KESAH.ID Ekonomi kreatif diimpikan menjadi tiang penyangga ekonomi di Indonesia. Pemerintah pusat maupun daerah berlomba-lomba mengarusutamakan ekonomi kreatif. Mesti perkembangannya mengembirakan namun geliat ekonomi kreatif di negara lainnya juga berkembang pesat. Seorang Taylor Swift saja mampu menghasilkan perputaran trilyunan rupiah dari setiap konsernya.

Pada mulanya kementerian yang membidangi pariwisata adalah Kementerian Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon di era Sukarno.

Istilah ‘Kementerian Muda’ kemudian dihilangkan dan ditambahkan dengan Pariwisata sehingga menjadi Kementerian Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi dan Pariwisata.

Pada masa kabinet Dwikora II dan III pariwisata menjadi kementerian tersendiri, Kementerian Pariwisata.

Kementerian ini kemudian dihapuskan oleh Suharto pada masa awal kepemimpinannya. Pariwisata hanya diurusi oleh Dinas Pariwisata.

Baru pada Kabinet Pembangunan IV, kementerian ini dibentuk kembali dengan nama Kementerian Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi.

Pada Kabinet Pembangunan VII, kembali dilakukan perubahan menjadi Kementerian Pariwisata, Seni dan Budaya.

Ketika masa pemerintahan Gus Dur, kembali dilakukan perubahan dengan nama Kementerian Negara Pariwisata dan Kesenian. Namun kembali dirubah ketika pemerintahan Megawati dengan nama Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata.

Kementerian ini kembali berubah saat periode kedua pemerintahan SBY, pada tahun 2011 kementerian Kebudayaan dan Pariwisata berubah menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Ketika Joko Widodo menjadi presiden, kementerian ini tidak mengalami perubahan namun ada penambahan nomenklatur dimana Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merangkap sebagai Kepala Badan Ekonomi Kreatif.

Setiap perubahan merujuk pada apa yang menjadi visi dan prioritas dari masing-masing kepala pemerintahan. Dan semenjak masa kepresidenan SBY, pariwisata kemudian dikaitkan dengan ekonomi kreatif sebagai mesin ekonomi untuk menopang perekonomian negara secara berkelanjutan.

Dunia parisiwata dan ekonomi kreatif menjadi semarak dalam 15 tahun terakhir ini. Masyarakat kemudian menjadi terbiasa dengan berbagai macam istilah yang berhubungan dengan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Komunitas pariwisata dan ekonomi kreatif tumbuh dimana-mana, ada banyak destinasi baru muncul dan menjamur pula ruang-ruang dan kreatif hub.

Pemerintah daerah tak mau ketinggalan, setiap daerah berupaya mengembangkan Rencana Induk Bidang Pariwisata dan membentuk berbagai badan untuk mengakselerasinya. Selain itu beberapa daerah juga membentuk Komite Ekonomi Kreatif serta mengembangkan Peta Jalan Ekonomi Kreatif Daerah.

Apapun kini menjadi destinasi wisata dan dalam setiap perbincangan selalu terselip tentang ekonomi kreatif. Pakar wisata dan ekonomi kreatif bahkan lebih banyak dari pelakunya.

BACA JUGA : Ibu Bumi 

Sungguh menyenangkan melihat geliat pariwisata dan ekonomi kreatif, kemajuannya pesat. Namun bagaimana jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya?.

Harus diakui kita masih kalah jauh dibandingkan dengan Jepang, Taiwan, Korea Selatan apalagi Amerika Serikat.

Produk pariwisata dan ekonomi kreatif negara-negara ini telah melampaui batas wilayah negara, menjelajah dan ‘menjajah’ negara-negara lainnya.

Produk wisata dan ekonomi kreatif yang menjelma menjadi kekuatan budaya telah menjadi mesin ekonomi karena dikonsumsi oleh masyarakat sedunia.

Jepang misalnya pernah meraja lewat musik, Japan Rock lalu lewat Group Idol AKB 48, waralabanya di Indonesia membentuk JKT 48.

Dalam dunia fashion, Jepang merajai lewat gaya Harajuku. Dan kini anime atau manga Jepang meraja dimana-mana, pun juga dengan game-nya.

Taiwan sempat menjeda sebentar lewat serial film Meteor Garden.

Dan kemudian Korea Utara menyusul dengan K Pop-nya.

Yang digemari oleh negeri yang diekspansi oleh budaya Jepang, Taiwan dan Korea ini kemudian berlanjut ke kulinernya juga destinasi pariwisata. Bahkan Korea Selatan kini juga menjadi daerah tujuan bagi para pengemar K Pop untuk ‘mereparasi’ wajah, tubuh dan tampilannya.

Melawan Jepang, Taiwan dan Korea Selatan saja kita sudah kedodoran, apalagi melawan Amerika Serikat yang mempunyai strategi berbeda karena tidak kental membawa budaya namun menciptakan budaya baru yang disebut budaya global.

Amerika Serikat mempunyai banyak perusahaan wisata, ekonomi kreatif dan gaya hidup. Selain itu juga melahirkan sosok-sosok individu yang juga mempunyai pengaruh global terutama dalam dunia seni, utamanya seni musik dan suara serta film.

Kejayaan Amerika Serikat dalam industri gaya hidup digambarkan dengan istilah McWorld. Produk barang dan jasa dari Amerika Serikat tidak semata dianggap sebagai komoditas untuk dikonsumsi. Ada branding yang kuat dimana dengan mengkonsumsi apa saja yang termasuk dalam McWorld seseorang akan masuk dalam kelas sosial tertentu.

Memakai produk berlabel McWorld adalah validasi sosial.

McWorld sendiri merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Benyamin Barber tentang perilaku Amerika Serikat untuk melakukan globalisasi ekonomi lewat produk barang dan jasa dari Amerika Serikat agar diterima dimana-mana.

Dengan kekuatan keuangan, lobby politik, kebijakan pasar liberal, jaringan distribusi yang lebih dibanding negara lainnya, Amerika Serikat berhasil mengirimkan produk-produk mereka merata ke seluruh penjuru dunia. Produknya menjadi lebih kompetitif, sulit untuk disaingi. Produk Amerika Serikat kemudian menjadi standard global.

Dan McWorld menjadi senjata baru bagi Amerika Serikat untuk mempertahankan superioritasnya sebagai Negara Super Power.

BACA JUGA : Aktivasi Otak 

Sebagai negeri dengan kekayaan budaya yang merupakan pondasi pengembangan ekonomi kreatif, Indonesia pernah hampir berhasil mengekpor salah satu produk budayanya yakni dangdut.

Demam ‘Goyang Ngebor’ Inul mulai merasuk ke Malaysia, Singapura, Thailand bahkan hingga Amerika Serikat sana.

Mulai muncul pertunjukkan-pertunjukkan dangdut di negeri-negeri itu, musik dangdut mulai mendapat pengemarnya.

Namun di Indonesia sendiri Inul justru di-bully dengan alasan goyangnya bukan hanya merusak dangdut melainkan juga moral dan iman.

Muncul boikot dan keberatan terhadap dangdut ala Inul dan teman-temannya.

Kita menganggap semua keberatan itu murni dari masyarakat kita sendiri, hampir tak ada yang menyangka jika dibalik itu ada intervensi dari ‘intelijen asing’ yang melakukan operasi agar arus Inulisme dihabisi di negerinya sendiri. Sebab jika tidak arus itu akan menular ke negeri-negeri lainnya.

Mereka melakukan ini agar musik Indonesia tidak populer di negeri seberang, punya banyak pengemar sehingga yang diuntungkan adalah pemusik-pemusik Indonesia.

Intelijen Ekonomi ini yang mestinya kita sadari pada saat kita hendak mengairahkan ekonomi kreatif dan pariwisata.

Jika tidak kita hanya akan terus menjadi jago kandang, memuji-muji perkembangan ekonomi kreatif dan pariwisata tapi yang mengkonsumsi hanya kita-kita sendiri. Itupun hanya kebagian remah-remah karena kita terus menjadi pasar ekonomi kreatif dan pariwisata luar negeri.

Contoh yang paling baru, menurut laporan para pihak jumlah penonton Taylor Swift saat konser di Singapura 20 sampai 30 persennya berasal dari Indonesia.

Singapura tak punya musis hebat, tetapi selalu berhasil menyelenggarakan konser tingkat dunia. Konser yang penontonnya berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan negeri-negeri sekitar lainnya.

Sementara masyarakat kita getol sekali membatalkan berbagai event internasional dengan berbagai macam alasan yang tidak masuk akal.