Salah satu yang membuat bumi menjadi indah itu bunga atau kembang. Di mana ada kembang disitu ada keindahan meskipun tak sedikit juga kembang yang mengandung racun.

Banyak tempat juga dinamai dengan kembang, seperti pulau kembang misalnya. Ada juga tempat-tempat lain yang dinamai kembang namun berisi kembang dalam konotasi yang lain, semisal Pasar Kembang atau Sarkem yang tidak benar-benar merupakan tempat jual beli kembang.

Nama kembang tak melulu ada di pulau jawa, nun jauh di kepulauan nusa tenggara tepatnya di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat juga ada sebuah desa bernama Kembang Kuning.

Dahulu desa ini hanya dilewati oleh wisatawan yang hendak menikmati panorama Gunung Rinjani. Namun kini desa ini percaya diri bahwa keindahan panorama desa yang berada di kaki gunung ini merupakan potensi untuk menarik para wisatawan, utamanya wisatawan asing.

Kembang Kuning membongkar pesona yang tidak disadari yaitu pemandangan persawahan di kaki gunung, jalan pedesaan, aktivitas penduduknya dan bau-bau khas alam seperti bau kembang kopi, kopi yang disanggrai, bau minyak kelapa dan lain sebagainya.

Yang disebut dengan potensi wisata bukan hanya goa, pantai, air terjun melainkan kehidupan dan kebiasaan harian warganya. Maka wisatawan yang datang bukan sekedar menikmati keindahan melainkan ikut merasakan dan merayakan kehidupan bersama warga.

Dan ajaibnya yang diberi tarif mahal adalah ikut merasakan atau melakukan yang biasa dilakukan sehari-hari oleh warga.

Ambil contoh, jika menikmati kelapa muda yang sudah dipetik maka harganya Rp. 5.000 namun jika ingin memetik sendiri maka mesti membayar Rp. 20.000.

Atau jika ingin membawa pulang kopi yang sudah disanggrai maka diberi harga Rp. 50.000 per kilo, namun jika kemudian ingin memetik sendiri,mengolah dan menyanggrainya maka harus mengeluarkan ongkos Rp. 250.000.

Luar biasa idenya, Desa Kembang Kuning bukan hanya ikut-ikutan mengembangkan desanya menjadi desa wisata seperti mayoritas desa di seluruh Indonesia namun juga mengembangkan model bisnisnya sendiri.

Apa yang diterapkan bukan menjadikan desanya lebih baik dari desa lain, melainkan berbeda dengan desa lain. Bayangkan apa yang dipraktekkan di desa ini adalah “Yang susah dan bikin lelah itulah yang lebih mahal,”.

Sekali lagi menawarkan keindahan alam adalah hal yang biasa di Indonesia yang memang kaya dengan panorama alam. Dan jika semua menjual keunikan atau keindahan alamnya maka tentu saja sulit bersaing apalagi jika lokasi desanya bukan pada jalur-jalur utama pergerakan ekonomi atau transportasi.

Maka memberkan atau menawarkan sesuatu yang berbeda atau lain sedikit dari yang lainnya justru yang menjadi daya tarik orang untuk datang.

Masalahnya di Indonesia, ada kebiasaan untuk meniru atau ikut-ikutan. Seperti jika sebuah desa berhasil dengan panorama warna-warni maka desa-desa lain yang mungkin dibawa studi banding kesana kemudian akan mengikuti. Dan kemudian bukan hanya rumah yang dicat warna-warni melainkan juga jalan bahkan kuburan.

Nah, Desa Kembang Kuning kemudian mempelopori arus lain yang disebut wisata susah payah. Sebuah paket wisata yang membuat pengunjung bisa merasakan sensasi bersusah payah, melakukan apa yang biasa dilakukan oleh penduduk disana.

Dan benar saja ternyata tak sedikit yang mau membayar untuk bersusah payah karena mereka bisa merasakan pengalaman yang langka. Pengalaman itulah yang mahal karena mungkin merupakan pengalaman pertama atau pengalaman yang tak mungkin bisa didapatkan di lingkungan tempat tinggalnya.

Model bisnis wisata yang diterapkan di Desa Kembang Kuning ini sesungguhnya pembalasan untuk orang kota. Selama ini orang desalah yang selalu membayar mahal untuk semua produk-produk dari kota, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari yang banyak dijajakan di warung-warung desa adalah produk yang datang dari kota. Maka kini giliran orang kota untuk membayar mahal apa-apa yang biasa bagi orang desa.

Apakah model bisnis wisata Desa Kembang Kuning ini akan ditiru oleh desa-desa lainnya?. Sepertinya tidak sebab model ini tak butuh modal banyak selain kepercayaan diri dan pengetahuan tentang apa yang mereka lakukan sehari-hari. Buat sebagian besar desa dan organisasi atau institusi lain yang kerap memberi bantuan untuk pengembangan wisata, yang disebut pengembangan desa wisata mesti banyak ‘belanja’.

Maka tak heran jika kemudian kita sering menemukan ‘contradictio in actu’, sebuah desa mengembangkan wisata ekologi tapi dengan menumpukan bantuan pada perusahaan-perusahaan yang merusak alam, merusak potensi wisata ekologi.

Apa yang dilakukan oleh Desa Kembang Kuning bisa jadi juga merupakan anomali. Sebab kebanyakan wisatawan negeri ini hanya butuh keindahan untuk ditangkap dengan kamera lalu diunggah ke instagram atau media sosial lainnya dengan wajah yang nampak bahagia. Entah bahagia jugakah di hati itu tidak penting, yang paling penting adalah indah di Instagram dan murah.

Maka susah payah dan harus bayar mahal jelas bukan pilihan. Sebab kita hanya ingin yang indah tapi ikut serta menjaga sesuatu tetap indah, biasanya kita tidak sudi.

kredit foto – mandalikapost.com