Karena air tak bisa dilepaskan dari kehidupan maka sejak semula air telah diatur-atur oleh manusia. Air diatur untuk mempermudah masyarakat memenuhi kebutuhannya namun juga karena air kerap menimbulkan masalah, salah satunya adalah banjir.

Sejarah kerajaan nusantara terutama yang di pedalaman bertumpu pada kehidupan agraris. Masyarakatnya memenuhi kebutuhan hidup dengan bercocok tanam. Tanah pertanian pangan umumnya berada di dekat aliran air, lembah-lembah yang dialiri oleh sungai.

Salah satu kerajaan yang dalam catatan terkemuka dalam pengelolaan air adalah Kerajaan Kahuripan. Nama rajanya yang terkenal yaitu Airlangga, berasal dari kata “Er” yang berarti air dan Langga yang berarti “lompat”. Dalam nama ini terkandung hubungan atau keterkaitan khusus dengan air.

Hubungan itu ada kaitannya dengan mahapralaya atau bencana besar, bencana yang disebut dengan arnawa atau ekamawa yang bisa ditafsir sebagai banjir entah akibat lahar dingin atau gelombang laut yang kemudian membanjiri daratan.

Para ahli menterjemahkan nama Airlangga yang tertulis dalam prasasti Kalkuta sebagai yang selamat dari air, orang yang melompati air hingga orang yang meminum air laut. Terjemahan ini semua merujuk kepada catatan sejarah penanganan banjir di masa pemerintahan Airlangga.

Dalam prasasti Kamalagyan ditulis tentang pembangunan bendungan di Waringin Sapta. Bendungan dibangun karena sungai Brantas alirannya kerap menjebol tanggul-tanggul di wilayah yang dilewatinya.

Rekayasa dilakukan saat itu untuk kepentingan irigasi, mengatasi banjir dan transportasi atau perhubungan lewat pembangunan bandar persinggahan dan penyeberangan yang disebut dengan penambangan.

Jejak hubungan antara kerajaan dengan air atau alam sekarang masih bisa dilihat di Kraton Yogyakarta. Kraton diletakkan pada titik tengah diapit pada bagian utara selatan oleh Gunung Merapi dan Pantai Selatan. Sedangkan di bagian timur dan barat oleh dua sungai, yaitu Sungai Code di timur dan Winongo di barat.

Terletak di tengahnya konon Kraton Yogyakarta didirikan diatas sebidang tanah yang merupakan gundukan yang lebih tinggi dibanding permukaan sekitarnya. Posisi ini disebut dengan Bathok Bulus atau cangkang kura kura.

Dengan posisi ini membuat Kraton Yogyakarta terhindar dari banjir meski hujan deras mengguyur. Letak yang lebih tinggi juga membuat posisi Kraton Yogyakarta mudah dilihat oleh warganya kala itu. Salah satu bangunan yang menandakan posisinya sebagai tanah tinggi terlihat dalam nama bangsal Siti Hinggil atau tanah tinggi. Di bangsal ini Sultan kerap bercengkrama untuk menikmati keindahan Gunung Merapi dari kejauhan.

Namun yang paling menarik dalam hubungan dengan rekayasa air untuk berbagai kepentingan jejaknya masih terlihat di Kraton Yogyakarta lewat infrastuktur yang dikenal dengan nama Taman Sari. Adanya Taman Sari membuat Kraton Yogyakarta di masa lalu bisa disebut sebagai Istana Air.

Taman Sari terdiri dari 4 kompleks yang berisi bangunan indah, kolam atau danau buatan dan kebun-kebun buah sebagai tempat istirahat dan rekreasi.

Danau buatan di Taman Sari ukurannya cukup besar bahkan ada pulau ditengahnya. Danau itu dinamakan Segaran yang berasal dari kata segara atau laut.

Ada beberapa danau atau kolam di kompleks Taman Sari yang saling terhubung oleh kanal. Pertanyaannya dari mana airnya?. Ada yang mengira airnya dari mata air atau umbul yang konon banyak terdapat di wilayah itu. Tapi jumlah mata air yang ada tidak akan cukup untuk mengenangi danau atau kolam yang luas itu.

Ternyata air itu berasal dari Sungai Winongo yang dibendung dan kemudian dialirkan airnya melalui Kali Larangan. Disebut larangan karena di sungai itu dilarang keras membuang kotoran agar airnya terjaga kebersihan. Kali larangan melewati beberapa kampung sebelum masuk ke pintu segaran di Taman Sari.

Selain fungsi rekreatif , peribadatan dan juga pertahanan, segaran di Taman Sari berfungsi sebagai pengatur dan penyimpan air. Menyimpan air untuk cadangan di musim kemarau dan mengatur air saat musim hujan agar tidak banjir.

Dengan orientasi arah yaitu utara selatan, air yang berasal dari Sungai Winongo di bagian barat dialirkan lewat Sungai Larangan dari arah utara dan kemudian dimasukkan dalam kolam-kolam mulai dari utara ke selatan secara bertahap.  Dan kemudian airnya kembali dimasukkan ke Sungai Winongo.

Dan sebelum aliran kembali masuk ke Sungai Winongo air dari segaran ini kemudian digunakan untuk pertanian oleh warga di sekitar keraton. Air yang berasal dari keraton oleh masyarakat dianggap membawa berkah, kesuburan dan penolak hama tanaman. Lewat air ini hubungan sosial dan ekonomi antara masyarakat dan kraton terjalin.

Sayangnya kini segaran itu telah hilang karena gempa tektonik pada tahun 1867. Area yang dahulu merupakan kolam air kini sudah menjadi permukiman yang dikenal sebagai Kampung Segaran.

Kota Air Saat Ini

Pencapaian kerajaan-kerajaan nusantara dalam tata air tercapai ketika di jaman itu belum ada sekolah tinggi atau universitas yang melahirkan ahli-ahli air. Tetapi dengan kesadaran tentang topografi, arah aliran air alami yang belum dibantu dengan satelit atau drone ternyata bisa melahirkan mahakarya rekayasa air multiguna.

Lalu bagaimana dengan kota-kota air pada saat ini?. Ada banyak kota berada di tepian aliran sungai, kota yang kemudian menamakan diri sebagai waterfront city, kota seribu sungai dan lain sebagainya. Namun realitas sebagai kota air yang sebenarnya terjadi adalah kota-kota selalu kebanjiran di saat musim hujan.

Sehingga disebut sebagai kota air karena kota itu selalu kebanjiran. Kota air kemudian menjadi julukan yang negatif.

Kenapa demikian?. Karena kota dibangun dengan memusuhi air. Air diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dikeringkan sehingga muncul istilah drainase atau saluran buangan untuk segera mengirim air hujan ke laut.

Pun demikian dengan sungai. Sungai yang mempunyai banyak fungsi dan manfaat kemudian didegradasi menjadi saluran pembuangan air utama, sungai dipakai sebagai jalan tol untuk mengirim air hujan secepat mungkin ke laut.

Hasilnya banjir kemudian dihadapi dengan program yang disebut normalisasi sungai. Sebuah upaya merekayasa sungai agar aliran airnya lancar jaya, air mengalir cepat dengan cara meluruskan sungai, memperkeras tepian sungai dengan beton, memadukan antara tanggul dan turap dalam bentuk sheetpile dari semen.

Berhasilkah?. Tidak karena tetap saja banjir akan terjadi. Contoh paling nyata adalah Jakarta yang hampir keseluruhan sungainya sudah dibeton dan berubah jadi kanal.

Kenapa gagal?. Ya tentu saja gagal karena air selalu butuh ruang baik ruang dalam maupun ruang permukaan. Sungai tidak akan cukup untuk menampung air permukaan, air limpasan atau run off pada waktu yang bersamaan.

Mengatasi banjir pada dasarnya adalah mencegah air permukaan berkumpul pada tempat yang tidak dikehendaki. Oleh karenanya perlu diberi ruang agar air punya waktu, menunggu giliran untuk dialirkan. Belum lagi kondisi kontur atau topografi yang membuat sungai sebagai strategi untuk membuang air menjadi tidak efektif karena kelandaian sehingga kerap kali terpengaruh oleh pasang air laut.

Sebenarnya aneh karena pengetahuan dan teknik yang kita punyai saat ini jauh melampaui jaman kerajaan nusantara dulu. Hanya saja jika kemudian ditelusuri lebih dalam ternyata pendekatan teknis hidrologis kita saat ini melupakan dasar dan pendekatan filosofis. Kita merekayasa air, mengatur air bukan karena menganggap air sebagai rahmat, berkah dan sahabat, air diperlakukan sebagai musuh.

Pendekatan terhadap banjir misalnya selalu berbasis pada proyek yang tidak memperhatikan air dari hulu ke hilir. Masalah air didekati dari tempat kejadian. Bahwa kemudian bisa dijinakkan, itu hanya sementara saja, setelah itu air akan kembali berontak.

Meski kini banyak yang pintar-pintar, tapi urusan air tidak semata bisa mengandalkan kepintaran dan gelar yang didapat di luar negeri sembari mengobral kisah tentang sungai di Belanda, Jerman atau Belgia sana. Belajarlah menata kota dari kisah, pengetahuan dan kejeniusan yang telah ditunjukkan oleh para pendahulu kita yang mengenali betul watak dan lagu air di daerah kita.

Meski kini badan air bermasalah dimana-mana namun belum terlambat untuk mengubah isi kepala kita. Agar nanti tidak timbul umpama bahwa kita menyesal telah melakukan kesalahan ketika kita sudah berada di neraka. Sebuah sesal yang sia-sia belaka.

Sumber gambar : Weston MacKinnon – unsplash.com