Revolusi pertama yang membuat manusia kemudian meninggalkan cara hidup seperti kebanyakan binatang adalah revolusi budaya pertanian.

Dengan melakukan domestifikasi (bercocok tanam dan beternak) pada beberapa jenis tumbuhan dan binatang, manusia kemudian hidup menetap. Tidak lagi berkelana memenuhi kebutuhan makan dengan mengambil tumbuhan liar dan berburu.

Untuk pertama kali manusia kemudian mengenal pemeliharaan, merawat tanaman dan ternak agar tumbuh dengan baik agar kelak bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan.

Dengan makanan yang lebih baik, makanan yang lebih enak karena dimasak, manusia kemudian punya kemampuan lebih, berkembang kecerdasan dan peradabannya.

Konsekwensi dari budaya tani, tanah kemudian menjadi aset penting untuk menjamin ketersediaan pangan.

Tanah Sehat dan Subur

Bagi tumbuhan, tanah mempunyai fungsi sebagai tempat untuk bertumbuh, berkembangnya akar, lumbung udara bagi pernafasan akar, tempat persediaan unsur nutrisi, tempat penyimpanan air dan rumaj bagi mikro dan makro organisme yang berpengaruh pada pertumbuhan dan kesehatan tumbuhan.

Oleh karenanya dalam budidaya tanaman perlu dipenuhi dua syarat yaitu tanah atau lahan harus subur dan sehat.

Kenapa kesuburan dan kesehatan tanah dibedakan?.

Kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman dengan sifat kimia, fisika, dan biologi yang dimilikinya. 

Sedangkan kesehatan tanah adalah  suatu keadaan tanah yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman secara sehat tanpa adanya gangguan apapun.

Dilihat dari faktor penyebabnya, penurunan kesuburan tanah adalah  penyerapan zat hara oleh tanaman, penguapan elemen hara ke atmosfer, resapan ke dalam tanah, dan terjadinya erosi. 

Sementara penyebab tanah menjadi tidak sehat adalah tidak pernah diberi bahan organik, pemakaian pupuk yang berlebihan, terjadinya pencemaran bahan kimia berbahaya (seperti pestisida kimia), pemanasan berlebih diatas lahan dan juga erosi.

Pertanian (perkebunan) butuh tanah sehat dan subur tapi pertanian bisa pula menyebabkan tanah menjadi tidak sehat dan tidak subur.

Menanami lahan terus menerus akan membuat tanah menjadi kehilangan kesuburan. Bertanam satu jenis tanaman secara terus menerus pada lahan yang luas akan membuat tanah menjadi tidak sehat.

Dan untuk menggenjot atau mempertahankan kesuburan,.petani biasanya memberi pupuk pada tanah. Pupuk buatan atau lazim disebut pupuk kimia. 

Pemupukan yang terus menerus akan mengakibatkan tanah menjadi keras karena kekurangan bahan organik.

Ketika tanah keras maka kesehatan tanah menjadi terganggu. Kemampuan tanah untuk menyerap air pada musim hujan berkurang, sehingga erosi akan semakin tinggi. Tanah kemudian akan semakin kehilangan permukaannya. 

Keadaan akan semakin memburuk dengan fokus perhatian petani pada tanaman, bukan tanah dan lingkungannya. 

Pemakaian racun untuk membunuh serangga dan tanaman penganggu membuat kondisi tanah menjadi memburuk. Tanah tercemar dan organisme dalam tanah juga ikut terganggu atau mati. Gangguan terhadap organisme dalam tanah akan menyebabkan gangguan pada kesuburan dan kesehatan tanah.

Pertanian Organik

Tanah konon merupakan pelapukan dari batu yang dilumat oleh lumut.

Permukaan tanah kemudian bertambah dengan material organik yang didekomposisi oleh makluk dekomposer. Material organik ini mengandung kesuburan yang berasal dari sekresi atau kotoran mahkluk dekomposer.

Produsen material organik yang bisa menambah permukaan tanah dan kesuburan yang terbesar adalah hutan.

Saat hujan dan material ini kemudian ditransportasi oleh air permukaan yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah.

Selain masuk ke badan air yang kemudian menjadi sumber nutrisi untuk mahkluk dalam air, material ini kemudian mengendap di lembah-lembah, menghasilkan lahan yang subur dan siap untuk bercocok tanam.

Siklus musim adalah jadwal yang menjadi batu penjuru untuk menentukan kapan bertanam dan kapan melakukan jeda tanam. Tanah perlu diistirahatkan agar kembali mendapat pasokan material organik dari hutan yang didistribusi oleh aliran air hujan dan disebar secara merata oleh banjir.

Pertumbuhan jumlah manusia, konsentrasi permukiman di daerah tertentu membuat bentang alam berubah. Siklus produksi unsur penyubur dan penyehat tanah terganggu. Produsen material organik terus dibabat.

Petani kini menjadi ‘budak’ penopang peradaban. Harus menghasilkan pangan dengan cara yang tak menguntungkan. Lahan tempatnya bertanam semakin hari semakin memburuk sehingga untuk menyuburkan harus dipupuk dengan pupuk yang dibeli dari pabrik.

Harga pupuk yang mahal tidak sebanding dengan penjualan hasil bertani. 

Terus mengandalkan model pertanian dengan pupuk petrokimia tak mungkin membuat petani sejahtera.

Sebab untuk menjaga kesuburan tanahnya petani mesti membayar mahal. Kesuburan yang bahkan kemudian akan membuat tanah menjadi tidak sehat.

Jalan untuk kembali membuat petani menjadi sejahtera adalah pertanian organik. Namun sayangnya institusi yang punya kebijakan soal pertanian lebih memilih bersahabat dengan produsen pupuk kimia sintetis ketimbang hutan.