Ada cara pandang yang berbeda terhadap sebutan industri ekstraktif. Apapun yang disebut dengan pengambilan sumberdaya alam disebut sebagai industri ekstraktif.
Namun ada juga yang menyebut bahwa industri ekstraktif hanya meliputi penambangan migas, mineral dan batubara.
Pandangan yang terakhir ini yang kini umumnya dipakai.oleh beberapa institusi termasuk di dalamnya Bank Dunia.
Industri ekstraktif utamanya pertambangan mineral dan batubara dianggap sebagai yang paling merusak. Perubahan bentang alam terutama pada penambangan terbuka sulit atau bahkan mustahil dipulihkan.
Dalam banyak kajian, pertambangan mineral dan batubara juga menimbulkan berbagai ketimpangan. Dimana kemanfaatannya lebih banyak untuk kelompok masyarakat dari luar daerah yang ditambang. Sementara orang setempat yang kurang mendapat keuntungan justru menanggung resiko yang berkepanjangan
Sebagai industri yang padat modal perjalanan industri ekstraktif cukup panjang. Dimulai dari eksplorasi, konstruksi, operasi dan pasca operasi.
Ketika ekplorasi biasanya sudah muncul geliat di masyarakat setempat. Ada mimpi dan janji bahwa daerahnya kelak akan berkembang menjadi daerah industri.
Dan ketika hasil dari eplorasi menunjukkan peluang ekonomi untuk dieksploitasi, maka industri ekstraktif akan memasuki tahapan konstruksi.
Biasa masyarakat setempat masih bisa terlibat dalam berbagai pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian. Mulai ada harapan terang
Namun paska rekonstruksi dan kemudian memasuki operasi umumnya masyarakat setempat akan tersingkir. Pekerjaan sudah memasuki tahapan keahlian tertentu yang umumnya susah dipenuhi oleh masyarakat setempat.
Namun untuk negara, kemanfaatan ekonomi dari operasi industri ekstraktif akan mulai masuk lewat penghasilan dari pajak dan penerimaan lain yang bukan pajak.
Adalah berbahaya membiarkan masyarakat merasa tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari operasi pertambangan. Maka industri akan melakukan distribusi manfaat kepada masyarakat lewat aktifitas tanggungjawab sosial.
Bentuknya bermacam-macam mulai dari pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sampai rangkaian kegiatan sosial karitatif pada kelompok rentan.
Fase bagi-bagi untung ini kemudian akan berakhir setelah paska operasi. Nilai atau manfaat ekonomi karena aktifitas industri akan jauh menyusut.
Apa yang kemudian ditinggalkan juga tak mempunyai nilai ekonomi yang berarti untuk masyarakat. Dan wilayahnyang tadinya ramai karena banyak pendatang kemudian ditinggalkan dan kembali menjadi sepi. Bahkan dalam beberapa kasus menjadi kota mati yang tak punya sumberdaya lain untuk bangkit.
Dan umumnya pada wilayah industri ekstraktif, pembangunan infrastruktur tidak terlalu menjadi perhatian pemerintah. Banyak hal dibangun oleh perusahaan sehingga ketika perusahaan tutup dan pergi, ongkosnyang ditanggung oleh pemerintah untuk pengembangan infrastruktur paska tambang menjadi sangat besar.
Beban pemerintah akan semakin besar ketika dampak lingkungan akibat operasi industri ekstraksi tidak ditangani secara baik oleh perusahaan ketika beroperasi.
-000-
Bicara soal dampak operasi industri ekstraktif sebenarnya tidak hanya akan mengenai masyarakat setempat atau komunitas lokal.
Kini kendali ijin yang berada di tingkat nasional dengan semua kerumitannya serta gejolak di daerah akan membuat pengusaha industri ekstraktif melakukan jalan pintas, menyuap atau mencari sekutu politik agar operasinya dipermudah.
Korupsi, pemerasaan, broker, kekerasan dan pencari untung lainnya adalah dampak lain yang lebih luas.
Berbagai macam pendapatan yang didapat oleh pejabat atau aparat lain membuat hidup mereka jadi aman sehingga tak memikirkan bagaimana industri lain dikembangkan.
Tak mengherankan jika kemudian pendapatan besar yang diperoleh dalam industri ekstraktif ternyata tidak meninggalkan bekas apa-apa. Pendapatan besar habis dibelanjakan untuk kepentingan rutin, keperluan konsumtif.
Ada banyak berita, laporan bahkan penelitian yang menyuarakan ketimpangan yang dialami masyarakat lokal atas operasi industri ekstraksi.
Namun masyarakat terutama masyarakat lokal selalu berada dalam kondisi paling lemah tanpa daya tawar untuk menyuarakan persoalan hidup mereka akibat operasi industri ekstraksi.
Negara atau pemerintah kerap lebih memilih berdiri disisi korporasi. Sehingga tak sedikit diantara warga yang kemudian dikriminalisasi dengan tuduhan menganggu kestabilan investasi.
Industri ekstraksi ibarat candu, meski butuh mobilisasi sumberdaya yang besar, cara kerja industri ini hanyalah panen. Mereka hanya mengambil, tanpa menanam, merawat dan memelihara.
Tak mengherankan jika keuntungannya besar walau kerusakan yang ditimbulkannya bersifat permanen.
Kemudahan ‘menghasilkan’ uang membuat industri ekstraktif melenakan bahkan mematikan kreatifitas untuk mengembangkan industri lain yang lebih berkelanjutan.
Puluhan tahun ekonomi berkelanjutan telah digaungkan. Dimana aspek berkelanjutannya bukan hanya soal pemasukan melainkan juga keberlanjutan masyarakat dan lingkungan.
Berbagai dokumen dihasilkan dan banyak deklarasi dilakukan untuk mengukuhkan langkah menuju ekonomi hijau. Pertumbuhan ekonomi yang rendah karbon.
Namun pada kenyataannya memang tak mudah lepas dari candu yang melenakan. Karena candu memang nikmat. Nikmat yang membutakan terhadap masa depan yang tidak berkelanjutan.







