Paparan Dr. Agoes Maryono tentang ekohidrolika yang saya dengar ketika mengikuti sessi sekolah sungai di Gedung Pasca Sarjana UGM merubah pandangan saya tentang banjir dan kekeringan.
Usai mendengar pemaparan itu, saya tak lagi kerap terpana mendengar gagasan, pemikiran atau bahkan janji kampanye politik tentang mengatasi, mengelola dan mengendalikan banjir. Sebaik apapun yang mereka sampaikan selama konsep tentang banjir tidak mengintegrasikan dengan pencegahan kekeringan, maka abaikan saja.
Kini bagi saya konsep bagus soal penanganan banjir tanpa berpikir soal mencegah kekeringan atau ketahanan air sama saja dengan mengusir air atau menyia-nyiakan air. Banjir dan kekeringan itu saudara kembar begitu kata Dr. Agoes. Itu artinya penyebab banjir dan kekeringan interdependen. Daerah yang kerap kebanjiran maka akan kerap pula mengalami kekeringan.
Adalah benar yang dikatakan gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan bahwa takdir air hujan itu diresapkan ke dalam tanah bukan dibuang ke laut. Tapi masih perlu dilengkapi sebab kemampuan atau kecepatan tanah di tiap daerah tidak sama dalam menyerap atau menangkap air. Maka air yang tidak diserap atau diresapkan juga sebanyak mungkin harus ditampung entah dalam bentuk situ, embung, danau, rawa atau lahan basah lainnya.
Pada intinya bicara air hujan adalah bicara ketahanan air dengan cara sebanyak dan selama mungkin menahan air hujan agar tidak segera pergi ke laut.
Sampai dengan hari ini kita masih terjebak dalam kejadian terutama banjir. Sementara kekeringan belum terlalu dipikirkan. Khusus di Kota Samarinda kekeringan atau musim kemarau panjang bahkan amat jarang diperbincangkan. Padahal begitu lama tidak hujan sistem penyediaan air bersih kita biasanya terganggu karena kandungan air garam di sungai Mahakam akan meningkat dan PDAM akan berhenti berproduksi sebab tidak punya teknologi desalinisasi. Beberapa intake PDAM akan berhenti menyedot air sungai Mahakam untuk diolah menjadi air bersih. Dan peristiwa ini terus terjadi mulai dari PDAM berdiri hingga hari ini.
Isu ketahanan atau konservasi air belum menjadi isu utama. Dalam 20 bahkan 30 tahun terakhir yang terus menjadi perdebatan hanyalah soal normalisasi sungai sebuah konsep yang sejatinya sudah uzur namun terus dipertahankan karena kita terus dikungkung oleh pandangan bahwa satu satunya cara mengatasi banjir adalah dengan mengeringkan genangan.
Bicara soal banjir level kita memang belum beranjak dari watak to drain, mengeringkan.
Pernahkan kita berpikir bahwa banjir ataunya banyaknya air permukaan adalah pertanda kita secara kolektif telah menyia-nyiakan air. Air yang bahkan sering kita panggil untuk turun dengan doa doa bersama.
Luas dan dalamnya banjir adalah cermin dari banyaknya air yang kita abaikan, kita buang. Padahal air itulah yang seharusnya kita simpan untuk mengisi kantong air tanah dan badan badan air agar kelak bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan kita di saat musim kemarau. Sebenarnya bukan hanya kebutuhan kita tapi kebutuhan mahkluk hidup lainnya, flora dan fauna.
Bayangkan jika kantong air tanah tidak kita isi bagaimana nasib tumbuhan di musim kemarau. Mereka tak bisa memenuhi kebutuhan akan air karena akarnya tak menemukan air di dalam tanah. Haruskah kita menyirami semua pepohonan agar tak mati.
Dan jika pepohonan kekurangan atau kehabisan air lalu mati daun dan ranting kering berguguran, material organik kering yang bertumpuk di mana mana akan menjadi pemanggil api.
Sejatinya dengan semua perkembangan baik kerena perilaku kita maupun perilaku kebijakan bisa disimpulkan kita sudah kehabisan waktu untuk mencegah banjir dan kekeringan. Namun selalu masih ada harapan untuk mengejar atau membayar hutang abai kita di masa lalu
Dengan semua pengetahuan dan teknologi yang kita punya selalu terbuka untuk melakukan percepatan untuk membangun ketahanan air. Agar ketika bicara soal air tidak hanya tentang banjir dan kekeringan.
Bicara soal air terutama kebutuhan air bersih maka kita mesti memastikan soal 3 K yaitu Kualitas, Kuantitas dan Kontinuitas air.
Ketahanan air adalah soal ketersediaan air yang bersih dan sehat (kualitas), jumlahnya cukup (kuantitas) dan selalu tersedia sepanjang waktu (kontinuitas).
Dan untuk mewujudkan hal itu kita menghadapi tantangan 3 T, yakni too much, to little dan too dirty. Realitas air alami kita adalah terlalu banyak di musim hujan, terlalu sedijit di musim kemarau dan terlalu kotor di segala musim.
Jadi saat ini level perdebatan kita seharusnya bukan lagi soal normalisasi atau naturalisasi melainkan soal bagaimana membangun ketahanan air. Apapun caranya jika itu mampu meningkatkan kualitas air, kuantitas air dan kontinuitas air maka itulah yang harus kita lakukan. Ingat kita sudah amat terlambat untuk memulai maka jangan ditunda tunda lagi
kredit foto : pikiran-rakyat.com








