Usai memasukkan kembali makanan yang jatuh ke dalam mulut dan kemudian diingatkan oleh yang lain, sesorang biasanya akan menjawab “Belum lima menit,”
Entah siapa yang memulai alasan itu untuk tidak membuang makanan yang jatuh. Seolah kalau belum 5 menit makanan yang jatuh ke lantai, karpet atau permukaan manapun masih layak dan sehat untuk dimakan. Kasarnya kalau belum lima menit berada di lantai makan makanan masih bersih.
Tapi begitulah kita, kesimpulan yang kemudian menjadi senjata untuk permakluman kerap kali memang ditarik berdasarkan pengalaman yang tidak ilmiah. Buat saya, belum lima menit itu sama seperti pengalaman masa kecil dulu. Setiap pagi di musim buah tertentu, biasanya cepat-cepat bangun dan kemudian menenggok kebun, bisa kebun sendiri atau kebun tetangga, untuk melihat apakah ada buah masak yang tergeletak, jatuh di bawah pohon.
Jambu, Mangga, Salam, Langsat, Sawo, Duku atau buah lain yang ditemukan tanpa dicuci langsung saja disantap, paling hanya dilap-lap dengan tangan, digosokkan di celana atau baju. Dan ternyata baik-baik saja. Padahal pasti buah-buah itu sudah tergeletak di tanah lebih dari lima menit.
Yang lebih parah dalam perjalanan pulang sekolah kalau lewat jalan besar sering kali kami juga memungut buah asam yang jatuh ke atas jalan, tentu saja sudah tidak utuh karena membentur permukaan aspal.
Jadi ‘belum lima menit’ itu tidak ada apa-apanya. Apalagi jika ‘belum lima menit’ itu diucapkan untuk alasan sepotong keripik yang jatuh di lantai keramik yang setiap hari dipel dengan cairan pembersih yang mengandung anti kuman.
Tumbuh dalam kebiasaaan seperti itu alhasil saya lebih menyukai iklan yang pesannya “Berani kotor itu baik,”. Padahal iklan itu sesungguhnya bukan soal menganjurkan hidup berkotor-kotor, melainkan kalau kotor jangan kuatir karena ada sabun ajaib yang bisa membersihkan kotor dalam sekejap.
Hidup bersih memang menjadi salah satu tantangan besar di Indonesia. Sebuah perusahaan sabun bahkan sampai membuat iklan dan program yang menganjurkan untuk selalu cuci tangan. Tapi malah yang berkembang adalah kebiasaan ‘cuci tangan’ yang lainnya.
Kuman, bakteri, virus sudah sejak masa sekolah dasar diajarkan sebagai sesuatu yang tidak kelihatan. Tapi sampai dengan pendidikan tinggi bahkan tinggi sekali kita selalu merasa yang tidak kelihatan itu tidak perlu dikhawatirkan. Buktinya ya itu tadi “belum lima menit,”
Kalau sejak dini kita sadar yang disebut kuman, bakteri atau virus pembawa penyakit itu patur diwaspadai, maka soal makanan jatuh tak perlu sampai menunggu lewat 5 menit, bahkan 1,2 atau 3 detik saja sudah cukup untuk membuat kuman, virus dan bakteri yang ada di tempat makanan jatuh itu berpindah tempat ke makanan yang kita masukkan ke dalam mulut.
Bertahun-tahun pemerintah lewat PKK, Posyandu, Dasa Wisma dan lain sebagainya melakukan penyadaran untuk hidup bersih. Tapi yang disadarkan maupun yang menyadarkan tak selalu bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dan tanpa diundang, datanglah pandemic Covid 19. Tidak bisa disyukuri namun ternyata membawa keuntungan lain. Virus yang bersamaan menyerang hampir semua wilayah di dunia ini memang tidak menunjukkan wajahnya namun akibatnya sangat nyata.
Tanpa ikut penyuluhan atau sosialisasi, banyak orang kemudian bukan hanya mempraktekkan hidup bersih melainkan juga mengingatkan orang lainnya. Rajin cuci tangan, kemana-mana membawa hand sanitizer, tidak mengobral tangan untuk bersalaman dan seterusnya.
Kalaupun ada yang mesti berusaha lebih adalah membiasakan diri memakai masker jika keluar rumah. Tapi tentu tak masalah, karena dulu orang juga mesti berusaha keras agar memakai helm setiap kali menaiki kendaraan bermotor.
Kini yang menjadi permasalahan apakah setelah Covid 19 berlalu, kita masih akan rajin mencuci tangan, membawa hand sanitizer dan memakai masker setiap kali keluar rumah?.
kredit foto : kompas.com (shutterstock)








