Soal banjir jangan ditanya lagi, sebab Samarinda memang kota air. Alhasil jika hujan cukup deras maka akan terjadi genangan di beberapa tempat. Realitas ini membuat setiap kali ada yang mengeluh tentang banjir maka akan segera ada yang menyahut “Ikam hanyar di Samarinda kah?”
Dan banyak orang mengatakan bahwa musuh air adalah api. Tapi untuk Kota Samarinda, air dan api sama-sama jadi teman. Selain terbiasa banjir, kebakaran juga merupakan sesuatu yang dekat atau bahkan akrab dengan kota ini.
Ada banyak catatan sejarah kebakaran yang besar selain kebakaran rutin yang setahunnya bisa terjadi ratusan kali.
Salah satu yang tercatat paling besar terjadi di tahun 1958. Kebakaran yang terjadi di tepi sungai Mahakam itu menghanguskan wilayah yang paling luas, mulai dari daerah yang sekarang dikenal sebagai Jalan Kalimantan, Sebatik hingga Flores. Saat itu bahkan rumah terapung yang dilepas talinya ada juga yang terlalap si jago merah.
Gubernur Kaltim saat itu, Abdoel Moeis Hassan membandingkan kebakaran itu sebagai mirip dengan keadaan ketika Samarinda dibombardir pesawat tempur sekutu.
Cerita kebakaran besar lainnya bisa dikisahkan oleh mereka yang tinggal atau pernah tinggal di sisi kanan kiri Sungai Karang Mumus. Wilayah yang sampai sekarang akrab dengan banjir dan kebakaran sekaligus.
Kenapa kebakaran besar kerap terjadi?. Barangkali dulu karena mayoritas bangunan adalah berbahan kayu. Kayu yang keras dan kering sehingga jika terbakar sulit untuk dikendalikan. Waktu itu armada atau peralatan kebakaran juga terbatas.
Namun sekarang kebakaran juga terus terjadi walau sebagaian besar rumah sudah berbahan beton atau tembok. Untungnya armada pemadam kebakaran sudah mencukupi karena ada banyak kelompok relawan pemadam kebakaran berdiri di Kota Samarinda.
Resiko kebakaran memang selalu besar terutama karena kita selalu berhubungan dengan api dan energi lain yang bisa menimbulkan api. Dan meski salah satu ketrampilan pertama yang dikuasai manusia adalah menjinakkan api, namun jika lalai maka api akan membakar dan sulit dikendalikan.
Kebanyakan kebakaran terjadi karena kelalaian, misalnya memasak dengan kompor, ditinggal dan lupa. Atau lupa mencabut setrika listrik dan lain-lain saat meninggalkan rumah. Instalasi listrik yang sembarangan dan tidak dipelihara juga merupakan penyebab lainnya.
Kejadian yang menimpa satu rumah kemudian membesar dan melebar karena terjadi di permukiman padat dengan jalanan atau gang yang sangat sempit. Pasukan dan peralatan pemadam tidak bisa leluasa masuk.
Terlebih lagi kejadian kebakaran sering kali mengundang orang berkerumun, kebakaran malah menjadi tontonan sehingga menganggu mobilitas petugas dan relawan pemadam kebakaran.
Namun sebagaimana halnya banjir, seringnya kejadian kebakaran tidak membuat kita semua sadar dan terus waspadai dalam memperlakukan segala hal yang bisa menimbulkan api. Akibatnya kebakaran terus saja terjadi, setahun bisa lebih dari 100 kali.
Dan ironinya meski kota kita sering kebanjiran, nyatanya kerap kali kita kekurangan air untuk memadamkan api kebakaran.
kredit foto : kaltim.tribunnews.com








