Salah satu jenis menu andalan dari rumah makan minahasa adalah paniki.
Menu ini diolah dari daging kelelawar yang sebelumnya dibakar untuk menghilangkan bulu halusnya. Dimasak dengan rempah-rempah lengkap ketika santannya mulai mengering paniki siap disajikan.
Yang biasa mengkonsumsi kelelawar bukan hanya orang Minahasa. Di sebagian wilayah Jawa, codot, sebutan untuk kelelawar pemakan buah juga diburu. Codot dipercaya mampu menyembuhkan penyakit asma.
Baik penggila paniki maupun pemakan codot,.keduanya baik-baik saja. Belum ada laporan kasus penularan penyakit karena mengkonsumsinya.
Meski demikian di tempat lain ternyata kelelawar pemakan buah ini menjadi sumber penularan penyakit.
Kasus terakhir penyakit zoonotic yang ditularkan oleh kelelawar kepada manusia adalah Covid 19.
Konon bermula dari kebiasaan penduduk di Wuhan yang biasa mengkonsumsi kelelawar, tapi bukan dimasak seperti Paniki, melainkan dimakan mentah-mentah.
Kelelawar memang dikenal sebagai pabrik virus. Kelelawar mampu membawa virus dalam badannya tanpa menginfeksi tubuhnya. Dengan demikian kelelawar sebagai pembawa virus berpotensi menularkan kepada manusia maupun mahkluk lainnya.
Hampir genap setahun pandemi bersama kita. Virus yang terus disangka sebagai jadi-jadian itu berhasil memporak-porandakan berbagai aspek kehidupan.
Yang hilang bukan hanya banyak nyawa, tak sedikit pula yang kehilangan pekerjaan, kehilangan kontrak, kehilangan pelanggan, kehilangan kesempatan dan lain sebagainya.
Semua hal menjadi berantakan karena berbagai pembatasan. Gerak dan gerik serba dibatasi.
Tak heran jika kemudian ada kelonggaran terjadilah keramaian dan kerumunan. Orang berbondong-bondong datang dengan percaya diri. Beberapa diantaranya kemudian menimbulkan kasus baru. Yang longgar kemudian diketatkan kembali.
Harapan merekah ketika vaksin ditemukan, diproduksi dan mulai didistribusi. Vaksinasi menjadi tumpuan untuk mengusir pandemi. Kekebalan komunitas diharap bisa tercapai dengan vaksin.
Akankah semudah itu?. Belajar dari virus cacar, ternyata butuh h waktu 200 tahun untuk menciptakan kekebalan komunitas dengan vaksin.
Dengan semua kemampuan dan keadaan sekarang mungkin akan lebih cepat namun tak berarti ancaman akan segera berlalu.
Lagi pula dalam perjalanan vaksinasi bisa saja virusnya bermutasi, muncul virus-virus baru yang kemudian menginfeksi dan kembali menjadi pandemi.
Normal Baru
Rasanya perilaku ininyang terus harus dipertahankan. Untuk Covid 19 sudah jelas dirumuskan yaitu 3 M. Dan mungkin nanti ada M untuk virus-virus lainnya.
Kewaspadaan universal harus menjadi standar utama dalam berperilaku terutama perilaku sosial.
Tapi itu baru bicara hubungan antar orang. Ada hubungan lain yang penting terkait dengan pandemi yaitu hubungan manusia dengan alam dan lingkungan.
Covid 19 adalah salah satu dari sekian banyak penyakit yang ditularkan oleh hewan. Bisa hewan peliharaan, bisa pula hewan liar.
Penyakit yang ditularkan oleh hewan peliharaan jauh lebih mudah diatasi karena hewannya jinak. Sehingga mudah dikarantina atau dimusnahkan. Namun bagaimana dengan hewan liar?.
Hewan liar kemudian dekat dengan kita selain karena perburuan dan konsumsi juga karena mereka mendekat akibat kehilangan habitat.
Karena habitatnya terganggu atau bahkan hilang mereka kemudian mendekati permukiman manusia. Sebab permukiman manusia selalu berarti pusat dari sumber pakan.
Baik pakan yang ditanam, disimpan maupun pakan sisa yang dibuang.
Oleh karenanya berhubungan baik dengan alam dan lingkungan harus menjadi norma normal baru. Covid 19 mestinya jadi gerbang bagi kita untuk masuk dalam wawasan baru dalam hubungan dengan alam dan lingkungan.
Kita hidup di muka bumi tidak sendiri, bukan pula hanya dengan sesama manusia. Lahan tempat tinggal kita dan mencari penghidupan adalah tempat tinggal dan ruang hidup mahkluk lainnya baik yang bergerak maupun tumbuh di tempat.
Ketika ruang dan hak hidup mereka kita rampas maka mereka akan merangsek pula ke ruang-ruang hidup kita.
Jadi jangan heran jika kelelawar yang adalah petugas kehutanan, penebar biji dari buah yang dimakannya. Ketika hutan habis maka mereka akan menjadi penebar virus.
Sebagaimana bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, kekeringan, pandemi atau bencana kesehatan sebenarnya kerap kali datang karena undangan kita.
Sumber gambar : kompas.com/shutterstock








