“Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi ku tolong ibu, membersihkan tempat tidurku,”

Dulu lagu itu merupakan lagu wajib bagi anak-anak TK atau SD di kelas-kelas awal. Entahlah apakah lagu itu masih dinyanyikan oleh anak-anak TK dan SD saat ini.

Syair itu menunjukkan bahwa begitu bangun bagi kita akan segera bersentuhan dengan air. Baik untuk bersih-bersih diri hingga kemudian mengisi perut untuk bekal aktivitas selanjutnya.

Selain selalu butuh air, komponen penting dan utama dari tubuh kita juga berupa air. Oleh karena itu kita selalu butuh minum karena kita akan kehilangan air dalam tubuh melalui berbagai proses biologi seperti berkeringat dan membuang kotoran {buang air}.

Untuk urusan air bersih nampaknya orang kota lebih mudah dari kebanyakan orang desa. Di kota air dialirkan lewat pipa-pipa menuju rumah. Tinggal membuka kran dan air akan mengucur. Sementara di desa air mesti ditimba dari sumur, disedot dari sungai atau dipikul dari mata air.

Orang kota sakit kepala jika tak punya uang untuk membeli air, orang desa pusing tujuh keliling jika mata air mengering, sungai surut dan sumur tak berair.

Karena perbedaan soal hubungan dengan air, orang desa umumnya masih punya kesadaran untuk menjaga sumber air dan menghormati air jauh lebih baik dari orang kota. Salah satunya yang paling terlihat adalah perlakuan pada air hujan.

Diperdesaan umumnya rumah diberi talang dan di bawah pancuran talang disediakan wadah untuk menampung air hujan. Anak-anak desa juga suka mandi di air hujan. Sementara di kota air hujan cenderung dibuang. Bahkan halaman disemen agar tidak becek. Anak kota nanti bersentuhan dengan air hujan jika permukimannya kebanjiran.

Menanam dan Panen Air Hujan

Sesungguhnya air hujan adalah sumber terbesar untuk kebutuhan air bersih kita. Mungkin memang tidak secara langsung melainkan dipanen lewat sungai, mata air, embung, danau  dan juga sumur. Sebagian lain terutama di daerah yang kekurangan air, biasanya air hujan dimanfaatkan secara langsung dengan cara ditampung.

Pada kondisi saat ini terutama di perkotaan memanfaatkan air hujan secara langsung memang agak berisiko. Karena pencemaran udara, hujan berpotensi membawa zat-zat yang berbahaya. Perlu strategi khusus untuk memanfaatkan air hujan secara langsung atau ada syarat-syarat tertentu yang mesti dipenuhi.

Namun sekali lagi, seperti apapun air hujan, tetap saja merupakan sumber utama untuk memenuhi kebutuhan air bersih kita. Oleh karenanya guna menjaga keberlangsungan sumber air bersih, hujan perlu ditanam sehingga nanti bisa dipanen.

Hujan kan bukan tumbuhan, kenapa mesti ditanam dan kemudian bisa dipanen?.

Yang disebut dengan menanam air hujan adalah meresapkan sebagian besar air hujan ke dalam tanah. Agar air hujan mengisi kantong air baik di lapisan permukaan dan lapisan dalam. Air yang bukan hanya perlu untuk kepentingan kita melainkan juga mahkluk lain terutama tumbuhan yang nanti akan menghisapnya lewat akar.

Banjir utamanya yang kemudian mengenangi daerah yang tidak dimaksudkan untuk digenangi  merupakan pertanda bahwa air permukaan {runoff} tinggi. Penyebabnya bisa karena tanah sudah jenuh dalam menyerap atau menyimpan air, bisa juga karena ruang resapan air atau tangkapan airnya berkurang dan bisa juga merupakan kombinasi keduanya.

Hanya rutinitas banjir setiap kali hujan lebih banyak disebabkan oleh berkurangnya ruang atau wilayah tangkapan air. Baik dalam bentuk lahan maupun badan-badan air lainnya, seperti rawa, sungai, embung dan danau yang mendangkal, menyempit atau bahkan hilang.

Sedangkan di kawasan permukiman, ruang resapan air juga berkurang karena hampir semua lahan mengalami perkerasan.

Lalu bagaimana kita bisa menangkap air baik untuk dimanfaatkan langsung maupun sebagai tabungan untuk menghadapi musim kemarau?

Menjaga, merawat dan memulihkan badan air menjadi langkah yang mendesak untuk dilakukan. Meski masalahnya sudah jelas hingga saat ini badan-badan air alami terus mengalami tekanan. Ruangnya masih saja dirampas untuk kepentingan yang tidak berkesesuaian dengan air.

Ketaatan pada kebijakan tata ruang dan tata wilayah juga mesti lebih dipertegas. Agar wilayah tangkapan atau resapan air tidak dialihfungsikan untuk kepentingan yang tidak ramah air.

Selain itu juga perlu dibangun embung dan polder untuk menampung serta menahan air limpasan baik secara permanen maupun untuk sementara. Taman dan hutan kota juga mesti dirancang sebagai taman atau hutan hujan, area yang sengaja disediakan untuk tergenang air saat musim hujan.

Air limpasan juga akan berkurang seandainya setiap rumah atau bangunan menampung air hujan lewat talang. Air hujan yang ditangkap oleh atap dialirkan ke dalam wadah-wadah atau bak penampung baik diatas maupun didalam tanah.

Pada permukiman atau infrastruktur lainnya yang lahannya bukan tanah urukan, bisa dikembangkan model biopori, sumur resapan atau sumur imbuhan untuk membantu meresapkan air ke dalam tanah.

Kebijakan untuk menampung air hujan misalnya harus menjadi syarat yang harus dipenuhi oleh para pengembang agar mendapat ijin untuk membangun kawasan perumahan.

Banjir pada dasarnya adalah cermin kesalahan kolektif meski tingkat kesalahannya tidak merata. Maka mengelola banjir hanya bersandar pada upaya pemerintah belaka akan sulit untuk membebaskan sebuah daerah dari bencana.

Upaya kolektif yang paling memungkinkan adalah menanam dan memanen air hujan. Selain bisa mengurangi resiko banjir,  juga merupakan antisipasi untuk menghadapi atau mencegah kekeringan.

Apapun upaya untuk mengatasi banjir jika tidak dilakukan sekaligus untuk mencegah kekeringan akan membuat tenaga, pikiran dan uang yang banyak menguap begitu saja.

Konsep menanam dan memanen air hujan ini sangat jelas diperlihatkan dalam konsep TRAP. Yang merupakan singkatan dari Tangkap, Resapkan, Alirkan dan Pelihara. Dalam konsep ini cara mengatasi atau mengendalikan banjir yang pertama bukan membuang air secepat mungkin ke laut melainkan justru menangkap air lewat berbagai cara, air yang tertangkap kemudian diresapkan atau disimpan, setelah itu air yang tersisa atau tidak tertampung lagi baru dialirkan. Dan terakhir adalah pelihara. Maksudnya adalah sarana pengaliran air baik yang buatan maupun yang alami harus dipelihara. Bukan dibiarkan begitu saja dan nanti baru direvitalisasi atau dinormalisasi ketika sudah bermasalah.

Jadi tidak apa-apa bermain dengan air hujan namun jangan sekali-kali main-main dengan air hujan. Sebab jika kita main-main dengan air hujan maka kita akan kebanjiran di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.

Sumber gambar : Marshall Williams – unsplash.com