Sekitar tahun 80-an Kecamatan Kaligesing nulai dikenal sebagai sentra pengembangan kambing PE (Peranakan Etawa). Pak De saya termasuk salah satu yang getol turut mengembangkannya sehingga suatu ketika mendapat anugerah Upakarti dari Presiden Suharto.  Sebagai wujud syukurnya dibuatlah patung sesosok kambing PE jantan yang berdiri gagah di depan rumah.

Membuat patung untuk kenangan atau penanda prestasi tertentu sudahlah jamak. Banyak perempatan jalan juga ditandai dengan patung. Ada yang berupa sosok atau wujud binatang, orang, tumbuhan, buah dan seterusnya. Namun ada juga yang berbentuk piala penghargaan seperti Piala Adipura dan lain sebagainya.

Apa yang mau ditunjukkan lewat patung atau tugu memang bukan sekedar prestasi  melainkan juga kekhasan daerah itu, penanda atau ikon yang akan membuat orang mudah untuk mengenal dan mengenang.

Ketika pertama kali datang ke Samarinda sekitar tahun 2001, saya menyempatkan berjalan di tepian Sungai Mahakam. Sungai yang membuat saya kagum karena besar dan lebarnya. Dan tak sengaja kemudian mata saya menatap sebentuk patung yang warnanya sudah kusut. Ternyata itu adalah patung Pesut.

Dulu saya menyangka pesut adalah sebutan untuk lumba-lumba yang hidup di air tawar. Tapi ternyata berbeda. Perbedaan itu saya lihat di Taman Impian Jaya Ancol. Waktu masih sekolah di SMP, saya sempat ke Taman Impian Jaya Ancol dan menyaksikan pertunjukan pesut dan lumba-lumba, yang ternyata berbeda, lumba-lumba ada moncongnya, sementara pesut tidak.

Kelak saya tahu bahwa pesut yang ada di Taman Impian Jaya Ancol ternyata berasal dari Kalimantan Timur, tepatnya dari Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Setelah kurang lebih 15 tahun tinggal di Samarinda, akhirnya saya melihat pesut yang sesungguhnya. Mamalia air itu saya temui ketika saya pergi ke Desa Pela, tempat asal usul pesut yang saya lihat di Taman Impian Jaya Ancol dulu.

Desa Pela kini memang dikenal sebagai rumah pesut. Yang kerap bermain melewati sungai pela yang menghubungkan antara danau semayang dengan sungai mahakam.

Cerita kambing PE dan pesut memang berbeda. Kambing PE kini terkenal di berbagai tempat di Indonesia. Susu dan produk turunannya juga mulai ternama. Sedangkan pesut semakin lama justru semakin merana. Habitatnya menjadi kian sempit. Anak-anak sungai mahakam di bagian tengah yang tadinya merupakan tempat yang menyenangkan untuk pesut, beberapa diantaranya sudah menjadi tempat hilir mudik ponton batubara.

Jadi meski dibangga-banggakan, diceritakan dimana-mana, pesut yang langka ternyata merana. Tak nampak upaya yang berarti untuk melindungi dan menjaga dari kepunahan karena tempat pesut hidup juga merupakan pusat kepentingan yang menentukan gerak dan nadi kehidupan bukan hanya Kalimantan Timur melainkan juga Republik Indonesia.

Syukurlah masih ada sepenggal ruang aman dan semoga juga nyaman untuk pesut. Tempat itu adalah sungai Pela yang bebas dari lalu lintas ponton dan kapal-kapal besar lainnya. Warga desa di samping kanan kiri sungai yaitu Desa Sangkuliman dan Desa Pela juga sadar bahwa pesut adalah kekayaan dan kebanggaan yang harus dijaga.

Sebab jika tidak maka beberapa tahun lagi mungkin pesut hanya akan tinggal menjadi cerita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen − 17 =