Setiap orang mempunyai sikap dan persepsi serta tanggapan yang berbeda-beda terhadap hujan. Ada yang mulai murung begitu mendung dan kemudian kesal ketika hujan turun. Tetapi banyak juga yang berbinar begitu rintik hujan tiba.

Hujan di daerah yang sedang kekeringan pasti membawa kebahagiaan, memperbaiki suasana hati masyarakatnya. Namun di tempat yang baru kebanjiran, hujan pasti mendatangkan kekhawatiran. Belum selesai membersihkan rumah, bayangan lumpur dan kotoran kembali yang membuat kesal kembali datang.

Mewakili banyak perasaan itulah hujan.

Seperti dalam lagu Hujan Rintik Rintik karya AT Mahmud. Bunyi tik-tiknya diatas genting  mewakili kegembiraan kegembiraan bukan hanya orang melainkan juga alam karena dibasahi oleh hujan. Namun dalam November Rain mahakarya band Gun N Roses, hujan melambangkan perasaan kesendirian dan kedinginan. Hujan mewakili air mata deras yang bercucuran.

Secara umum berbagai kebudayaan menganggap hujan itu penting meski perlu juga diwaspadai atau diantisipasi. Seperti tercermin dalam pepatah “Sedia payung sebelum hujan”. Oleh karenanya muncul alat pelindung sekaligus pemanfaatan hujan.

Hujan sendiri adalah kondensasi uap air di atmosfer yang kemudian menjadi butir air yang jatuh dan tiba di daratan. Selain menimbulkan rasa dingin, hujan terkadang disertai angin kencang dan petir yang menyambar-nyambar.

Akibat pemanasan global, penguapan yang tinggi, kini hujan sering kali amat deras atau curah hujannya meningkat. Dan dibarengi dengan semakin sempitnya ruang tangkapan air dan luasan perkerasan permukaan lahan maka hujan dengan segera menyebabkan banjir.

Hingga kemudian hujan kerap dikatakan sebagai penyebab banjir. Warta dan cerita tentang banjir selalu didahului oleh narasi tentang hujan yang lebat selama berjam-jam.

Sumber dari Segala Sumber Air

Dalam banyak kebudayaan air dan mata air juga sungai sering dikatakan sebagai air kehidupan. Di sekitar tempat yang berkelimpahan air kebudayaan tumbuh. Pusat kebudayaan, bangunan penanda kebudayaan dibangun di dekat air, atau sengaja diletakkan diantara air.

Kedekatan kebudayaan dengan air bisa dipahami karena manusia sedari bangun sampai tidur lagi membutuhkan air untuk berbagai keperluan. Mulai dari bersih diri, makan minum dan penunjang untuk aktivitas karyanya.

Bagaimana mata air terus mengalirkan airnya, mengisi sungai dan juga danau terus menerus tiada habisnya?

Air yang pergi selalu dihantar kembali oleh hujan. Hujanlah yang membuat air menjadi setia, selalu kembali ke rumahnya.

Karena hujan kantong air dalam tanah kembali terisi, karena hujan permukaan tanah kembali menjadi lembab, karena hujan sungai terus mengalirkan airnya, karena hujan danau dan rawa tidak menjadi sebidang tanah kering.

Jika kemudian hujan menjadi banjir tentu bukanlah salah hujan. Sebab hujan hanya menjalankan tugasnya mengembalikan air ke bumi. Air yang bukan hanya menyegarkan dan menyejukkan melainkan juga kembali menyehatkan tanah.

Hujan setelah musim kemarau panjang, ketika tanah pecah dan retak-retak. Adalah saat terbaik untuk menghantarkan serasah dan sekresi hasil kerja mikroorganisme yang mendekomposisi material organik masuk ke dalam tanah melalui celah retakannya. Dan ketika hujan terus menerus terpapar diatasnya tanah yang kering kerontang dan keras melembut kembali hingga celah dan retakkannya tertutup kembali.

Dan tanah yang lunak itu kembali menjadi bidang lahan yang sehat untuk ditanami.

Begitulah hujan bekerja, bukan untuk dirinya sendiri. Persis sama seperti ibu yang bersusah payah demi membesarkan anak-anaknya, ibu yang melupakan kesenangan dan cita-citanya sendiri demi tumbuh kembang dan keberhasilan anak-anaknya.

Hujan adalah ibu dari segala air, air kehidupan.

Sumber gambar :  Ed Leszczynskl – unsplash.com