Usai kejayaan industri kayu yang ditandai dengan tutupnya perusahaan-perusahaan plywood dan sawmill, ekploitasi sumberdaya alam Kalimantan Timur beralih dari SDA yang terbarukan ke SDA yang tak terbarukan.

Bersamaan dengan desentralisasi {otonomi daerah} terjadilah booming pertambangan batubara. Kalimantan Timur yang sebelumnya dikenal sebagai surga kayu kemudian beralih menjadi surga batubara, lumbung energi Indonesia.

Ada ribuan ijin pertambangan batubara, baik yang diberikan oleh pemerintah nasional maupun pemerintah daerah. Ekonomi tumbuh, pemerintah daerah mendapat dana bagi hasil dan pendapatan lainnya sehingga APBD-nya bernilai trilyunan rupiah.

Industri tambang dimanapun dengan cepat merubah sebuah daerah menjadi semarak. Memancing tumbuhnya industri lain karena perputaran uang yang besar. Salah satunya adalah industri konsumsi dan hiburan dalam arti seluas-luasnya.

Di kota-kota besar yang ada di Kalimantan Timur kemudian muncul mall dan pusat perbelanjaan, hotel-hotel dan juga tempat hiburan malam. Kota menjadi semarak, penuh kerlap-kerlip di malam hari.

Gelombang migrasi juga terjadi, bukan hanya untuk bekerja di sektor pertambangan melainkan juga sektor lainnya yang tumbuh seperti properti dan jasa konsumsi. Di Kalimantan Timur anak-anak tak perlu belajar geografi dengan membaca buku. Untuk mengenal Jawa dan Sulawesi, cukup rajin jalan-jalan dan membaca papan rumah makan di kanan-kiri jalan.

Di papan itu akan tertulis nama daerah, kabupaten atau kota di Sulawesi dan Jawa.

Lepas dari itu semua, booming pertambangan batubara menambah derita badan-badan air di Kalimantan Timur yang sebelumnya disiksa oleh maraknya penebangan hutan. Di masa kejayaan industri kayu, pengusaha sungguh bersuka jika terjadi hujan deras, karena kayu dengan mudah akan dihanyutkan melalui anak-anak sungai ke sungai besar.

Waktu itu dikenal dengan istilah banjir kap. Saat banjir adalah saat untuk menghayutkan kayu, deretan kayu yang dirangkai mirip rakit yang panjang.

Karena tutupan hujan terbuka maka air hujan sebagian besar akan menjadi air permukaan yang kemudian akan mengerosi lantai hutan, membawa serasah dan lainnya masuk ke badan-badan air. Awalnya memang masih mengandung nutrisi karena merupakan dekomposisi dari material organik, namun lama kelamaan hanya membawa partikel tanah yang miskin hara.

Akibatnya selain warna air menjadi keruh, badan air lama-kelamaan juga mendangkal dengan cepat karena endapan sedimentasi yang berlebihan.

Sebagian besar kebutuhan air bersih masyarakat di Kalimantan Timur berasal dari sungai. Namun sungai jugalah yang pertama menjadi korban dari ekplotasi sumberdaya alam. Sungai tak asyik lagi karena mutu airnya menurun dan lantainya berlumpur.

Nestapa sungai kemudian semakin berlarat. Usai dilumpuri oleh penebangan hutan kemudian dicemari oleh pertambangan batubara. Bukaan lahan karena pertambangan batubara membuat erosi semakin menjadi-jadi. Dan bukan hanya itu sungai juga dicemari oleh air cucian batubara dan aktivitas pengangkutan batubara yang lalu lalang melalui sungai.

Kolam Renang Yang Hilang

Konon jika mau melihat bagaimana pemerintah dan masyarakat memperlakukan lingkungan hidup, lihatlah wajah sungainya. Jika wajah sungainya memprihatinkan maka itu adalah cermin dari perilaku kebijakan dan masyarakat yang serampangan terhadap lingkungan.

Mereka yang lahir dan besar di Kalimantan Timur dan kini berumur kurang lebih 30 tahun keatas pasti akan dengan antusias menceritakan bagaimana dulu sungai menjadi tempat mereka belajar berenang.

Apakah sungai waktu itu bening sehingga anak-anak bermain dan berenang di sungai?. Tidak juga, sebab memang sejak semula sulit menemukan sungai yang airnya bening. Bukan berarti sungai kotor, sungai tidak bening karena air sungai mengandung banyak nutrisi yang berasal dari lantai hutan.  Sungai adalah alur untuk mentransportasi dan mendistribusi kesuburan dari hutan.

Namun lama kelamaan seiring dengan maraknya industry ekstraksi dan pertumbuhan permukiman sungai tak lagi ramah untuk anak-anak. Jika dulu anak-anak setelah lama mandi di sungai matanya memerah, hingga dipanggil hantu banyu. Kini yang memerah bukan matanya melainkan kulitnya karena gatal-gatal.

Sungai juga makin mendangkal dan lantainya berlumpur,sehingga kalau terjun dari ketinggian beresiko menyebabkan tenggelam karena lantai sungai tidak bisa lagi jadi pijakan untuk melenting ke atas.

Sungai juga semakin jauh dari anak-anak karena jumlah sungai berkurang. Banyak sungai kemudian hilang dan tinggal menjadi nama daerah. Sungai hilang tinggal menjadi parit karena badan sungainya diokupasi menjadi pondasi rumah.

Ada daerah dinamakan sungai pinang, sungai keledang, sungai kerbau dan lain-lain tapi entah dimana sungainya. Bahkan kemungkinan segiri berasal dari sei giri {sei = sungai}.

Untung saja sekarang banyak hotel berbintang dan taman wisata yang mempunyai kolam renang sehingga anak-anak bisa berenang disana. Hanya saja kalau dulu berenang itu gratis, sekarang mesti berbayar. Sehingga jika sering-sering berenang bakal bikin dompet orang tua kering kerontang apalagi setelah kuyub mencebur di kolam renang kemudian pesan banyak cemilan.