Kurang lebih 30 tahun lalu, saya sempat mencicipi bangku kuliah. Empat tahunan berkutat di kelas filosofan. Mengenal dan mempelajari pemikiran kaum yang disebut filsuf dari berbagai jaman.
Yang tersisa di kepala adalah ingatan tentang beberapa nama filsuf, aliran pemikiran dan penggalan pokok pikiran yang popular. Banyak yang lainnya sudah menguap tanpa bekas. Tapi saya tak berkecil hari sebab nesehat seorang dosen yang sekarang sudah menjadi mahaguru filsafat mengatakan tidak usah pusing dengan apa itu filsafat, tapi jangan berhenti berfilsafat.
Dicontohkan olehnya, andai para filsuf yang dianggap sebagai kaum bijaksana itu dikumpulkan dan kemudian diminta memperdebatkan apa itu filsafat niscaya tidak akan ada kesepakatan. Bahkan kemungkinan besar malah terjadi keributan, bisa mengebrak meja dan saling lempar kursi.
Definisi yang kerap dipertontonkan oleh Rocky Gerung saat terlibat perdebatan di layar televisi sesungguhnya sangat dinamis. Sebab sebuah definisi selalu dirumuskan pada jaman, budaya, kecenderungan, pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Maka wajar jika kemudian terjadi kemajemukan. Definisi berguna untuk memberi batasan agar percakapan tak melebar kemana-mana seperti sulur batang ubi jalar.
Filsafat dalam pandangan umum memang rumit. Filsuf sering digambarkan sebagai orang yang aneh dan nyeleneh. Gambaran filsafat juga tak jauh dari silat lidah, filsuf dianggap sebagai orang yang pintar memutar-mutar kata.
Namun pada sisi yang lain filsuf juga kerap digambarkan sebagai orang yang bijaksana. Berkata-kata indah, pernyataannya berisi nasehat-nasehat dan keren untuk dipakai sebagai kutipan.
Namun benarkah filsafat sedemikian rumit dan juga agung?. Sebenarnya tidak, karena filsafat sejatinya sederhana dan berangkat dari hal sederhana pula, yakni realitas kehidupan sehari-hari. Inti dari filsafat adalah pertanyaan yang sederhana yakni apa itu realitas.
Ini pertanyaan yang abadi namun jawabannya bisa berubah-rubah tergantung jaman, ruang dan waktu.
Berhadapan dengan realitas memang akan terus memunculkan pertanyaan, sebuah fenomena pasti akan memancing munculnya rasa heran, rasa kagum, kesangsian, kekecewaan dan bahkan keputusasaan. Semua rasa itu akan mengantarkan orang itu bertanya. Terutama apa dan mengapa.
Hasil pergumulan dengan pertanyaan-pertanyaan itu jika kemudian diterangkan secara mendalam, sistematis , menyeluruh dan koheren akan disebut filsafat. Dan aktifitas mempertanyakan segala sesuatu adalah berfilsafat.
Seiring dengan waktu apa yang dipertanyakan oleh filsafat mulai dijawab oleh Ilmu Pengetahuan. Mulai dari fisika, kimia, matematika hingga neuroscience. Filsafat tidak lagi menjadi ibu dari ilmu pengetahuan. Hingga kemudian tak sedikit yang mengatakan bahwa filsafat sudah mati.
Tapi benarkah demikian?. Tidak juga sebab titik berangkat dari filsafat adalah kesadaran diri dan pengalaman akan adanya rasa heran, rasa sangsi, rasa kecewa, rasa putus asa dan lain sebagainya yang selalu akan menimbulkan pertanyaan.
Oleh karenanya filsafat akan tetap ada dan berfilsafat tetap menjadi bagian penting dari olah pikir manusia berhadapan dengan dunia, pengalaman tentang dunia atau keseharian yang dihidupi. Selama masih ada realitas maka filsafat tetap ada.
Oh, iya dan sebagaimana ilmu lainnya filsafat bukanlah jawaban atas bagaimana seharusnya hidup itu. Jawaban filsafat ada apa itu hidup dan bagaimana hidup itu berjalan atau berlangsung.
Dan berfilsafat adalah tidak membiarkan hidup berjalan begitu saja. Sebab hidup mesti mempunyai makna oleh karenanya mesti dipertanyakan dan diuji. Sebab hidup yang tidak dipertanyakan dan tidak diuji tidaklah layak untuk dihidupi.
sumber gambar : Emily Morter – unsplash.com








