Memasuki tahun 2021, vaksin yang dipesan oleh pemerintah mulai berdatangan.
Telah didistribusi ke berbagai daerah dan para tokoh menjadi contoh sebagai yang pertama disuntik vaksin Covid 19.
Ternyata dari mereka yang disuntik kemudian ada yang terinfeksi.
Dan hari-hari ini meski vaksin telah didistribusi ternyata angka infeksi belum menurun atau malah cenderung tetap naik.
Ada apa ini?.
Soal ada apa tergantung kepada cara kita memandang dan memahami fenomena ini.
Untuk yang gemar menyerang pemerintah secara membabi buta ini adalah amunisi.
Dan sudah ada yang melakukannya dengan menyebut vaksin yang didatangkan adalah vaksin rongsokan.
Serangan untuk menyebut vaksin sebagai rongsokan memang meyakinkan. Sebab disertai data yang menunjukkan efektifitas vaksin berbeda-beda dari satu negara ke negara lainnya saat ujicoba.
Pada sisi lain untuk mereka yang berpikir jernih, baik dengan tujuan membela pemerintah ataupun tidak, fenomena ini bisa menjadi kesempatan untuk memberi penjelasan lebih dalam tentang seluk beluk vaksin.
Bicara soal efektifitas jangan beda negara dalam satu negara saja jika samplenya beda kelompok hasilnya juga akan berbeda.
Pada satu kelompok bisa jadi keberhasilannya 50%, sementara pada kelompok lain 90%.
Kok bisa?. Ya, bisa lah.
Vaksin itu bukan sulap atau sihir. Tidak langsung efektif begitu disuntikkan. Ada yang disebut masa inkubasi sehingga seseorang akan jadi imun. Berapa rentang waktunya, masing-masing berbeda.
Maka wajar bila habis disuntikkan ada yang tetap terinfeksi. Bisa jadi karena ada infeksi sebelumnya atau bisa jadi terinfeksi sesudah vaksin karena imunitas belum terbentuk.
Jadi kalau sesudah divaksin dan kemudian jingkrak-jingkrak kesana kemari melanggar 3 M ya wajar saja jika kemudian terinfeksi.
Bahwa ada yang skeptis soal vaksin itu tanda yang baik. Tetapi lain halnya kalau kemudian jadi sinis.
Ragu itu baik karena efektifitas vaksin tidak sekadar pada vaksin itu sendiri melainkan juga perilaku baik masyarakat maupun kebijakan.
Berharap vaksin segera memutus rantai penularan tentu saja tidak benar. Yang disebut sebagai rantai terputus adalah kala virus tak bisa lagi menemukan sasaran. Kondisi ini disebut sebagai kekebalan komunitas.
Dan untuk mencapai itu minimal jumlah populasi yang divaksin dan kemudian imun adalah 70%. Jadi sebelum itu tercapai trend infeksi bisa saja tetap baik meski banyak orang yang sudah disuntik.
Skeptis penting agar kemudian pemerintah konsisten dalam menerapkan kebijakan. Berlaku adil dalam memenuhi hak dasar masyarakat. Dan kesehatan adalah salah satunya.
Lain halnya dengan bersikap sinis. Seperti menyebut bahwa yang disuntikkan hanya air. Atau mengatakan presiden dan tokoh lainnya adalah endoser vaksin tertentu.
Sinisme tidak akan punya arti apa-apa karena sinisme tidak pernah disertai dengan alternatif laku yang lebih baik.
Menyebut vaksin sebagai rongsokan, comberan atau apalah, hanya akan berhenti pada sebutan saja. Dan bahkan bisa menyesatkan.
Bahwa proses penemuan vaksin dikebut, menerabas beberapa tahapan, itu bisa dimaklumi karena kedaruratan.
Apa yang penting adalah penilaian dari institusi yang berwenang, panel ahli yang tentu saja tak akan mengadaikan harga diri mereka untuk meloloskan sesuatu yang tidak layak.
Sampai dengan hari ini cara terbaik untuk menghadapi pandemi adalah vaksin, andai vaksinnya berhasil ditemukan.
Tidak adakah cara lain?.
Ada saja. Yaitu lockdown. Mengisolasi yang terinfeksi dan yang tidak terinfeksi.
Tapi mampukah kita melockdown satu dunia bersamaan?. Tentu saja sulit atau bahkan mustahil.
China sudah membuktikan dengan kemampuannya melockdown satu wilayah. Namun ternyata keberhasilan melockdown Wuhan, tidak membuat China bebas dari Covid 19 hingga hari ini.
Sebab begitu lockdown dibuka, virus bisa datang kembali karena dibawa oleh orang yang datang dari luar, datang dari daerah yang tidak dilockdown.
Jadi masihkah kita perlu ribut-ribut soal vaksin?. Silahkan saja, tapi nggak perlu sinis.
Menerima atau menolak vaksin itu adalah hak kita. Tapi ingat vaksin adalah produk ilmiah dan tentu saja kalau menolak alasannya juga harus ilmiah.
Diluar alasan ilmiah, penolakan vaksinasi hanyalah duga-duga yang sulit dibuktikan kebenarannya. Atau bahkan merupakan upaya untuk mengaburkan kebenaran.
Menutupi atau mengaburkan kebenaran jelas bukan perilaku yang benar apapun alasannya.
Sumber gambar : Steven Cornfield – unsplash.com








