Kenapa kita dahulu mempunyai hutan?.
Hutan ada karena saat itu belum banyak orang. Dari sedikit itu lebih sedikit lagi yang doyan menebang pohon. Semakin besar pohon semakin orang takut menebangnya. Sehingga perlu seorang yang khusus, pawang tebang pohon. Kemampuan untuk menebang pohonnya juga rendah. Tidak mungkin sehari bisa menebang puluhan pohon karena hanya memakai kapak.
Hidup matinya pohon saat itu lebih ditentukan oleh pohon sendiri. Jika akar tak lagi kuat menahan beban, pohon akan roboh sendiri dan kemudian membusuk perlahan.
Sampai dengan seratus atau dua ratus tahun lalu hutan masih terjaga. Kalaupun ada perdagangan hasil hutan yang dipanen adalah hasil hutan non kayu (non forest timber produk) berupa getah-getahan, minyak ekstraksi dari kulit, daun atau buah pohon hutan, kerajinan dari kulit atau batang tanaman hutan, madu, kulit binatang, bahan obat herbal dan seterusnya.
Penemuan teknologi menghasilkan mesin potong dan alat angkut yang perkasa. Dan teknologi tak pernah punya DNA takut pada para ‘penunggu’. Pohon yang dianggap paling keramat sekalipun dengan mudah bisa ditumbangkan.
Dengan cepat pohon-pohon tumbang. Hutan kemudian menjadi semak dan padang ilalang.
Pohon yang tegak berdiri kemudian berubah menjadi tiang, dinding, atap dan lantai rumah. Semakin banyak pohon ditebang semakin banyak rumah berdiri atau dibangun.
Pohon bukan hanya untuk bahan bangunan rumah melainkan juga untuk bahan kertas. Salah satu kertas yang paling banyak dipakai sekarang adalah tissue.
Sebagian hutan berubah menjadi permukiman yang berkembang menjadi kota yang tidak menyisakan pohon alami. Maka jika ada kehijauan di kota kita menyebutnya sebagai ruang terbuka hijau, bukan hutan.
Memang ada sebutan lain yaitu hutan kota, hutan yang bukan hutan karena tak punya kemampuan regenerarif. Tak banyak komunitas mahkluk yang menjadikannya sebagai habitat.
Kita hampir tak menyadari bahwa berbagai jenis binatang di hutan atau hewan liar adalah petugas kehutanan. Merekalah yang membuat siklus generatif hutan tetap terjaga. Membawa biji benih tersebar kemana-mana sejauh ruang orbitrasi mereka. Ada banyak bijian hutan yang akan lebih cepat bertunas kalau lebih dahulu di peran dalam perut hewan tertentu.
Hutan alam berbeda dengan hutan buatan, hutan hasil reboisasi. Semakin banyak campur tangan manusia dalam memulihkan hutan semakin jauh wajah hutan dari takdirnya. Sebab bagaimanapun seorang manusia sulit untuk lepas dari kesukaan atau kepentingannya untuk hanya menanam apa yang dia suka dan dia perlu.
Masyarakat sekitar hutan memulihkan sepenggal hutan yang dimanfaatkan semusim untuk bertanam akan meninggalkan lahan dan menjadikan sebagai tanah larangan, tidak boleh ada pengaruh manusia, bahkan tak boleh dilintasi agar lahan memulihkan dirinya sendiri dengan bantuan hutan dan seisinya yang mengelilingi lahan itu. Bertahun kemudian lahan itu kembali menjadi hutan.
Jika lahan itu dijadikan proyek penghijauan atau reboisasi nisacaya hanya akan ditanami tumbuhan yang disukai penanamnya. Dan sekalipun menghutan maka lahan itu adalah kebun. Karena bukan berisi tumbuhan melainkan tanaman. Hutan jenis ini kita temukan misalnya dalam istilah hutan tanaman industri.
Kenapa lingkungan kita semakin panas?.
Salah satunya kurang pohon. Jadi perlulah kita menanam pohon. Tak usah toh nanti juga akan ditebang, karena semakin besar dan tinggi pohon akan membuat kita khawatir. Khawatir pohon roboh dan menimpa rumah, menimpa kabel listrik atau menghalangi jalan. Atau bahkan menimpa orang dan kendaraan yang sedang melintas.
Toh kesejukan di dalam rumah bisa diganti dengan AC yang dinginnya bisa disetel. Di perkotaan pohon memang jadi ancaman. Karena di tanam tak semua punya kemampuan untuk bertahan saat musim kemarau. Pohon mesti disiram.
Tak semua mampu menancapkan akarnya dengan kokoh sehingga sering roboh. Tak semua kuat dahannya sehingga sering kering dan keropos lalu jatuh menimpa apa saja yang dibawahnya.
Tempat yang paling memungkinkan untuk bertumbuh pohon adalah sungai dan rawa-rawa. Tapi pohon-pohon di tepi sungai yang kemudian paling tidak bertahan. Pohon diganti dengan tiang rumah. Tak jauh dari sungai dibangun jalan yang sebangun dengan sungai.
Dengan bertumbuh jalan akan bertumbuh permukiman dan keramaian. Dan pohon adalah musuh permukiman.
Rawa-rawa pun tak akan dibiarkan. Ketika daratan menjadi lebih mahal maka rawa akan diuruk, dijadikan daratan kering. Dan hilanglah pepohonan rawa.
Dan daratan yang menjadi permukiman tak akan membiarkan tanah terbuka karena akan becek di musim hujan dan berdebu di musim kemarau. Maka akan dilakukan perkerasan lahan. Yang disemen bukan hanya dinding melainkan juga jalanan dan halaman.
Andaikan semua pinggiran sungai adalah hutan, atau jalur yang ditumbuhi pepohonan maka kita bisa ngadem, duduk duduk di bawah pohon sambil memancing ikan.
Tapi karena tiada lagi pepohonan di pinggir sungai maka jangan salahkan kalau kemudian lebih banyak orang menjadi suka memancing keributan.








