43 tahun yang lalu alm. Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki membeber tentang beberapa sifat orang Indonesia. Kebanyakan yang disampaikan olehnya adalah sifat yang negatif.

Bagi Mochtar, orang Indonesia itu (1) hipokrit alias munafik, (2) segan dan enggan bertanggung jawab, (3) berjiwa feodal, (4) percaya pada takhyul, (5) artistik, dan (6) berwatak/karakter lemah.

Dan kemudian di tahun 1998, penyair Taufik Ismail menulis puisi berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Nampaknya dalam perpindahan dari orde baru ke orde reformasi, Taufik Ismail masih menemukan orang Indonesia seperti yang digambarkan oleh Mochtar Lubis.

Di channel youtube Sacha Stevenson dalam rangkaian video yang dijuduli “How to act like Indonesian”, Sacha dengan jenaka secara konsisten mampu memberikan kelakuan orang Indonesia yang absurbs.

Namun tentu saja Mochtar Lubis, Taufik Ismail dan Sacha yang lahir dan besar di Kanada namun sudah lama tinggal di Indonesia adalah orang-orang yang mencintai dan bangga pada Indonesia.

Pastinya tak sedikit yang keberatan dengan apa yang diungkap oleh mereka bertiga. Mereka dianggap mengenalisir dan mensimplifikasi realitas serta perilaku masyarakat Indonesia.

Tapi bukan tidak berarti apa yang Mochtar Lubis, Taufik Ismail dan Sacha katakan tidak ada benarnya.

Mari kita lihat bagaimana kelakuan kita atas Veronica Koman, Silvani Austin Pasaribu dan Najwa Shihab.

Kepada Veronica dan Najwa sebagian dari kita marah-marah bahkan sampai menyumpah-nyumpah. Dan atas marahnya SIlvani pada PM Vanuatu, kita puji-puji setinggi langit.

Kenapa kita suka marah-marah, padahal yang dilakukan oleh Veronica, Najwa dan PM Vanuatu adalah sesuatu yang biasa. Veronica adalah orang yang peduli pada masyarakat Papua yang tertindas, Najwa adalah pewarta yang mesti menggali keterangan atau informasi dari narasumber dan PM Vanuatu adalah kepala pemerintahan yang berhak mempertanyakan soal praktik penghormatan hak asasi manusia dari anggota PBB lainnya.

Ada kesalahan logika dibalik sifat kita yang suka marah-marah itu. Kepada Veronica dan Najwa banyak yang mengatakan mereka berdua telah melakukan tindakan yang mempermalukan pemerintah dan bangsa Indonesia bahkan. Veronica dianggap mengumbar aib kepada masyarakat dan negara lain, sementara Najwa dianggap ingin menjatuhkan Menteri Kesehatan karena wawancara pada kursi kosong.

Veronica dan Najwa dianggap tidak pantas serta tak tahu balas budi karena Veronica misalnya disekolahkan ke luar negeri dengan beasiswa dari pemerintah, sementara Najwa dibesarkan oleh pemirsa media di Indonesia.

Kesalahan logika atau cara berpikir yang ditunjukkan oleh Silvany yang menyebut bahwa PM Vanuatu bukan orang Papua, sehingga tak bisa mengungkit persoalan HAM di Papua, persis sama dengan yang kita timpakan pada Veronica dan Najwa. Kita kerap menyerang identitas orang yang menyampaikan argument atau melakukan sesuatu bukan substansi yang disampaikan atau dilakukannya.

Akibatnya kita kerap kali marah-marah dengan meluapkan argument-argumen yang tidak ada hubungannya dengan apa yang disampaikan atau dilakukan. Akibatnya konyol ketika ada yang mengatakan kalau Veronica harus mengembalikan beasiswanya. Padahal yang dilakukan tidak ada hubungan dengan beasiswa atau malah dia sudah melakukan apa yang diharapkan pada penerima beasiswa yaitu mengabdi pada rakyat. Dan Veronica memilih rakyat Papua.

Pun juga pada Najwa yang mengalami kekonyolan yang sama dengan dilaporkannya oleh sekelompok orang ke Polisi. Syukur Polisi masih waras sehingga menolak menerima laporan itu dan meminta pelapor pergi mengadukan ke dewan pers.

Sebenarnya tidak tepat juga pergi ke Dewan Pers, karena apa yang dilakukan oleh Najwa sama sekali tidak melanggar etika pers. Jadi kalaupun ada keberatan, apa yang dilakukan oleh Najwa mestinya dilaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia karena produk dari Najwa adalah talkshow.

Entahlah apakah salah-salah logika dan suka marah-marah kebanyakan warga negara Indonesia sekarang ini disebabkan oleh rajinnya masyarakat Indonesia main sosial media. Sebab di sosial media kita punya kecenderungan untuk menyukai apa yang kita sukai saja, sehingga kita berteman atau mengikuti mereka yang kita senangi.

Dengan mengikuti atau hanya melihat yang kita senangi akibatnya wawasan kita jadi terbatas, yang tidak kita sukai kita anggap musuh, kita tak mau berteman, tak mau mendengar, kita blokir.

Akibat hanya terputar-putar pada apa yang kita suka akhirnya itu menjadi identitas kita dan membuat kita mudah marah atau tidak senang pada hal lain diluar yang kita sukai. Jadi kalau saya suka Jokowi dan pemerintahannya maka saya harus tidak suka pada Veronica dan Najwa, serta memuji-muji Silvany. Begitu, sederhana saja.

Ah, masak gitu sih. Buat saya kok rasanya pahit sekali andai harus hidup seperti itu.