“Mus….Mumus bangun, sudah mau jam 7 … bangun,” ujar Mamak Mustofa mengoyang-ngoyang badan anaknya yang masih nyaman meringkuk.
“Iya … Mak,”
Tapi Mustofa tetap tak beranjak dari tempat tidurnya.
“Mus … Mumus, bangun sudah,” kata Mamaknya lagi namun kali ini sambil menarik badan Mustofa agarduduk di tempat tidurnya.
Mustofa mengikuti tarikan Mamaknya tapi tetap tak membuka matanya.
“Hujan Mamak dari tadi, pasti jalan ke sekolah banjir,” kata Mustofa sambil kembali merebahkan badannya.
Mendengar jawaban anak sulungnya, Mamak Mustofa tak lagi ngotot membangunkan anaknya.
-000-
Meski tak sekolah, Mustofa tak malu menampakkan batang hidungnya di depan rumah. Dia tahu persis bahwa teman dan sahabat karibnya pasti tak juga bersekolah. Ada semacam kesepakatan tak tertulis kalau jalanan banjir mereka akan mogok sekolah.
“Mus … Mumus,”
Mustofa mendengar ada suara memanggilnya. Mustofa tahu itu adalah suara Bondan. Dan benar ketika dia menenggok ke arah datangnya suara, dilihatnya Mustofa sedang mendekat tak berbaju dan celananya terlihat basah.
“Aman kita Mumus, alpa nggak akan bertambah. Sekolah kita terendam banjir,” ujar Bondan dengan entengnya.
“Tinggi kah?”
“Nggak terlalu. Tapi kalau kita sekolah pasti masuk angin karena kaki terendam air,”
Bukan sekali dua kali sekolah Mustofa yang tak jauh dari Sungai Karang Mumus itu terendam banjir.
Sekolah yang berbahan kayu itu dibangun dengan kesadaran bahwa air sungai akan mengalami pasang surut. Namun beberapa tahun terakhir ini tinggi panggungnya tidak lagi berada diatas pasang air.
Semakin hari air pasang sungai semakin tinggi.
“Ayuk betajunan di sungai, bagus ini airnya, sampah semuanya hanyut,” ajak Bondan
“Iya, kamu duluan. Jangan sampai mamakku lihat, bahaya,”
Meski memanfaatkan air Sungai Karang Mumus untuk keperluan sehari-hari, namun mamak Mustofa kerap kali murka kalau Mustofa mandi-mandi, bekunyung, betajun dan ciruk di Sungai Karang Mumus.
Mamak Mustofa bukan khawatir soal resiko dan bahaya bermain di sungai melainkan tak suka jika harus mencuci pakaian basah yang dipakai Mustofa bermain di sungai.
Hampir dua jam mereka bermain-main di sungai, akhirnya lelah juga. Mustofa, Bondan dan teman- teman lainnya akhirnya duduk-duduk di batang. Hari yang mulai memanas membuat kulit mereka yang tertimpa sinar mentari kelihatan mengkilap.
“Mumus kalau besok masih hujan lagi, tambah terendam sekolah kita. Bisa libur lagi,” ujar Bondan sambil tertawa.
“Iya ya …. hujan satu jam saja sudah kebanjiran kita,”
“Ya karena kita ini Kota Sama Rendah,”
Tafsir mainstream tentang jatidiri Kota Samarinda terutama memang dikaitkan dengan kondisi geografis.
Konon daratan Samarinda dianggap sama tinggi dengan permukaan air Sungai Mahakam. Daratannya terpengaruh oleh pasang surut. Maka banjir kerap kali dipandang sebagai sebuah keniscayaan.
“Banyu tagenang,” begitu kerap diucapkan Pak RT yang memimpin wilayah terkecil dalam administrasi kepemerintahan di tempat Mustofa tinggal.
Pernah suatu kali dalam sebuah perbincangan, Pak RT yang dikomplain oleh warganya agar bertindak menghadapi persoalan banjir malah menjawab “Berapa hari gerang etam tagenang,”
Dan warga menjawab “Satu dua hari,”
“Nah satu bulan itu berapa hari?” tanya Pak RT
“Tiga puluh atau tiga puluh satu hari,”
“Nah, tiga puluh dikurangi satu atau dua hari berapa hasilnya?. Masih banyak hari lain yang tidak tergenang to?”
Dan wargapun hanya diam tak membantah atas jurus yang telah dan selalu dikeluarkan oleh Pak RT setiap kali warga komplain soal banjir.
“Ikam-ikam ini kurang bersyukur, masih banyak hari yang tidak banjir. Lagian itu bukan banjir tapi air taganang,”
Begitulah Pak RT selalu mengakhiri komplain warga soal banjir. Warga yang terdiam biasanya akan diberi nasehat dengan mantra mautnya itu.
“Eh, Mumus kenapa kita ini begitu hujan sedikit langsung banjir?”
“Ya itu, banjir dianggap biasa saja pun definisi banjir yang kerap dianggap sebagai kewajaran, bahkan fitrah Samarinda,”
“Sudah ratusan tahun tapi pemahaman soal banjir masih begitu-begitu saja. Paling dibilang karena warga buang sampah sembarang dan karena curah hujan tinggi,”
“Dan tidak pernah ada upaya untuk mendalami genealogi banjir di Kota Samarinda,”
“Barangkali mereka takut kalau banjir benar-benar ditelisik bakal terbongkar berbagai proyek bernilai ratusan milyard namun tak tepat menjawab masalah banjir,”
“Menurut kamu Mumus, apa sih jenis-jenis banjir di Kota Samarinda,”
“Kalau dilihat dari karakternya, banjir pertama itu akibat pengaruh pasang surut Sungai Mahakam, lalu banjir kedua karena hujan lebat di hulu, banjir ketiga itu hujan di perkotaan dan yang keempat perpaduan antara ketiganya,” terang Mumus.
“Pernah lo Samarinda banjir bandang,”
“Oh, iya itu karena bendungan jebol,”
Dan kemudian Mustofa dan Bondan membahas banjir dengan asyiknya. Mereka bercerita layaknya seorang ahli tata kelola banjir.
“Jadi pengaruh pasang surut Sungai Mahakam itu bukan cerita kemarin, itu sudah terjadi ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun. Maka sesungguhnya alur pasang surut itu sudah menemukan bentuknya, keteraturan,”
“Lalu kenapa bisa menyebabkan banjir,”
“Ya tentu ada perubahan pada alur itu, perubahan karena perkembangan kota, perubahan karena pembangunan. Termasuk kedalaman air Sungai Karang Mumus yang menyebabkan morfologi sungai berubah. Akhirnya daya tampung alur sungai menjadi menurun dan air meluap,” terang Mustofa.
“Itu hujan di hulu kenapa menyebabkan banjir,”
“Sebenarnya sama saja, relasi antara alur Sungai Karang Mumus dengan kesekitarannya adalah relasi lama, sudah membentuk pola-pola tertentu. Pola yang mungkin rumit namun bukan berarti tak teratur.
Ada banyak anak sungai di hulu sana, namun perubahan lingkungan di hulu terutama alih fungsi lahan membuat hujan dari hulu tak tertahan, akibatnya air masuk semua ke Sungai Karang Mumus, selain membawa sedimentasi aliran air itu menyebabkan banjir karena Sungai Karang Mumus tak mampu menampung limpasan air dalam jumlah besar dalam sesaat,”
Bondan terpana pada penjelasan Mustofa.
“Kalau hujan diperkotaan atau dibagian hilir, kenapa bisa menyebabkan banjir?”
“Nah, ini yang penting. Got atau drainase kita itu didesain untuk mengalirkan air hujan secepat-cepatnya ke sungai, tidak untuk menahan air hujan. Tapi kedalaman got tidak terjaga karena air yang mengalir juga merupakan transpoter bagi sedimentasi. Daerah hilir kita kurang tutupan lahannya, demikian juga dengan area penyerap air. Maka semua air dengan cepat masuk ke sungai atau tertahan di tempat yang rendah karena tak bisa mengalir kemana-mana akibat gotnya dangkal semua,”
“Oh, iya Mumus malah jalan yang disemen itu kalau hujan jadi seperti sungai, airnya mengalir kencang,”
“Itulah yang terjadi sekarang ini, segala sesuatu disemen, memang sepertinya enak dipandang mata tapi tak baik untuk siklus air,”
“Nah kalau ketiga jenis banjir itu terjadi bersamaan bagaimana Mumus?”
“Samarinda akan lumpuh, air akan tergenang dalam waktu yang lama, kita bukan lagi sedia paying sebelum hujan tapi sedia perahu begitu hujan turun,”
“Wah, banjir itu ternyata kompleks ya Mumus?”
“Ya iyalah, jangan menyederhanakan banjir hanya di soal perilaku warga, sebab sumbangan besar justru di perilaku kebijakan. Banjir serat kaitannya dengan kebijakan spasial, tata ruang. Kalau para pengambil kebijakan tidak jujur dalam melakukan pembagian dan zonasi pada tata ruang ya beginilah jadinya,” ujar Mustofa.
“Maksudnya apa Mumus?”
“Banjir ini soal ekologis, soal keterhubungan unsur-unsur alami yang membentuk satu kesatuan dan lingkaran kehidupan. Kalau unsur-unsur ini terganggu maka terjadilah bencana. Nah sekarang bicara banjir dimana area resapan dan tangkapan air kita, dimana kolam retensi kita, dimana reservoir kita dan dimana para pengkaji yang serba cerdas karena sudah sekolah tinggi-tinggi itu, pakai beasiswa lagi,”
“Mungkin mereka capek Mumus?”
“Capek apa?”
“Capek kebanjiran duit proyek?” ujar Mustofa entah apa maksudnya.








