Jam sudah menunjukkan duabelas tengah malam lewat namun mata sulit untuk dipejamkan. Sepertinya kantuk belum juga datang.
Mungkin karena pengaruh kopi, sebab sebelum mapan ke tempat tidur saya nonkrong di warung kopi dan mencicipi seduhan kopi Sindoro, Sunda Arum Manis dan Rancabali.
Nomong-ngomong kopi yang terakhir itu bukan berasal dari Bali, Rancabali adalah nama sebuah kecamatan hasil pemekaran dari Kecamatan Ciwidey di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Jadi Arum Manis dan Rancabali sama-sama kopi pasundan, kopi yang terkenal lembut.
Selain ketiga seduhan kopi itu diatas meja juga tersaji satu mok air kelapa yang manis. Paduan antara air kelapa dan seduhan kopi saya sebut sebagai coco coffee.
Karena gagal tidur, saya bangun kembali dan menghidupkan laptop untuk menonton youtube. Dan di kolom rekomandasi ada sebuah video dari channel mojokdotco berjudul ‘Temanku Lima Benua : Pelukis Cepat dengan Medium Arang dan Bungkus Pecel’.
Alamak, ternyata Temanku Lima Benua adalah seorang gadis yang belum berumur 20 tahun, dia adalah seorang perupa dari Klaten.
Oleh teman dan lingkungannya, dia biasa dipanggil dengan nama Liben, singkatan dari lima benua. Ketika ditanya oleh Puthut EA, kepala suku mojok, Liben menjawab namanya adalah doa agar mempunyai banyak teman dari seluruh penjuru dunia.
Video bincang-bincang antara Liben dan Puthut EA sepanjang satu jam kurang dua puluh delapan detik itu menghadirkan banyak kejutan untuk saya.
Jangankan saya yang menonton, Puthut EA yang mengunjungi dan mewawancarai saja tak bisa menyembunyikan ekpresi terkejut sekaligus kekaguman atas dinamika berkesenian Liben yang jelas-jelas diluar pakem untuk anak-anak seumurannya.
BACA JUGA : Cancel Culture
Liben memulai belajar menggambar sejak kecil. Yang mengajari adalah neneknya dan tanah halaman rumahnya adalah kanvasnya. Gambar dibuat dengan cara mengoreskan ranting diatas tanah, sehingga kalau tak suka atau salah tinggal dihapus dengan sapuan telapak kaki.
Kegemarannya corat-coret kemudian dilanjutkan saat menemani neneknya berjualan pecel di pasar. Mengisi waktu menunggu dagangan habis, Liben mulai mencorat-coret bungkus pecel sebagai medium untuk menggambar.
Diatas kertas bekas itu Liben akan mengambar figure-figur yang dilihat disekelilingnya, terutama orang yang membeli pecel. Liben mengambar sketsa wajah mereka dan yang dipakai untuk mengores rupa diatas kanvasnya adalah arang.
Belajar dari momentum kehadiran orang-orang yang membeli pecel neneknya, Liben kemudian mengasah diri menjadi seorang pelukis cepat. Pembeli akan segera beranjak dari depan dagangan neneknya kalau pecel yang akan dibelinya sudah terbungkus.
Kebiasaan Liben ini mulai dikenali oleh para pengunjung pasar. Dagangan neneknya menjadi ramai dan banyak pembeli ingin dilukis oleh Liben diatas kertas bungkus pecel. Kelak kebiasaan menggambar wajah pembeli dengan bungkus pecel mengantarnya berpameran di Senayan dan Museum Nasional.
Serius mengeluti arang, Liben semasa sekolah di tingkat SMP kemudian bersama teman-temannya melakukan riset untuk menemukan arang terbaik. Liben ingin arang yang dipakai untuk menggores permukaan kertas bukan hanya meninggalkan tanda melainkan juga tidak luntur. Arang yang menempel diatas media kertas.
Menurut ceritanya, Liben kemudian membuat arang dari kurang lebih 150 jenis pohon. Dan yang terbaik lalu dipakainya hingga sekarang adalah arang dari pohon mangga, namun batangnya yang dipakai adalah dahan atau ranting yang masih muda.
Arang lain yang menurutnya juga baik berasal dari ranting atau dahan pohon kersen dan anggur.
Terus menggambar dengan medium arang dan kertas bekas, Liben lama kelamaan dikenal sebagai pelukis cepat. Puan Maharani, Muhajir, Ganjar Pranowo dan Nadiem Makariem adalah tokoh-tokoh yang pernah dilukis olehnya.
Yang paling unik ketika Liben melukis wajah Jokowi. Liben menggoreskan arang sambil berjalan mundur. Mulanya niat untuk melukis wajah Jokowi dihalangi oleh Paspanpres, namun Liben ngotot dan mengatakan bahwa dulu sebelum ada kamera foto dan video, dokumentasi tokoh itu dilakukan dengan cara dilukis.
Paspanpres luluh dan Liben diijinkan melukis wajah Jokowi saat berjalan. Dan dengan berjalan mundur di depan Jokowi, Liben berhasil melukis wajah presiden. Reputasinya sebagai pelukis cepat memang terbukti dan lukisannya kemudian diterima serta dibawa oleh Jokowi.
Saat Puthut menanyakan dibayar berapa lukisannya dengan cepat Liben menjawab “Rata-rata 2 M.”.
Puthut EA tercenggang dan kemudian Liben meluruskan maksud 2 M yang artinya adalah “Makasih Mbak,”.
Sambil ngobrol, Puthut EA meminta Liben menggambar wajahnya. Dan dalam waktu sekitar dua setengah menit Liben menyelesaikannya.
BACA JUGA : Artivism – Seni dan Aktivisme
Saat ini Liben tercatat sebagai mahasiswi jurusan Tatakelola Seni di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Kesadaran kebudayaan dan tradisi membuat Liben memilih jurusan itu. Dia tak hanya memikirkan dirinya sendiri melainkan memikirkan seni dalam masyarakat dan juga pelaku seni tradisional maupun kontemporer lainnya.
Watak tata kelola seni memang sudah kelihatan dari kesehariannya. Liben menyulap lingkungan rumah tinggalnya menjadi Ruang Publik Lima Benua. Dibuatnya panggung in door dan outdoor serta ruang pamer yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja untuk menampilkan dan menunjukkan karyanya.
“Seni selain menghibur juga harus bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya.
Setiap bulannya pada tanggal 10, Liben akan mengumpulkan ibu-ibu dan anak-anak di desanya untuk membuat aneka karya dengan barang-barang bekas. Karya yang kemudian bisa dipakai untuk keperluan sehari-hari.
“Jangan menunggu punya uang untuk membeli sesuatu, buat saja dari apa yang tersedia di sekitar kita,” begitu alasannya.
Praktek tatakelola seni sudah dilakukan oleh Liben sebelum kuliah di jurusan itu. Saat kelas 10 {SMA}, Liben menginisiasi Klaten Biennale 2017. Festival ini ditujukan untuk para pelaku seni kontemporer di Klaten dan dirancang sebagai agenda dua tahunan sekali.
Dan kini Liben tengah mempersiapkan Klaten Bienalle yang ketiga dengan tema Eco Art. Tema ini muncul dari keprihatinannya atas kerusakan alam dan hutan di berbagai penjuru Indonesia yang berlangsung dengan sangat cepat.
Berbagai karya yang dibuat dari bahan-bahan bekas telah mulai dipersiapkan. Lingkungan sekitar rumah termasuk pinggir jalan telah dihiasi dengan elemen kayu, baik irisan kayu gelondongan maupun peti-peti kayu bekas kemasan buah.
Aneka bentuk kursi, meja dan patung yang terbuat dari logam rongsokan juga sudah dihasilkan oleh beberapa perupa.
Puthut EA, sempat menanyakan harga karya-karya itu.
Dan dengan cepat Liben menjawab harganya tergantung berapa kilo beratnya.
“Harus dijual dengan harga kiloan agar tidak kehilangan akar sejarahnya,” ujar Liben memberi alasan.
Yang dimaksud dengan akar sejarah adalah material itu dibeli secara kiloan di penjual barang rongsokan, maka juga harus dijual dengan harga kiloan.
“Yang beda harga kiloannya, kalau masih bahan dibeli dengan harga 5 ribu per kilo misalnya, nanti jalau jadi dijual dengan harga 50 ribu per kilo,” terang Liben.
Saat ditanya siapa sosok seniman yang dikagumi, Liben menjawab Heri Pemad.
“Apa karyanya?” tanya Puthut EA
“Art Jog,” jawab Liben cepat.
Puthut EA tercenggang, dia tak menyangka seorang yang masih berumur sangat muda mempunyai pandangan bahwa festival adalah sebuah karya.








