Kalau ada orang yang paling di kenal di Indonesia akhir-akhir ini tak pelak lagi pasti akan tersebutlah nama Ahok, Gubernur DKI Jakarta. Ahok dikenal karena bicaranya yang ceplas-ceplos, bahkan bagi banyak orang lebih disangka sebagai kasar. Tak heran jika kemudian banyak yang berpandangan bahwa Ahok tak layak jadi pemimpin karena gaya bicara dan gaya komunikasinya.
Mustofa yang tinggal di Samarinda adalah warga provinsi Kalimantan Timur. Gubernurnya tak kalah terkenal dengan Ahok karena program-programnya yang luar biasa terutama dalam urusan iklim, pembangunan hijau dan pembangunan hal-hal lain yang serba raksasa. Namun ternyata Mustofa tak terlalu mengenal gubernurnya sendiri, sebab hanya sesekali muncul di televisi nasional. Dan gubernur yang mungkin diberitakan setiap hari di koran ini mungkin tidak dikenal oleh Mustofa lantaran dirinya sangat jarang membaca koran. Satu-satunya koran yang sering dibacanya adalah koran bungkusan gorengan.
Lain cerita dengan Ahok yang terus dibahas dalam nuansa multimedia dan multichannel. Ahok bisa ditemukan dimana-mana, bukan hanya di layar kaca, lembar kertas media namun juga di dunia maya dengan berbagai macam aplikasinya. Seolah-olah tiada hari tanpa Ahok.
“Mumus siapa orang paling terkenal se Indonesia?”
“Ya pasti presiden lah,”
“Bukan, kali ini presiden kalah,”
“Mana ada orang bisa mengalahkan presiden terkenalnya,”
“Ada … coba siapa?”
“Ah nda tahu aku,”
“Makanya baca Mumus,” ujar Bondan serius.
Dan karena Mustofa tak bisa menebak, maka Bondan akhirnya menjawab sendiri pertanyaannya.
“Itu lo Mumus, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, Gubernur DKI Jakarta,”
“Oh, iya lupa aku dengan gubernur yang terkenal menggusur sungai dan menguruk pantai itu ya?”
“Pas sudah kamu itu. Kurang terkenal apa orang itu?”
“Iya saking terkenalnya sampai aku nggak ingat,”
“Eh, Mumus kira-kira kalau dia jadi Gubernur Kalimantan Timur, bisa bersih lah Sungai Karang Mumus dari pemukiman di atas sungai dan sampah?”
“Belum tentu Bondan. Jakarta kan beda dengan Kalimantan Timur. Disini kan soal gusur menggusur kan agak woles bro,”
“Selow gimana maksudnya Mumus,”
“Ya kamu lihat lah rencana relokasi Sungai Karang Mumus, sampai sekarang nggak selesai-selesai. Contoh lain orang jualan di taman tepian yang tadinya dilarang, nda lama jualan lagi,”
Berita pembersihan dan penggusuran memang bukan barang baru di Kota Samarinda. Namun adalah sesuatu yang ajeg jika kemudian tempat yang telah dibersihkan atau ditertibkan tak lama lagi akan kembali ke kondisi yang sama.
“Kok bisa begitu ya Mumus?”
“Ini soal backing Bondan. Segala sesuatu itu ada backingnya,”
“Jadi kalau di pinggiran Sungai Karang Mumus jelas-jelas ada aktivitas pencemaran sungai terbuka dan pasti melanggar Undang Undang tapi tak berhasil ditertibkan itu karena ada backingnya?”
“Paling tidak memang seperti itu. Atau memang kelompok ‘abu-abu’ antara legal dan illegal ini memang sengaja dipertahankan. Kalau dalam demokrasi langsung, kelompok ini adalah kantong suara,”
“Oh, paham aku inilah yang mungkin disebut sebagai politik tansaksional ya Mumus?”
Memang selalu ada tengggara bahwa wilayah yang kerap disebut wilayah abu-abu, daerah slum area dan sebagainya demi kepentingan politik tertentu sering dibiarkan tetap ada. Menjelang perhelatan demokrasi, ada dea-deal tertentu antara pelaku politik dan warga yang menghuni di area itu. Entah warga secara kolektif atau melalui tokoh tertentu, mereka diberi konsensi sebagai tukar guling dukungan suara. Sesuatu yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pemodal yang menyokong tokoh tertentu sebelum pemilihan dan kemudian mendapat konsesi ijin setelah yang disokong itu berkuasa nanti.
“Politik kita memang transaksional Bondan. Sederhananya kamu dapat apa, aku dapat apa. Politik sesederhana itu meski dalam UU dan berbagai peraturan nampaknya rumit,” ujar Mustofa seperti pengamat politik saja.
“Ngeriknya definisi politikmu itu Mumus,”
“Bukan aku Bondan, itu yang memang biasa orang-orang sebut dan praktekkan,”
“Bisa nggak sih, misalnya warga disini bikin kontrak politik untuk menata permukiman bersama, nda perlu menggusur,”
“Bisa saja, tapi siapa yang mau?, bapakku saja nda pernah berpikir untuk pindah biarpun setiap hari mengeluh airnya sudah jelek dan orang selalu bertanya kalau beli tempe, ini tempe dari mana?”
“Iya, ya Mumus, Jakarta saja yang banyak orang pintarnya masih main gusur,”
“Jakarta bukan cuma main gusur Bondan, tapi juga main timbun. Orang-orang kaya yang susah dapat tanah yang strategis dan sesuai dengan keinginan mereka, main timbun laut. Mereka bukan cuma dapat tanah rata yang bisa dibentuk sesuai keinginan tapi juga dapat pemandangan lautan, pemandangan yang mestinya untuk semua orang bukan dikuasai oleh orang-orang tertentu,”
“Ya sebenarnya nda beda-beda jauh dengan Sungai Karang Mumus. Itu badan sungai ditajak jua lalu ada yang menimbun badan sungai, lumayan lebar untuk jadi jalan masuk ke kaplingannya,”
“Pas memang dengan cita-cita kota ini untuk jadi Water Front City ya,”
“Betul ..betul ….” ujar Mumus menirukan serial Upin dan Ipin.
Perbincangan Mumus dan Bondan tak berujung namun pada akhirnya mereka sepakat bahwa pembangunan kerap kali sama artinya dengan gusur dan timbun.
“Oh iya tapi kalau kita di sini masih tambah lagi tebang dan keruk tanpa diuruk,” ujar Mustofa yang kemudian harus beranjak pulang ke rumah karena sudah diteriaki oleh Mamaknya.
Mumus harus segera melangkahkan kaki ke rumah, sebab teriakan Mamaknya adalah pesan bahwa jangan sesekali membantah panggilan, sebab murka lain akan muncul jika panggilan itu diabaikan. Dan Mustofa tahu bahwa jika murka Mamaknya meledak maka hari-harinya ke depan bakal tidak enak.








