Rayuan Pulau Kelapa adalah sebuah judul lagu karya Ismail Marzuki yang dirilis pada tahun 1944. Dalam lagu ini Ismail Marzuki menyebut kelapa sebanyak dua kali dalam lirik “Pulau kelapa nan amat subur” dan “Melambai-lambai nyiur di pantai”

Kesuburan dan lambaian nyiur/kelapa memang bisa disaksikan hampir di seluruh penjuru nusantara. Tak ayal jika kemudian ada wilayah yang menyebut diri sebagai daerah nyiur melambai. Sulawesi Utara, salah satunya karena di sepanjang bentang wilayahnya tumbuh menjulang pohon kelapa yang melambai-lambai ditiup angin.

Sayangnya perlahan-lahan lambaian nyiur mulai menghilang. Pohon kelapa tak lagi menjadi primadona karena sebagai komoditas mulai digantikan oleh pohon sawit. Di berbagai penjuru Kalimantan Timur dengan mudah disaksikan pohon kelapa yang tak lagi terawat, tak diremajakan karena kehadiran sawit.

Akibatnya perkebunan kelapa mulai menghilang dan industrinya juga bertumbangan diganti dengan bentangan kebun sawit yang rakus lahan serta hilir mudik truk pengangkut TBS (tandan buah sawit) menuju pabrik pengolahan yang mulai tumbuh dimana-mana.

Seiring dengan itu semakin sedikit pula anak Indonesia yang hafal dan menyanyikan dengan haru serta syahdu lagu Rayuan Pulau Kelapa.

Seribu Guna Pohon Kelapa

Kegunaan pohon kelapa dari ujung daun sampai ujung akarnya pasti bukanlah pengetahuan yang asing untuk kebanyakan kita. Semenjak kecil manfaat pohon kelapa sudah diperkenalkan, salah satunya lewat kegiatan Pramuka yang menjadikan Tunas Kelapa sebagai lambangnya.

Mulai saja dari daunnya. Daun muda atau biasa disebut janur, biasa digunakan sebagai ketupat atau selongsong untuk menanak nasi. Juga dijadikan hiasan baik untuk keperluan adat pernikahan dan acara keagamaan.

Daun tuanya biasa digunakan untuk bahan atap, sementara lidi dari daun tua bisa dipakai untuk sapu atau bahan anyaman menjadi tatakan dan piring. Pelepahnya dibelah-belah dan dikeringkan menjadi kayu bakar.

Kemudian buahnya. Bakal buah atau biasa disebut manggar, bisa disadap untuk menghasilkan legen. Legen bisa dikonsumsi sebagai minuman segar atau kemudian diolah menjadi gula kelapa. Ada juga yang disuling untuk kemudian menghasilkan minuman keras yang disebut sopi.

Yogya selain terkenal karena gudeg nangka, mulai pula berkembang olahan makanan yang dikenal dengan sebutan gudeg manggar.

Sedangkan kelapa muda, bisa dikonsumsi sebagai minuman segar dengan mencampurkan air kelapa dan daging buahnya yang masih lembut. Kelapa muda juga bisa menjadi bahan untuk membuat kue, salah satu yang terkenal adalah klapertart.

Buah kelapa yang cukup tua adalah bahan untuk membuat santan, kopra dan minyak kelapa serta VCO (virgin coconut oil). Parutan kelapa juga dimanfaatkan untuk toping atau taburan pada aneka makanan. Sedangkan airnya bisa diolah menjadi nata de coco.

Sabut kelapa tua juga mempunyai banyak manfaat. Bisa digunakan sebagai bahan pembuat tali, kemonceng, sapu dan keset. Jika dibakar bisa dipakai untuk mengeringkan atau mengasapi berbagai olahan makanan. Sedangkan tempurung kelapa kering bisa dimanfaatkan sebagai kayu bakar atau dibuat arang untuk menghasilkan bara yang panas.

Sabut dan tempurung kelapa juga banyak diolah menjadi bahan kerajinan tangan.

Ekstrasi dari sabut kelapa yang memisahkan antara coconut fiber/coco fiber atau biasa disingkat menjadi coir dengan coco peat. Coco fiber atau serat sabut kelapa bisa dimanfaatkan menjadi bahan jok kendaraan, Kasur dan material penutup atau penahan erosi untuk kepentingan rehabilitasi atau restorasi ekosistem. Sedangkan coco peat umumnya dipakai sebagai media tanam atau bahan campuran pembuatan pupuk organik.

Batang pohon kelapa yang sudah tua dan tidak lagi produktif, bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, furniture, perkakas dapur dan kayu bakar.

Dan kini yang lagi terkenal adalah bonsai pohon kelapa, kreasi tunas kelapa yang terus dipertahankan tetap menjadi mini sehingga bisa dipakai sebagai elemen penghias ruang atau taman yang eklusif.

Limbah Yang Menjadi Berkah 

Enam tahun lalu, Rusni kelahiran Penajam Paser Utara pulang kampung dari Jakarta. Di lingkungan tempat tinggalnya kini dengan mudah ditemukan tumpukan sabut kelapa yang menggunung dan terbiar. Sabut kelapa itu jika kering kemudian dibakar, karena kalau dibiarkan akan menjadi sarang ular.

Merasa sabut kelapa hanya menjadi limbah dan jika dibakar akan menghasilkan polutan maka Rusni mencari informasi dan kontak yang memungkinkannya untuk mengolah sabut kelapa menjadi bahan yang berguna.

Kontak dan jaringan pengolah sabut kelapa akhirnya ditemukan. Perbincangan dan pertemuan untuk membuat pabrik pengolahan sabut kelapa dilakukan. Namun kemudian terhenti karena terbentur pada persoalan siapa yang akan menanggung dana operasional pabrik.

Rusni tak berhenti berupaya hingga akhirnya bertemu dengan pelaksana program PNPM yang ternyata juga berkeinginan membangun pabrik yang sama. Ketika pabrik yang dibangun oleh program PNPM selesai dikerjakan, persoalan serupa kembali dihadapi oleh Rusni yang dipercaya untuk mengelolanya.

Akhirnya investor yang mau menyuntikkan dana dan membeli produknya ditemukan. Pabrik yang secara legalitas berada di tangan Koperasi Dana Amanah Masyarakat kini beroperasi. Yang utama dihasilkan adalah coco fiber untuk keperluan eksport. Sementara cocopeat untuk kebutuhan setempat. Dan limbah coco fiber remahan masih ditumpuk dan terbiar belum dimanfaatkan. Menurut rencana akan diolah menjadi bahan pupuk kompos.

Keberhasilan operasi pabrik pengolahan sabut kelapa ini masih belum mampu menyerap semua bahan sabut kelapa yang banyak berserak di Penajam Paser Utara. Masih terbuka peluang untuk mengkreasi dan melakukan inovasi pengolahan sabut kelapa.

Yang diperlukan adalah dukungan dari pemerintah dan juga sektor swasta lainnya agar lingkaran produksi mulai dari pemasok bahan, pengolah, pemasar dan pasar segera bisa terwujud sehingga sabut kelapa yang selama ini dianggap menjadi limbah dan sarang ular akan menjadi berkah bagi masyarakat luas.

Andai kelapa mampu mendatangkan banyak kemanfaatan dan pendapatan yang berkelanjutan, niscaya nyiur akan tetap melambai di sepanjang pesisir Penajam Paser Utara.