Ribuan tahun sebelum jaman masehi, pada banyak kebudayaan ditemui model pemakaman yang menyertakan guci/tempayan sebagai penanda bahwa yang dimakamkan adalah orang terhormat.

Memakamkan dengan guci/tempayan yang dikenal dengan sebutan tajau juga dikenal dalam kebudayaan Kalimantan Timur. Kebiasaan ini bahkan bisa ditemui hingga awal abad ke 20 masehi.

Kebiasaan pemakaman untuk masyarakat dengan status sosial yang tinggi ini kemungkinan besar terpengaruh oleh kebudayaan dari China. Karena tempayan, guci atau tajau yang digunakan ‘diimport’ dari sana.

Masuknya Islam dan Kristen kemudian membuat kebiasaan ini perlahan-lahan sirna karena perubahan keyakinan termasuk nilai-nilai kosmologinya.

Secara kosmologis, Kalimantan Timur dan Kalimantan pada umumnya bisa digambarkan sebagai tempayan. Tempayan yang didalamnya berisi segala macam harta yang berharga, berupa kekayaan keragaman hayati dan bahan-bahan alam lainnya.

Tempayan yang indah, lumbung penyimpan kekayaan namun sejatinya ringkih karena rawan pecah. Dan apabila pecah atau retak maka sulit untuk dikembalikan kepada kondisi semula.

Dan adalah benar Kalimantan Timur dengan segala kekayaannya menyembunyikan petaka. Secara alamiah bumi dengan tutupan hutan seantero penjurunya selalu diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Curah hujan yang membuat dataran rendahnya kerap tergenang, ada genangan sementara namun ada genangan yang terus menerus.

Meski lebat tutupan lahannya ternyata sedimentasi juga tinggi, bukan semata karena permukaan tanah yang terkikis, melainkan aliran banyak sungainya di kala musim hujan akan membawa serta substrat hasil dekomposisi material organik dari lantai hutan.

Dengan karakter alamiah seperti itu maka bukaan lahan atau perubahan tutupan lahan akan semakin memperbesar kemungkinan genangan, peningkatan sedimentasi dan kemungkinan longsor pada perbukitan. Dan pada musim kemarau akan menimbulkan ancaman kekeringan dan kebakaran.

Di masa lalu, Kalimantan Timur pernah mencapai puncak keseimbangan ekologi manusia. Saat dimana masyarakatnya diikat oleh nilai-nilai bersama yang merupakan hasil adaptasi dan pengenalan pada karakter geohidrologi bumi tempat mereka berpijak.

Kecerdasan membaca alam dan berhubungan dengan alam diterjemahkan dalam bentuk arsitektur hunian, pola budidaya pangan dan ekonomi ekologi.

Hunian yang dikembangkan pada saat itu adalah rumah panggung komunal, rumah panggung keluarga dan rumah apung. Sementara budidaya tanaman pangan dikembangkan pada lahan kering dengan membuka hutan atau lahan yang sudah menghutan dan lahan basah pada area pasang surut badan air. Sedangkan ekonomi ekologi adalah aktivitas ekonomi yang memperjual belikan hasil hutan non kayu.

Dengan pola hidup seperti itu maka potensi bencana alam bisa diadaptasi atau diantisipasi. Bahkan menjadi sebuah kekuatan. Banjir misalnya adalah kesempatan untuk bisa menangkap berbagai jenis ikan secara lebih mudah.

Namun keseimbangan itu kemudian berubah. Paska kemerdekaan pola ekonomi masyarakat Kalimantan Timur berubah. Dari memanfaatkan hasil bumi secara langsung menjadi ekploitasi.

Selama masa kemerdekaan ekonomi Kalimantan Timur bisa diringkas menjadi ekonomi ekploitasi yang berbasis pada Tebang, Sedot dan Keruk. Yang ditebang adalah kayu-kayu alam di dalam hutan, yang disedot adalah minyak dan gas dan yang dikeruk adalah batubara.

Pola ekonomi ini bukan hanya membuat tempayan menjadi retak melainkan pecah-pecah. Wajah Kalimantan Timur berubah, Tutupan lahan berkurang amat drastis. Hasilnya siklus hidrologi menjadi terganggu. Air hujan yang terserap atau tertangkap menjadi semakin berkurang. Air hujan lebih banyak menjadi air permukaan yang kemudian menimbulkan bencana yang disebut banjir.

Sedimentasi juga kian meninggi sehingga rawa, danau dan sungai semua secara serempak mendangkal. Akibatnya daya tampung badan air menjadi berkurang, luapan air menjadi semakin meluas.

Permukaan tanah terutama yang berbentuk tebing atau bukit menjadi rawan longsor karena tak lagi diikat oleh akar-akar pohon. Permukaan tanah juga menurun kelembabannya sehingga memicu kebakaran lahan.

Yang disebut bencana alam, sesuatu yang awalnya disadari, diantisipasi dan diadaptasi kemudian berubah menjadi bencana karena perilaku manusia. Akibatnya bisa diduga, bencana sulit diantisipasi apalagi diadaptasi karena perilaku masyarakatnya sudah berbeda.

Meski terus menjadi prioritas dari setiap calon atau kandidat pemimpin dalam kampanye menjelang pemilihan kepala daerah, yang disebut sebagai mengatasi bencana akan menjadi janji abadi yang sulit untuk dipenuhi. Bencana karena perilaku manusia akan tetap menjadi bencana jika hanya diatasi secara teknis semata. Setiap tahun akan semakin diperlukan biaya besar untuk memberi rasa aman yang sifatnya sementara.

Tidaklah perlu ada program khusus untuk mengatasi bencana alam, sebab yang diperlukan adalah pola dan rencana pembangunan yang berkesesuaian dengan bumi Kalimantan Timur.

Adalah muskil jika kita yang hidup di Daerah Aliran Sungai terbebas dari bencana apabila pembangunan yang kita lakukan tidak berkesesuaian dengan air. Dan akan lebih mustahil lagi apabila kepala kita masih saya meyakini bahwa yang berhubungan dengan air hanyalah sungai.

Ingat bumi tepat kita berpijak ini adalah bejana yang sudah berkeping-keping. Dan sungai hanyalah salah satu serpihan kecilnya.

kredit foto : tirto.id