Soal makan memakan, ibu saya sangat tidak suka jika kami anaknya doyan melahap mie instan.
Pembatasan yang ketat juga dilakukan pada konsumsi MSG atau bumbu masak. Miwon atau Ajinomoto saat itu jarang ada di dapur.
Soal bumbu masak yang terintimidasi bukan hanya kami anaknya melainkan juga tukang bakso. Gerobak bakso yang lewat depan rumah dan ‘ting ting ting’ bisa kena petaka jika kami panggil.
“Nda usah pakai bumbu masak,”
Itu perintah ibu yang membuat tukang bakso kehilangan senyum karena bakso yang disajikan bakal berkurang banyak kelezatannya.
Kelak saya tahu apa yang ibu saya lakukan adalah politik makanan meski dalam skala kecil yaitu rumahan.
-000-
Kuliner beberapa tahun ini menjadi istilah yang populer. Internet memunculkan banyak food blogger, food traveller dan food reviewer. Mereka mengulas makanan mulai dari proses pembuatan hingga estetikanya.
Namun sedikit dari antara mereka yang menyentuh gastronomi. Atau mengulik hubungan antara makanan dengan budayanya.
Hubungan antara makanan dengan budaya tidak lepas dari politik makanan. Negara atau regim kerap kali melakukan campur tangan dengan alasan nasionalisme, identitas kebangsaan dan ketahanan nasional.
Di Indonesia, regim Suharto sangat dikenal karena politik makanan massal lewat swasembada beras, import gandum yang kemudian berkembang menjadi pintu masuk hadirnya makanan cepat saji bernama mie instan.
Terhadap para petani Suharto melakukan revolusi pertanian, gagal dengan ekstensifikasi, Suharto melakukan intensifikasi dengan padi hibrida, irigasi teknis dan pemupukan intensif.
Slogannya adalah swasembada beras, bukan swasembada pangan. Negara yang saat itu menikmati kekayaan dari hasil minyak bumi mengelontorkan banyak uang untuk mensukseskan program ini.
Bukan hanya dari uang sendiri melainkan juga uang pinjaman dari lembaga keuangan dunia. Hutang dipakai untuk membangun infrastruktur pengairan, seperti waduk, bendungan dan jaringan irigasi.
Petani digenjot untuk menghasilkan beras, namun Suharto juga memberi peluang pada kroninya untuk mengimport gandum dan membuat pabrik penggilingan tepung gandum.
Mungkin saja Suharto tidak yakin kalau beras petani akan mencukupi kebutuhan, sehingga perlu skenario cadangan, memperkenalkan gandum sebagai salah satu makanan pokok alternatif terutama di perkotaan.
Dan lewat hotel-hotel yang berwatak barat mulai diperkenalkan sarapan dengan roti.
Dan dalam perkembangannya, kroni Suharto yang mendatangkan gandum dan hanya menggiling kemudian berkembang. Hasilnya adalah mie instan. Awalnya mie instan kerap dijadikan lauk pendamping nasi namun lama kelamaan mulai menggeser nasi dan membuat banyak orang Indonesia tak bisa hidup tanpanya.
Kini mie instan dengan mudah didapati dimana saja. Tidak semua warung menjual beras, namun tidak dengan mie instan. Sampai ke pelosok sekalipun, mie instan dipastikan ada.
Bahkan di dalam hutan, asalkan pernah ada kaki yang menjejak dan bermalam, sisa bungkus mie instan yang dibuang sembarang akan mudah ditemukan.
-000-
Politik pangan massal Suharto berhasil membuat seluruh orang Indonesia menjadi pengkonsumsi beras dan mie instan.
Apapun makanannya, sekenyang apapun perut jika belum terisi nasi atau mie maka hati belum lega karena merasa belum makan.
Nasi yang berasal dari beras hibrida dan mie instan dari gandum menyatukan bangsa Indonesia. Cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa telah tercapai sekurangnya lewat politik makanan massal.
Model politik pangan ala Suharto ini terus bertahan dalam regim pemerintahan hingga saat ini. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berniat meneruskan lewat Food Estate. Sebuah program yang juga diamini oleh Joko Widodo (Jokowi).
Jokowi bukan hanya meneruskan cita-cita SBY menjadikan Papua sebagai lumbung pangan melainkan juga ingin menghidupkan kembali pembangunan sawah di lahan gambut yang gagal di jaman Suharto.
Apa bahaya politik pangan massal model seperti ini?.
Model pangan tunggal (monokultur) secara kebudayaan telah memusnahkan model ketahanan dan keragaman pangan nusantara.
Menjadikan beras dan kemudian terigu sebagai bahan makanan pokok utama membuat kita kehilangan banyak sumber-sumber pangan yang dahulu lazim dikonsumsi oleh masyarakat Nusantara.
Mencapai ketahanan pangan hanya dengan beras sungguh berbahaya. Sebab tidak semua lahan cocok untuk ditanami padi, pemaksaan dengan berbagai rekayasa teknik akan berdampak pada lingkungan dan memicu bencana ekologis.
Sementara ketergantungan pada tepung gandum juga berbahaya karena bahannya 100% diimport.
Kecanduan pada makanan berbahan terigu tanpa sadar semakin memperkuat kematian pangan-pangan lokal. Membuat kita enggan mempertahankan berbagai jenis tumbuhan penghasil pangan.
Akibatnya yang disebut sebagai ketahanan pangan karena kemandirian, mengkonsumsi apa yang bisa kita hasilkan sendiri semakin lama justru semakin jauh.
Dan kombinasi antara keragaman pangan yang makin menurun, kemerdekaan memilih pangan, keragaman yang semakin menyusut membuat pangan menjadi ladang ‘rente’ yang mengiurkan.
Politik pangan massal model orde baru yang terus berlanjut ke orde orde berikutnya justru terus menyuburkan lahan ‘mafia pangan’.
Keuntungan dari pangan kini justru berada di tangan mereka yang tidak berkeringat untuk mengolah tanah, menanam dan memelihara tanaman pangan.
Politik pangan massal yang secara eksplisit dinyatakan untuk memuliakan petani, agar petani mendapat penghasilan yang lebih baik ternyata justru membunuh petani.
Petani hanya menjadi komoditas politik. Bukan keberpihakan politik sebab mereka yang menyokong aktivitas dan pembiayaan politik adalah yang dapat jatah untuk mengimport bahan pangan, mulai dari beras, gula, bumbu hingga daging.
Maka menjadi sulit untuk melawan politik makan massal lewat jalur politik makro. Sebab proses politik kita dikuasai oleh mereka yang mendapat ‘rente’ dari komoditas pangan utama.
Satu-satunya jalan paling mudah adalah melawan lewat meja makan. Seperti ibu saya yang tak sudi dapur dan meja makannya dikuasai oleh mie instan serta penyedap rasa.
Namun tentu tak mudah sebab selama beberapa dekade terakhir ini generasi kita, mulut dan perutnya telah dididik dengan roti tawar, pizza, burger, mie instan dan aneka mie-mie lain mulai dari Itali, Thailand, Jepang hingga Korea.








