Yang punya minat dan percaya pada numerologi pasti akan menganggap 2022 adalah tahun yang menarik.

Terlebih lagi bagi yang punya resolusi atau rencana besar selama tahun 2022 ini. Ada sederet angka cantik yang bisa dipilih untuk mengeksekusi rencana agar  lebih berkesan dan mudah diingat.

Inilah deret angka-angkat cantik itu : 1-1-22, 2-1-22, 11-1-22, 22-1-22, 2-2-22, 20-02-2022, 22-2-22, 22-{3-9}- 22, 22-11-2022 dan 22-12-2022.

Numerologi sendiri merupakan sebuah ilmu yang berbasis pada analisis pengaruh mistik angka. Numerolog percaya bahwa setiap angka memiliki getaran, makna, karakteristik dan pengaruh terhadap manusia dan kehidupan, karena terhubung dengan bidang energi bumi.

Atas dasar itu maka tahun 2022 adalah tahun yang banyak angka duanya. 2 dalam numerologi kerap diasosiasikan dengan malaikat yang adalah pelindung, penjaga dan pembawa pesan. Dua melambangkan relationship dan partnership.

Maka di tahun ini akan banyak contoh orang sukses atau berhasil karena melayani orang lain. Yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, mempunyai empati yang besar yang akan berhasil.

Sementara angka 20 melambangkan bersyukur. Dan nampaknya memang tepat karena tahun 2022 ini meski pandemi belum sepenuhnya tuntas, ancaman varian omnicron masih merebak namun kehidupan mulai kembali berjalan normal.

Sedangkan angka 22 merujuk pada fokus pada hal yang tepat dan menjaga keseimbangan. Jadi jangan berspekulasi dan hanya mengejar keuntungan melainkan juga mesti berbagi.

Dengan demikian 2022 membawa pesan tentang sukses dan perubahan. Maknanya untuk berhasil mesti berani melakukan adaptasi terhadap perubahan, memandang perubahan sebagai sebuah kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Dan isu paling panas tentang perubahan di Kalimantan Timur pada tahun 2022 ini adalah disahkannya UU IKN pada tanggal 18-1-2022 lalu. UU IKN itu akan menjadi landasan untuk mengeksekusi pemindahan Ibu Kota Negara dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur {Sepaku, Penajam Paser Utara}.

Dibalik euforia kebanggaan karena Kalimantan Timur dipilih menjadi Ibu Kota Negara Baru, tidak bisa disangkal ada sebersit kekhawatiran yang belum terjawab. Akankah pemindahan Ibu Kota Negara akan membuat warga Kalimantan Timur ‘tersingkir’ atau ‘menyingkir’.

‘Tersingkir’ dan ‘menyingkir’ tentu berbeda. Yang pertama jelas ada unsur pemaksaan. Sementara yang kedua jelas ada kerelaan atau sadar dan tahu diri.

Tersingkir berarti digusur, didorong keluar dari tanah sendiri. Sementara menyingkir berarti meninggalkan tanah sendiri , karena ada yang akan menempati untuk kemudian melihat dari kejauhan.

Pemindahan Ibu Kota Negara jelas butuh waktu, tidak begitu diketok langsung jadi. Kabarnya  waktu yang diperlukan kurang lebih 10 sampai 15 tahun. Maka masih ada waktu buat masyarakat Kalimantan Timur untuk mengatasi kekuatiran soal ‘tersingkir’ atau ‘menyingkir’.

BACA JUGA : Kota Tepian Yang Selalu Bermasalah Dengan Tepiannya

Salah satu teman dialog saya soal wacana pemindahan Ibu Kota Negara adalah Yusan Triananda, Owner Mesra Group dan Founder Yayasan Bunga Bangsa.

Sebagai seorang yang membaca buku Vademekum Wartawan : Reportase Dasar, saya dalam menanggapi wacana terutama kebijakan politik selalu mengedepankan sikap skeptis. Skeptis tentu berbeda dengan sinis, karena skeptis adalah prinsip untuk tidak percaya begitu saja sebelum terbukti.

Dengan preposisi seperti itu maka bisa dipastikan saya lebih kerap berbeda cara pandang dengan Yusan. Sebagai seorang entrepreneur, dia selalu menanggapi rencana perubahan sebagai sebuah peluang. Baginya pemindahan Ibu Kota Negara adalah peluang besar yang mesti disambut, bukan soal siap atau tidak siap.

Model pemikiran siap atau tidak siap biasa disebut sebagai gaya berpikir birokratik. Argumen mereka terhadap sebuah wacana biasanya berbasis kendala. Selama pemindahan ibukota belum dianggarkan maka dianggap tidak ada. Eksekusi tidak mungkin dilakukan bila tidak ada anggarannya, sebab cara eksekusi birokrat adalah menghabiskan anggaran secara legal.

Saya tahu Yusan ‘migren’ dengan model berpikir seperti itu. Maka menjelang konterstasi pemilu Walikota Samarinda yang lalu dia melakukan ekperimentasi untuk maju sebagai calon. Gagasan yang diusung waktu itu disarikan dalam hastag Samarinda Berbenah.

Saya sendiri sempat berdiskusi cukup intens tentang gagasan itu, perihal membangun kota dengan gaya seorang entrepreneur. Dalam sebuah kesempatan diskusi, Yusan pernah mempertanyakan “Apakah mungkin kawasan pinggiran sungai dikelola oleh swasta, diberikan konsesi dengan tanggungjawab untuk turut menjaga wilayah sungai,”.

Masih banyak gagasan lain dan saya menyimaknya, walau sekali lagi saya tetap dalam preposisi skeptis. Saya tahu politik praktis kita tak butuh gagasan. Dalam politik logistik lebih penting dari logika.

Dan benar gagasan berlabel Samarinda Berbenah tak cukup membuat Yusan dilirik oleh yang punya perahu politik. Tapi gagasan itu tak mati.

Sebab ada gagasan lain yang lebih besar dan terus ditekuni olehnya lewat Yayasan Bunga Bangsa, institusi pendidikan yang dikawalnya untuk menghasilkan insan-insan yang berkesadaran entrepreneurial. Cakupannya bahkan diperluas lewat Bunga Bangsa Society yang melakukan kelas-kelas edukasi untuk publik.

Jika ditelisik berbagai inisiatif atau gagasan yang coba diwujudkan oleh Yusan lebih banyak mengerogoti isi kantongnya.

Ini merupakan paradoks, alih-alih mengeruk keuntungan sendiri, Yusan malah lebih sering mengeluarkan uang untuk membuat orang lain berkembang.

Nanti ketika saya mulai belajar sedikit-sedikit perihal neurosains, sikap seperti ini kemudian saya mulai pahami. Banyak uang ternyata memang menyenangkan tapi belum tentu membahagiakan.

Senang dan bahagia berbeda, tak seperti ujaran para netizen yang gemar menulis caption “Bahagia itu sederhana,”, tapi fotonya tengah menunjukkan menyenangkan diri sendiri.

Yang disebut bahagia selalu berbasis pada altruisme, kemampuan merasakan perasaan orang lain, sikap atau pandangan yang keluar dari diri sendiri.

Mereka yang meghendaki perubahan besar selalu akan berpikir keluar dari dirinya sendiri. Alih-alih menyenangkan diri sendiri, yang mesti dibangun adalah masyarakat yang bahagia.

Masyarakat yang bahagia akan membuat setiap rencana perubahan atau pembaharuan akan termitigasi ketidakpastian. Dalam masyarakat yang tidak bahagia, rencana perubahan besar kerap menghabiskan energi karena suara resistensi atasnya sangat kuat.

Masyarakat yang kurang ‘piknik’ biasanya mudah curiga pada motif dibalik sebuah rencana perubahan.

BACA JUGA : Ada Yang Gak Benar Di Kecamatan Bener

Hari Selasa {8/02/2022} lalu Yusan mengirim flyer tentang Sangkulirangpreneur Xtravaganza dan pesan “Kami mengundang pian tgl 13 Feb jam 10” lewat Whatsapp.

Hari Minggu saya berusaha bangun pagi dan nyatanya berhasil sampai di tempat undangan sebelum jam 10. Selain berniat menghargai undangan, saya juga ingin merasakan atmosfer pertemuan para enterpreneur yang digawangi oleh Kerukunan Warga Sangkulirang.

Dari penyampaian host dan mc, saya tahu ternyata Yusan adalah ketua Kerukunan Warga Sangkulirang, Kota Samarinda.

Informasi itu cukup membawa insight dalam diri saya, perihal ‘outside of the box’ yang dulu kerap disebutnya ketika berdiskusi tentang Samarinda Berbenah.

Sangkulirangpreneur Xtravaganza buat saya adalah tindakan diluar pakem dari sebuah organisasi yang berbasis daerah asal tertentu.

Organisasi semacam ini biasanya merupakan tempat silaturahmi, kegiatannya umumnya lebih seremonial, merayakan hari-hari besar tertentu, kegiatan sosial dan lain-lain yang bertujuan untuk tetap merekatkan persaudaraan.

Kisah yang diperbincangkan dalam obrolan umumnya juga cerita-cerita masa lalu, yang bisa jadi terus diulang-ulang dan semakin hari semakin tak lengkap seiring dengan menurunnya memori para pelakunya.

Saat ini yang disebut hari ini sudah berbeda dengan yang kemarin. Nampaknya kesadaran ini yang ada dalam diri Yusan sehingga membawa warna baru dalam kegiatan atau aktivitas perkumpulan yang berbasis warga satu daerah itu.

Silaturahmi sesungguhnya adalah jejaring. Dan jejaring terpenting saat ini adalah ekonomi. Berdiri lebih dari 40 tahun lalu, Kerukunan Warga Sangkulirang mempunyai sumber daya di berbagai bidang yang bisa dikolaborasikan untuk kemaslahatan bersama, bukan hanya warga keturunan Sangkulirang melainkan juga Kalimantan Timur pada umumnya.

Mendengar penyampaian host dan mc, saya mendengar sosok-sosok hebat dari Sangkulirang, mengitari Plaza Mesra, saya juga melihat sosok-sosok usahawan dengan produk dan layanan yang hebat.

Berkaca dari Indonesia dimana secara individual banyak orang-orang pintar namun karena pintarnya dipakai sendiri maka di media sosial yang sering terlihat adalah kebodohan massal. Padahal kalau yang pintar-pintar berkolaborasi maka hasilnya adalah masyarakat yang pintar.

Pun demikian dengan bidang usaha, andai para wirausahawan mampu keluar dari sekat masing-masing, terbuka pada peran yang lainnya niscaya dunia ekonomi akan tumbuh secara mengesankan dan sektor kuliner, wastra, kriya serta lainnya yang merupakan sub sektor dalam ekonomi kreatif kelak bisa menjadi first mover bagi ekonomi Kalimantan Timur yang seolah ‘dikutuk’ untuk tergantung pada jual habis barang mentah {ekstraksi sumber daya alam}.

Yusan yang punya latar belakang pendidikan komputer di Jerman pasti akrab dengan dunia digital. Berbagai aplikasi telah diluncurkan olehnya sebagai upaya untuk mendigitasi layanan atau produk.

Sangkulirangprenuner Xtravaganza buat saya merupakan sebuah langkah untuk memulai ekonomi kolaboratif dengan benar. Perkara berhasil atau tidak tentu masih diperlukan waktu untuk menilainya.

Satu yang layak untuk dicatat bahwa untuk memulai tak mesti menunggu semuanya siap. Sama seperti dua insan yang jatuh cinta namun kemudian menunda-nunda untuk menikah karena belum punya pekerjaan mapan, belum punya rumah, belum punya cukup tabungan dan sejuta alasan lainnya.

Menunda-nunda sampai mempunyai semuanya niscaya akan banyak muda-mudi mengalami kejombloan nan hakiki.

Salut atas terselenggaranya Sangkulirangpreneur Xtravaganza, semoga semakin banyak komunitas-komunitas yang bergiat dalam ekonomi kreatif semacam ini. Sebab tonggak dari keberhasilan sebuah daerah menjadi terdepan dalam ekonomi kreatif adalah banyaknya komunitas yang melakukan aktivasi ekonomi berbasis pada sumber daya lokal dan kolaboratif.