaruhi oleh berbagai ilmu yang bukan sains. Mulai dari filsafat, psikologi hingga kedokteran, ditambah dengan pandangan atau ‘ilmu’ yang berbasis agama, teologi, moral dan seterusnya.
Kabut itu adalah tentang nyawa.
Pendekatan terhadap otak dalam ilmu-ilmu non sains itu masih mengandaikan bahwa manusia punya nyawa.
Sementara dalam biologi istilah nyawa tidak dikenal. Jika nyawa adalah hidup atau kehidupan maka nyawa adalah representasi dari kerjasama antar organ di dalam sebuah tubuh. Jika kerjasamanya baik maka akan hidup, jika tak lagi bekerjasama maka akan mati. Mati bukan merupakan peristiwa nyawa keluar atau dicabut dari tubuh melainkan karena ‘gagal fungsi’ dari kerjasama antar organ dalam tubuh.
Sains secara tegas mengatakan bahwa nyawa tidak ada. Dasarnya adalah apa yang tidak bisa dibuktikan keberadaan maka tidak ada. Meski demikian sains mengakui bahwa manusia memang bisa ‘melihat’ apa yang tidak ada dan kemudian mempercayai sebagai ada.
Dan dalam kehidupan manusia sains bukanlah satu-satunya sistem pengetahuan, karena ada banyak sistem pengetahuan lainnya. Maka tidak mempercayai sains juga bukan masalah sebab terbukti manusia tetap bisa hidup, senang, bahagia dan bertumbuh tanpa sains dalam waktu yang sangat lama.
Ratusan ribu tahun manusia hidup dan berkembang dalam sistem pengetahuan yang berbasis pada kekuasaan. Entah kekuasaan tradisi, adat, aristokrasi, teologi dan lainnya.
Dulu yang disebut sebagai kaum cerdik pandai, sumber pengetahuan dan tempat bertanya untuk mendapat jawaban adalah kepala suku, raja, pemuka agama dan dukun. Tak heran jika kemudian sampai sekarang dukun masih sering disebut sebagai ‘orang pintar’.
Dan terbukti mereka yang kerap disebut sebagai orang pintar dalam terminologi modern yaitu kaum terpelajar, seperti para sarjana, magister dan doktor ternyata juga tak sedikit yang masih percaya dan kemudian tertipu oleh persona dukun. Bukan sesuatu yang mengherankan jika seorang doktor sekalipun bisa percaya untuk menggandakan kekayaan {uang} lewat seorang dukun.
Semua realitas ini membuktikan bahwa manusia tidak selalu percaya dan hidup berdasarkan pengetahuan ilmiah. Dan itu tidak masalah, sebab bukankah ribuan tahun manusia percaya bumi itu datar bukan bulat bundar. Setelah itu percaya bahwa matahari mengelilingi bumi bukan bumi mengelilingi matahari.
Kepercayaan yang ternyata salah toh tidak membuat masalah. Bumi dan manusia baik-baik saja pada waktu itu.
Tidak seperti ilmu lainnya, sains memang tidak terobsesi dengan kebenaran. Sains hanya bertugas untuk menjelaskan sebuah fenomena agar menjadi terang dengan bukti-bukti yang bisa diketemukan.
Meski sederhana namun cara kerja sains tidaklah sederhana untuk mendapat kebenaran.
Padahal manusia kerap kali butuh kebenaran dengan cara yang cepat. Maka siapa dan apapun yang bisa dengan cepat memenuhi kebutuhan manusia akan kebenaran kemudian yang akan diyakini. Dengan demikian kebenaran manusiawi adalah sesuatu yang diyakini oleh kebanyakan orang sebagai benar, bukan benar pada dirinya sendiri.
Disitulah keterbatasan spesies manusia yang disebut sebagai homo sapiens ini.








