Kita mempunyai banyak sungai alami. Namun istilah riparian tidak terlalu kita kenal. Banyaknya sungai yang rusak, menurun kualitas air dan lingkungannya membuat kita lebih sering membincangkan turap, tanggul, relokasi rumah, pengerukan sedimen dan pembuatan taman di pinggir sungai.

Wajah sungai yang berantakan karena permukiman yang tak terkendali di kanan kirinya membuat kita lupa keindahan alami sungai.yang kerap kita lukiskan di masa sekolah dasar dulu.

Riparian berasal dari kata riparius atau sungai. Kata dasarnya ripa yang berarti bank atau pantai. Maka riparian adalah zona antara air dan daratan yang berupa lahan basah atau tutupan vegetasi pada tepian badan air seperti sungai, danau dan rawa.

Riparian adalah zona peralihan atau zona penghubung antara dua ekosistem.
Istilah riparian dikenal untuk badan air tawar atau air di daratan. Sementara untuk laut biasa disebut zona litoral.

Riparian juga biasa dikenal sebagai area tutupan vegetasi pada tepian badan air. Vegetasi yang tumbuh meliputi tumbuhan air, tumbuhan amphibi (tahan kondisi tergenang dan kering) dan tumbuhan lahan kering.

Tumbuh pada zona peralihan, membuat keragaman vegetasi di zona riparian menjadi sangat tinggi. Mulai dari tumbuhan di air seperti enceng gondok, rumput, kangkung-kangkungan, lalu di zona amphibi atau pasang surut ada tumbuhan perdu, seperti bakungan, semak berduri, gelagah, bamban, dan pohon seperti kademba, bengkal, bengkal, bungur, rengas, rumbia.dan lain lain. Di lahan kering ada semak, tebu-tebuan, bambu, pohon pulai, bayur, wanyi, bangeris dan lain lain.

Perpaduan antara tumbuhan merambat, bersulur, semak atau perdu, pohon rendah dan tinggi menjadi area riparian sebagai habitat bagi banyak jenis komunitas binatang baik yang menetap atau yang hanya sekedar singgah untuk mencari makan.

Di kawasan ini bisa dijumpai aneka hewan melata (reptil), aneka burung (aves), aneka seranga (insect), lebah, monyet-monyetan (primata) dan lain-lain.

Dan di dalam air di bawah teduhan rerumputan dan tanaman air lainnya serta pohon yang roboh ke dalam air akan banyak ditemui berbagai jenis ikan, udang, siput dan kerang-kerangan serta cacing.

Pendek kata zona riparian adalah zona yang sangat kaya dengan keragaman tumbuhan dan hewan, merupakan habitat atau rumah bagi banyak komunitas mahkluk hidup.

Lalu apa fungsi riparian selain sebagai habitat bagi berbagai komunitas mahkluk hidup di lingkungan badan air?.

1. Penjaga suhu dan iklim – tutupan vegetasi di kanan kiri sungai akan menjaga suhu air. Air yang terpapar panas matahari tanpa pelindung akan membuat mahkluk di dalam air tidak nyaman. Mahkluk dalam.air adalah mahkluk yang sensitif pada perubahan suhu yang ekstrim.

Tutupan vegetasi atau hutan di tepian air akan menghasilkan udara yang bersih, menyerap karbon dan panas udara. Serta menghasilkan semilir angin yang sejuk.

2. Sumber pakan – pucuk daun, buah, bunga yang dihasilkan oleh tumbuhan di tepi air adalah pakan bagi aneka hewan.

Daun dan ranting serta material organik lainnya adalah pakan bagi mahkluk dekomposer.

Busukan material organik dan sekresi dari mahkluk dekomposer adalah penyubur tanah, nutrien bagi tumbuhan. Jika hujan dan kemudian masuk ke dalam air juga akan menjadi sumber nutrisi bagi mahkluk di dalam air.

3. Filter atau penyaring – tutupan vegetasi di tepian badan air juga akan berfungsi sebagai penyaring air, penahan erosi dan sedimen serta sampah saat musim hujan. Air permukaan atau run off dari kanan kiri sungai akan tertahan sehingga tidak bisa langsung masuk ke dalam badan air.

4. Penangkap air hujan – saat hujan turun air tidak akan langsung menimpa permukaan pinggir badan air. Sebagian akan diresapkan dan sebagian lain akan masuk ke badan air sambil membawa nutrisi yang berada di lantai permukaan riparian.

5. Penahan banjir dan pengatur aliran air – banjir akan ditahan kecepatannya oleh aneka vegetasi yang hidup di tepian sungai. Kecepatan dan volume air akan diatur oleh riparian. Air yang melimpah tidak akan segera mengalir ke bawah. Arus atau derasnya air akan ditahan.

6. Koridor satwa – tutupan vegetasi yang menutupi sepanjang tepian sungai adalah jalur bagi satwa untuk berpindah atau bergerak dari satu tempat ke tempat lain secara aman dan nyaman.

7. Keindahan – keragaman satwa dan tumbuhan akan menyajikan keindahan alam, pemandangan yang menarik serta suasana yang menyenangkan dan menenangkan hati.

Dengan semua fungsinya yang hakiki maka tanpa riparian sungai tak akan lengkap. Sungai akan kehilangan manfaat dan fungsinya apabila kehilangan riparian.

Namun area riparian adalah area yang paling lemah dan paling sering dirusak atau bahkan dimusnahkan baik untuk permukiman maupun untuk kontruksi bangunan air. Konstruksi yang paling kejam terhadap riparian adalah penanggulan atau penurapan sepanjang tepian sungai apapun alasannya.

Turap atau tanggul apalagi yang berbahan masif seperti semen akan menghilangkan ekosistem antara, ekosistem peralihan dari air ke daratan. Tanggul atau turap adalah tembok penghalang.

Mungkin banyak yang berkilah nanti setelah diturap, ditanggul dengan beton kanan kiri sungai akan ditanami, dibuat taman dan menjadi ruang terbuka hijau. Sungai menjadi rapi dan indah.

Benar mungkin rapi dan indah di mata kita. Tapi sungai bukan hanya milik kita manusia. Sungai juga milik dan ruang hidup bagi mahkluk lain.

Ruang hijau setelah beton tidak terhubung dengan sungai. Ekosistem binaan yang tentu berbiaya besar untuk membangunnya bukanlah tempat hidup atau habitat bagi mahkluk yang rumahnya adalah ekosistem alam.

Yang akan ‘hidup’ atau beroleh hidup dari ruang terbuka hijau adalah binatang dalam bentuk patung. Tak mungkin ada monyet yang berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Burung pun akan enggan singgah dan bersarang.

Ular dan biawakpun pasti tak akan berani menampakkan diri terkecuali mereka tersesat.
Dan lebih dari itu turap dan tanggul beton tak akan berkontribusi apapun untuk memperbaiki kualitas air.

Zona RTH buatan tak akan secara sempurna menjadi area konservasi air dan tanah sebagaimana riparian.

Alam telah bekerja dengan sempurna, memberi layanan dan jasa ekologi yang gratis. Mestinya kita tinggal menikmati dengan cara menjaganya, tak usah merawat karena alam bisa merawat dirinya sendiri.

Tapi kita manusia sok sibuk. Mengatur atur alam karena merasa punya pengetahuan dan kepintaran. Karena studi banding ke negeri lain kita ingin membuat sungai kita seperti sungai di Belanda. Padahal yang kita sangka sebagai sungai di Belanda adalah saluran air, kanal.

Kita mengeluh tak punya cukup banyak tempat untuk piknik. Sibuk membangun tempat wisata tapi sebaliknya justru menghabisi ruang alami yang indah dan merupakan tempat rekreasi tiada duanya. Tak ada yang bisa meniru riparian. Setiap riparian adalah unik.

Sebagai bangsa religius kita hanya merasa berdosa jika menyakiti atau berbuat tidak baik kepada sesama manusia. Tapi kita tak pernah berdosa ketika merampas, merusak dan berbuat jahat pada ruang hidup mahkluk selain manusia.

Padahal mereka sama-sama ciptaan Tuhan. Ciptaan yang juga membuat hidup kita semakin enak dan nyaman.

Merusak sungai, menghancurkan dan memusnahkan ripairan tanpa sesal. Membuktikan kita dengan semua pencapaian pengetahuan dan teknologi tetap terbukti tak mampu meninggalkan kelakuan tuna adab.

Maka tak salah jika kemudian Tere Liye menulis novel berjudul Negeri Para Bangsat, eh…. salah,.maksudnya Para Bedebah.