KESAH.IDBanyak orang – bahkan seorang perokok – menyangka kalau yang disebut rokok kretek itu identik dengan rokok linting. Padahal rokok kretek adalah rokok khas Nusantara yang terdiri dari sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin. Jadi rokok berfilter, baik yang original, bold, mild dan rokok beraroma serta berasa juga merupakan rokok kretek. Istilah kretek merujuk pada rokok yang tembakaunya diberi cengkeh, sehingga akan ada bunyi kretek-kretek ketika dibakar dan dihisap.

Serial Gadis Kretek atau Cigarette Girl {session 1} ditayangkan di Netflix sejak Kamis, 2 November 2023. Film yang tayang perdananya di Busan International Film Festival {Korea}, Oktober lalu menjadi serial orisinal pertama Netflix dari Indonesia.

Dalam waktu 10 hari penayangnya, Gadis Kretek masuk sebagai 10 besar film non bahasa Inggris yang paling banyak ditayangkan secara global. Tembakau atau rokok memang merupakan salah satu tema penting di dunia hingga hari ini.

Sejak puluhan tahun lalu ada kecenderungan dunia untuk melawan tembakau. Indonesia mengikutinya lewat langkah drastis misalnya melarang event olahraga disponsori oleh rokok. Padahal pabrik rokok besar punya jasa memajukan olahraga, salah satunya badminton.

Iklan rokok juga mulai dibatasi di televisi, tidak boleh menampilkan iklan secara ekplisit dan ditayangkan pada jam setelah anak-anak istirahat. Tayangan yang memperlihatkan orang merokok juga harus dikaburkan.

Ruang untuk merokok juga mulai dibatasi, aktivitas merokok di ruang publik menjadi tidak bebas lagi. Ada ruang atau area khusus untuk perokok yang bahkan untuk para perokoknya kurang terasa nyaman.

Instrumen negara pun digunakan untuk mengurangi jumlah perokok. Caranya dengan menaikkan cukai rokok, rokok menjadi terasa mahal untuk para perokok.

Tapi rokok selalu menemukan jalannya sendiri. Soal harga yang melambung tinggi tak membuat perokok kehilangan akal. Pasar rokok murah kemudian dimasuki oleh pengrajin rokok mulai rokok rumahan hingga pabrik-pabrik menengah ke bawah.

Kini ada kelas rokok, 10 an ribu, 20 puluhan ribu dan 30 puluhan ribu keatas.

Rokok murah dan menengah justru menjamur. Pilihan merek dan rasa serta jenis rokok justru menjadi tambah banyak. Tampilan etalase rokok terutama di warung-warung non jaringan terlihat lebih bervariasi, berubah-ubah hingga sulit menghafal merek baru.

Era Djarum, Gudang Garam, Wismilak dan Sampoerna sudah lewat. Kini ada banyak merek rokok terkenal yang perokoknya tak tahu rokok yang dihisapnya itu buatan perusahaan apa.

Di kelas rokok 10-an ribu para perokok memang tak sampai kepo untuk tahu rokok yang dibelinya buatan mana. Yang paling penting adalah harga rokoknya terjangkau oleh kantong.

Rokok-rokok kelas bawah ini pada umumnya memang ilegal. Isinya 20 batang tapi kertas cukai yang ditempel untuk bungkus rokok 12 batang. Itupun belum bisa dipastikan apakah cukainya asli atau palsu.

Karena ilegal, rokok-rokok murah yang populer terkadang hilang di pasaran karena dirazia oleh petugas.

Sejenak warung-warung itu tak menjual rokok-rokok ilegal, namun tak lama kemudian justru muncul merek-merek baru. Dan merek lama yang sudah terkenal lalu muncul kembali biasanya disertai dengan kenaikan harga antara seribu hingga dua ribu per bungkus.

Ciri-ciri rokok murah selain cukainya tak sesuai peruntukan, isinya juga banyak. Rokok di bawah 20-an ribu ini rata-rata berisi 20 batang. Jarang rokok murah per bungkusnya berisi 12 atau 16 batang. Rokok murah dengan jumlah batang seperti itu umumnya diproduksi oleh pabrik-pabrik rokok yang ternama.

BACA JUGA : Martinator Penantang Ducati

Setelah cukup lama mapan dengan pilihan rokok Gudang Garam Surya 16, saya akhirnya mengalihkan pilihan ke rokok Pensil ketika menteri keuangan mulai ikut-ikutan memerangi rokok dengan menaikkan cukai setinggi-tingginya.

Gudang Garam Surya sudah melewati angka 20 ribu, kelewat mahal untuk sebuah aktivitas yang bagi banyak orang dipandang tidak sehat. Awalnya saya memilih rokok Pensil Mild tapi rasanya kurang marem, terlalu ringan.

Rokok Pensil coklat kemudian menjadi pilihan, harganya masih cukup murah dan isinya banyak.

Hampir setahunan saya menghisap Pensil coklat. Kalau ada yang tanya kenapa merokok Pensil?. Saya jawab biar pintar menulis.

Sri Mulyani yang tak puas atas hasil menekan jumlah angka perokok kemudian menaikkan kembali cukai rokok. Kebijakan itu kemudian membuat harga rokok kembali melambung. Rokok Pensil harganya ikut terkerek, menjadi diatas 20-an ribu.

Saya mulai berpikir untuk berpindak model merokok. Bukan membeli rokok jadi melainkan membeli tembakau dan kemudian melinting sendiri. Kebetulan seiring dengan melonjaknya harga rokok, muncul trend anak-anak muda membuka kios tembakau. Tren jualan tembakau menjadi tren baru setelah sebelumnya banyak anak muda mulai berbinis kedai kopi.

Belum sempat saya menganti kebiasaan merokok dengan rokok tingwe atau ngelinting dewe, ada teman mengenalkan rokok murah, kelewatan murah bahkan.

Seingat saya mereknya Saga, menyusul rokok sebelumnya yang juga bikin gebrakan harga murah yakni GA.

Ketika saya membeli rokok Saga untuk pertama kalinya harga di warung masih 12 rupiah, sementara GA lebih mahal seribu rupiah.

Tapi kemudian rokok Saga dan GA menghilang di pasaran, hilang cukup lama.

Dan di warung kemudian muncul rokok-rokok dengan merek yang aneh-aneh. Ada yang mendompleng rokok yang terkenal, ada pula yang namanya kebarat-baratan.

Namun kemudian GA muncul kembali, juga rokok lainnya yang cukup terkenal yakni DTE. Sementara Saga jarang-jarang ada. Rokok murah yang muncul di jaman Covid 19 yakni Brand Djati kemudian juga memunculkan versi bold-nya.

Kini harga rokok-rokok murah yang umumnya versi bold ini berkisar antara 15 hingga 20 ribu rupiah. Anehnya di daerah pinggiran kota umumnya harganya malah lebih murah daripada di pusat kota. Rokok GA misalnya, di daerah Mugirejo yang bukan pinggir jalan besar harganya sekitar 16 ribu rupiah, namun di dekat pusat kota, misalnya di daerah KS. Tubun harganya 18 ribu rupiah.

Barangkali warung-warung di kota sering dirazia sehingga harga yang dibayar oleh konsumen sudah termasuk ongkos ‘jatah preman’.

Atau bisa jadi orang kota memang lebih tegaan dalam mencari untung ketimbang orang-orang pinggiran yang rasa sosial dan persaudaraannya masih lebih tinggi.

Mungkin prinsip orang dagang di pusat kota adalah mencari untung setinggi-tingginya, sementara orang pinggiran cenderung berprinsip yang penting jualannya laku walau untung sedikit-sedikit.

BACA JUGA : CSR Di Perkotaan, Tantangan Dan Kendala

Di balik sebuah peristiwa selalu ada makna dan tren atau kecenderungan baru. Boikot terhadap produk-produk yang ‘dianggap’ berafiliasi pada Israel entah karena dimiliki oleh warga Israel atau mendukung Israel, ternyata membuat apresiasi pada produk sejenis dari dalam negeri menjadi meningkat.

Pun demikian kebijakan mengurangi konsumsi rokok dengan menaikkan cukai ternyata juga memberi angin segar dalam persaingan di industri rokok. Jika sebelumnya rokok dikuasai oleh pabrik-pabrik besar yang ada di Kota 2 K yakni Kudus atau Kediri, kini persaingan industri rokok makin melebar.

Selain menjamur rokok kelas 3 atau dibawah harga 20-an ribu, rokok kelas menengah pun kini mulai naik daun. Salah satu kota yang kemudian juga terkenal karena menjadi rumah produksi rokok adalah Malang.

Secara teknologi dan rasa rokok-rokok kelas menengah yang diproduksi antara lain di Kota Malang tak berbeda jauh dengan rokok yang diproduksi oleh Djarum, Gudang Garam atau Sampurna.

Inovasi yang dilakukan oleh perusahaan rokok kelas menengah bahkan lebih gesit ketimbang perusahaan-perusahaan besar yang sudah mapan. Salah satu yang gencar melakukan inovasi antara lain adalah Rokok Win.

Entah apakah Win itu singkatan dari Winarso sang empunya, atau dimaksudkan sebagai slogan yang dalam bahasa Inggris artinya menang.

Yang pasti rokok Win mulai meraih kemenangan. Membuat mereka yang mencintai konsistensi rasa rokok dari isapan pertama sampai isapan terakhir akan memilihnya.

Meski masyarakat Nusantara sejak dahulu kala tersohor karena kemampuannya meracik rokok kretek, rokok yang bunyi kretek-kretek karena cengkeh terbakar namun mesti diakui rokok-rokok murah terutama yang harganya dibawah 20 ribu sulit diharap konsistensi rasanya.

Rokok murah umumnya terasa nyaman hingga setengah batang saat diisap, setelah itu rasa dan aromanya hilang, kadang yang tersisa hanya panas di bibir.

Tapi rokok-rokok kelas menengah, baik sigaret kretek, rokok kretek filter, rokok kretek bold, rokok kretek mild, rokok kretek double click, rokok kretek beraroma dan berasa, mutunya sudah bisa diadu dengan rokok-rokok produksi pabrik-pabrik ternama.

Jadi, meski yang dilakukan oleh Sri Mulyani menyebalkan namun ada baiknya juga. Harga cukai yang meroket membuat rokok kemudian tidak didominasi oleh pabrik-pabrik besar. Harga rokok mainstreams yang mahal membuat rokok alternatif tumbuh subur. Rokok-rokok kelas menengah juga punya kesempatan untuk berkembang, karena menjadi pilihan kaum mendang-mending. Kaum yang ogah membayar rokok yang terlalu mahal namun juga tak sudi menghisap rokok yang dianggap murah sekali.

Terimakasih Bu Sri Mulyani, karena usaha anda untuk mencekik kantong para perokok ternyata justru memunculkan banyak pilihan bagi perokok untuk meneruskan kebiasaan menghisap dan menghembuskan asap tembakau.

Teruslah naikkan cukai rokok, sampai Djarum, Gudang Garam, Sampoerna tak sudi lagi membuat rokok lalu republik ini akan kehilangan pendapatan besar dari cukai rokok. Tapi para perokok tak murung karena tetap saja rokok akan ada dimana-mana selama tembakau masih subur tertanam di bumi Nusantara.

Semahal-mahalnya cukai, rokok akan menemukan jalannya sendiri.

note : sumber gambar – NATIONALGEOGRAPHIC.GRID.ID