Yang disebut dengan citizen videographer memang cekatan. Jempolnya sudah sangat terlatih untuk segera membuka kamera dan menekan tombol records.

Para videographer ini seolah punya penciuman tajam, peristiwa mana yang pantas direkam karena punya potensi untuk menjadi viral 

Tanpa berniat mengambil untung dari hasil rekamannya, citizen videographer ini dengan segera mengunggah hasil rekamannya di sosial media. 

Dan hasilnya ….boom. Video rekamannya menyebar melampaui kecepatan cahaya. 

-000-

Pada masa libur lebaran kali ini di berbagai platform media sosial beredar banyak rekaman video yang berisi orang marah-marah.

Ada yang marah-marah karena diminta putar balik pada titik penyekatan untuk pembatasan mudik, ada yang marah marah karena barang pesanan tak sesuai ekpektasi.

Dan di Samarinda ada yang marah-marah karena terusik oleh kehadiran jurnalis yang melakukan peliputan.

Tanpa diundang video-video yang berisi kemarahan itu mampir di linimassa media sosial saya.

Saya sendiri tak terlalu suka menyaksikannya. Saya juga tak hendak memberi reaksi, me-like, men-share atau mengomentarinya.

Yang saya suka adalah membaca deret komentar dari mereka yang sudah menyaksikan sebelumnya.

Membaca puluhan bahkan ratusan komentar itu sungguh menghibur. Dan terkadang bikin kagum karena tak sedikit dari antara mereka yang berkomentar itu berbakat jadi detektif. 

Dengan sangat cepat dan tanpa disuruh, beberapa orang segera melakukan penyelidikan dengan melakukan tracking di media sosial sehingga ketemu akun orang yang marah-marah itu.

Segera akun dan isinya di-capture. Karena para detektif ini sadar bahwa pemiliknya pasti akan menghapus atau menguncinya.

Jagad media sosial kemudian menjadi semakin ramai, yang diperbincangkan bukan hanya video rekaman melainkan juga jejak digital pelakunya. Komentar akan semakin melebar.

Yang pertama kali meng-upload video tak lagi punya kendali atas postingannya. 

Viralitas kemudian akan menurun jika ‘talent’ dalam video mengunggah pernyataan minta maaf, mengaku salah dan tak akan mengulangi kesalahan kembali. Atau jika kemudian masalah ini ditangani oleh polisi.

-000-

Amuk atau ngamuk, marah-marah tak terkendali, marah-marah tiba-tiba (tanpa alasan kuat) memang istimewa.

Konon kata amuk diadopsi dalam bahasa Inggris menjadi kata Amok dengan arti yang sama pada kosakata atau kamus bahasa Indonesia.

Kata dengan arti yang tidak baik ini menjadi istimewa karena biasanya bahasa Indonesia yang mengadopsi kata dari bahasa Inggris. Namun ini kebalikannya. Dan konon menurut para ahli bahasa, kata Amok ini menjadi satu-satunya kata dari bahasa Melayu yang diadopsi oleh bahasa Inggris.

Entah apa maksudnya orang Inggris mengadopsi kata itu. Adakah mereka ingin mengatakan ‘marah-marah’ tanpa alasan adalah khas orang ‘melayu’?.

Bukankah dimana-mana,diseluruh penjuru dunia yang disebut orang marah tak terkendali bisa ditemukan?.

Mungkin saja iya, tapi bisa jadi ini juga merupakan ironi. Orang Melayu, Indonesia salah satunya kerap membanggakan soal keramahtamahan dan sopan santun. Tapi nyatanya, bangsa kita juga dikenal sebagai yang mudah mengamuk.

Nah, pertanyaannya kenapa?. Kenapa ada orang disaat orang lain menanggapi biasa-biasa saja, reaksinya amat berbeda. 

Ada puluhan, ratusan bahkan ribuan orang diminta putar ulang, kembali ke rumah atau ke kotanya dan nurut saja. Namun kemudian ada yang meledak, seperti tersulit sumbu petasannya?.

Ada banyak teori atau praduga soal itu.

Tapi apapun itu, satu hal yang patut disadari adalah bangsa kita tak suka diingatkan soal kesalahan.

Maka setiap kali diingatkan soal kesalahannya akan meradang seperti orang dibongkar aibnya atau direndahkan harga dirinya.

Celakanya begitu mengamuk maka yang akan menguasai dirinya adalah otak emosional. Semua kekecewaan di hati dan perbendaharaan kata yang disimpan dalam dalam akan meletup keluar.

Dikuasai oleh emosi mengakibatkan marahnya menjadi tidak proposional. Orang menjadi kehilangan diri dan tentu saja juga harga dirinya.

Tapi pada akhirnya, saya mengucapkan terimakasih kepada mereka yang telah marah-marah tanpa kendali. Anda semua adalah duta yang mau mengorbankan diri menjadi contoh buruk. 

Contoh yang mengingatkan agar setiap kali ingin marah, saya cepat menyadarkan diri agar tak meluapkan emosi sejadi-jadinya. Marah ya marah, tapi paling tidak marahlah dengan santuy. 

Sumber gambar : dunia.tempo.co