Kala berbincang lebih lanjut tentang tumbuhan berkantong pemangsa serangga, Ghofar bertutur perihal keinginannya soal festival kantong semar. Yang dimaksudkan olehnya adalah adanya sebuah tempat untuk berwisata atau piknik yang didalamnya berdiri kios-kios untuk menjual produk kuliner berbahan kantong semar.
Itu bukan sebuah keinginan yang mengada-ada, sebab kantong semar di beberapa daerah memang dipakai untuk kepentingan kuliner, sebutan ketupat napu merupakan salah satu penandanya.
Limbert Membrasar, seorang tour guide di Raja Ampat sebagaimana diberitakan oleh kabarpapua.co (18 Februari 2018) kerap mengajak wisatawan melihat kantong semar di perbukitan Raja Ampat. Kepada wisatawan biasa diceritakan kisah dari orang tuanya dulu yang kerap memasak beras dengan menjadikan kantong semar sebagai wadahnya.
“Kata orang tuaku, nasi yang dimasak dengan kantong semar rasanya enak,” ujarnya.
Kebiasaan menjadikan kantong semar sebagai wadah untuk menanak beras, menjadi semacam ketupat, lontong atau lemang juga ada di pulau Kalimantan. Para wisatawan, pendaki yang akan naik atau telah turun dari pendakian gunung Kinabalu, akan disambut nasi lemang, beras ketan yang dimasak dengan wadah kantong semar di pasar kota Kinabalu. Nasi lemang berbungkus kantong semar biasa disebut dengan Nasi Pelut.
Di sekitar gunung Kerinci Sumatera, kebiasaan menjadikan kantong semar sebagai wadah untuk membuat lemang juga ditemukan. Sajian berbahan beras ketan, santan dan garam yang gurih biasa ditemukan dalam acara kenduri adat. Lemang kantong semar disantap dengan gulai, kuah kacang dan bahkan kuah srikaya untuk yang senang rasa manis.
Nasi lemang berbahan kantong semar biasa disebut dengan nama kantung beruk lemang. Selain nasi lemang, di Kerinci kantong semar juga dimanfaatkan untuk menjadi pembungkus dodol. Kantong semar sendiri banyak ditemukan di Taman Nasional Kerinci Seblat.
Kuliner Bernilai Konservasi
Menjadi benar keinginan dari Ghofar untuk mengembangkan kembali penggunaan kantong semar sebagai bahan kuliner. Menurutnya hal ini bisa dimulai dari perlombaan kreasi kuliner kantong semar, sehingga akan diperoleh berbagai jenis masakan unggulan.
Nilai guna baru, apalagi kemudian bisa mendukung tumbuh kembangnya industri wisata akan membuat kantong semar terlindungi. Sebab jika dibutuhkan maka masyarakat akan menjaga, memelihara bahkan membudidaya.
“Nilai kemanfaatan akan menghubungkan masyarakat dengan lingkungan hidupnya,” ujar Ghofar.
Mengembangkan atau mengalakkan kembali pemanfaatan kantong semar untuk menghasilkan makanan tradisional apalagi diperkuat dengan nilai-nilai konservasi lokal memang akan membantu untuk melestarikan keberadaan kantong semar di habitat aslinya.
Lemang, dodol dan makanan lain berbungkus atau berbahan kantong semar akan menjadi kuliner yang unik serta bernilai ekologis. Menyantap dan merasakannya tentu saja akan meninggalkan kenangan dan kisah yang menarik dan pantas dikisahkan kepada siapapun.
Semoga keinginan Ghofar, pegiat penyelamatan kantong semar di Penajam Pasir Utara segera bisa terwujud. Alangkah indahnya jika kelak daerah yang akan menjadi tetangga terdekat Ibu Kota Negara Baru itu mempunyai kuliner unggulan berbahan kantong semar.
kredit foto : Jonathan Lin/bbc.com








