KESAH.IDSetelah istirahat karena cidera panjang, dan kemudian berpisah dengan Honda Marc Marquez menunjukkan penampilan yang berbeda. Makin terlihat dewasa, paduan antara bakat yang besar dan kerja keras membuat Marc Marquez kembali dominan di Moto GP 2025. Marc yang sebelumnya dikenal agresif dan cenderung memaksa motor sampai batasnya, kini tampil lebih kalem. Marc bahkan terkesan mampu mengorkestrasi balapan.

Kemenangan di Sirkuit Red Bull Ring membuat Marc Marquez tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Moto GP. Marc menjadi pembalap pemenang pada balapan grand prix ke 1000 yang digelar oleh Moto GP.

Catatan kemenangan ini menjadi semakin manis karena ini untuk kali pertama Marc menang di GP Austria. Balapan di Austria pertama kali digelar pada tahun 2016, dan sejak saat itu Marc belum pernah menang. Kemenangan pertama di Austria ditorehkan oleh Andrea Iannone.

Setelah itu Marc Marquez diganjal oleh Andrea Dovisioso dan kemudian Francesco Bagnaia.

Ducati menang dominan di Red Bull Ring Austria.

Kini hanya dua sirkuit yang menyisakan PR untuk Marc Marquez yakni Sirkuit Mandalika di Indonesia dan Sirkuit Balaton di Hungaria. Mandalika akan mengelar balapan untuk ketiga kalinya, sementara Balaton untuk pertama kalinya.

Kemenangan di Red Bull Ring juga menorehkan sejarah tersendiri untuk Marc Marquez. Marc berhasil mempertahankan enam kali kemenangan berturut-turut di sprint race dan grand prix. Enam kali Marc Marquez meraih poin penuh berturut-turut sehingga makin jauh meninggalkan saingan terdekatnya dalam pengumpulan poin.

Jarak Marc Marquez dengan Alex Marquez adiknya yang berada di posisi kedua sudah 142 poin. Dengan selisih lebih dari seratus poin, dalam posisi normal hampir dipastikan Alex Marquez sulit membalikkan keadaan. Sementara untuk Francesco Bagnaia, kesempatan bahkan lebih tertutup karena tertinggal hampir 200 poin.

Bersama Ducati sepanjang musim 2025 Marc menorehkan rekor demi rekor. Belum satu tahun bersama Ducati pabrikan, Marc sudah mengibarkan bendera Ducati semakin tinggi, siap mengejar rekor Honda yang dulu dibela oleh Marc Marquez.

13 tahun Marc Marquez berada di orbit kelas tertinggi Moto GP, selama itu pula silih berganti sosok-sosok pembalap muda yang dianggap bisa menjadi saingannya. Fanio Quartararo, Francesco Bagnaia, Jorge Martin dan terakhir Pedro Acosta, namun nama-nama ini belum bisa menunjukkan perlawanan yang konsisten pada Marc Marquez. Johan Mir, Quartararo, Francesco Bagnaia dan Jorge Martin bisa merebut gelar juara karena Marc sedang cidera berat dan ketika berupaya untuk come back.

Dengan kondisi 100 persen fit disertai motor yang proper, Marc Marquez terbukti sulit dikalahkan.

Alex Marquez pembalap yang moncer di tahun 2025 tentu yang paling tahu. Beberapa kali berhasil membuat Marc tertinggal, Alex tahu persis bahwa sulit untuk terus menerus mengalahkan Marc Marquez. Alex pun harus terima gelar Mister P2, karena hampir selalu menjadi yang kedua setelah Marc Marquez.

Meski ingin menjadi juara dunia dan punya peluang, namun Alex menyadari selama masih ada kakaknya di lintasan, nasibnya memang selalu akan menjadi yang kedua seperti halnya dalam hubungan keluarga.

Francesco Bagnaia yang digadang-gadang bakal bangkit karena tahun sebelumnya dipecundangi oleh pembalap tim satelit yakni Jorge Martin ternyata malah melempem ketika ditandemkan dengan Marc Marquez.

Logika positifnya, seorang pembalap akan terpacu untuk bersaing dengan rekan setimnya. Musuh atau patokan untuk pembalap adalah teman satu garasi.

Ducati berharap dengan memasangkan Pecco dan Marc, setiap balapan mereka berdua bergantian saling memenangkan.

Tapi ternyata harapan itu terkubur. Sampai melewati paruh musim, Bagnaia masih kesulitan dengan motornya.

BACA JUGA : Tujuhbelas Tujuhbelas

Pengakuan demi pengakuan mulai berdatangan atas capaian Marc Marquez yang kembali impresif paska cidera panjang. Come back bersama dengan Gresini Racing membuat grafik Marc Marquez kembali menanjak. Tim pabrikan Ducati yang menuai panennya.

Pembalap-pembalap yang tidak pernah berada dalam lintasan yang sama dengan Marc Marquez namun masih rajin menyaksikan balapan, mulai was-was. Rekor mereka yang tak terpecahkan terancam diambil oleh Marc Marquez.

Bisa jadi mereka tidak senang, namun mau tak mau harus mengakui kalau Marc Marquez memang pembalap yang ‘agak laen’.

Stoner menyebut Marc adalah paket lengkap, kombinasi antara bakat dan kerja keras.

Dulu bersama Honda, kerja keras Marc Marquez kerap ditafsir sebagai brutalitas, Marc begitu agresif hingga cara membalapnya bukan hanya membahayakan dirinya sendiri tetapi juga pembalap lainnya.

Namun Marc berhasil. Dan dengan keberhasilan mendominasi balapan, Marc dianggap punya waktu untuk melakukan orkestrasi di lintasan. Oleh Valentino Rossi, Marc Marquez dianggap GU, gila urusan. Rossi berpendapat demikian karena Marc dianggap melakukan intervensi untuk menentukan siapa yang lebih disukai untuk menjadi Juara Dunia ketika dirinya tak mungkin meraih mahkota itu.

Marc oleh Rossi dianggap lebih memilih Jorge Lorenzo, rekan satu negaranya untuk menjadi Juara Dunia dengan cara mengganjal Velentino Rossi.

Luka itu begitu dalam, sehingga Rossi bukan hanya menggangap Marc brutal tetapi juga licik.

Legenda Italia memang terancam oleh Marc Marquez. Bukan hanya Rossi tetapi juga Giancomo Agostini.

Rekor kemenangan Agostini yang berpeluang untuk digeser oleh Marc Marguez. Sementara rekor juara dunianya sebanyak 15 kali mungkin agak sulit. Agak sulit karena sistem untuk meraih gelar juara dunia di jaman Giancomo Agostini dan jaman ini memang berbeda.

Marc berpeluang untuk menyamai rekor juara dunia Valentino Rossi, tahun 2025 ini bisa dipastikan Marc akan meraih gelar juara dunia ke 9 kali, dan tahun depan masih punya peluang sehingga catatan legendaris Rossi bisa dilewati.

Bersama Ducati, Marc Marquez nampaknya akan melakukan ‘pengulingan’ terbesar sepanjang sejarah Moto GP, Marc akan menggeser legenda-legenda Moto GP, para GOAT Moto GP terancam.

Marc sedang menulis ulang sejarah Moto GP, setiap kemenangan yang diraih olehnya adalah revisi sejarah Moto GP. Masih menjadi pembalap aktif dengan peluang untuk membalap beberapa tahun ke depan, Marc telah menjadi legenda Moto GP.

Yang kena mental bukan hanya pembalap-pembalap yang telah pensiun dan tak punya peluang lagi merubah rekor, melainkan juga pembalap-pembalap yang masih aktif. Kehadiran Marc di lintasan sungguh menyiksa. Dalam jangka waktu yang panjang, Marc seperti menutup talenta-talenta baru untuk bersinar.

Pedro Acosta adalah salah satu korbannya. Pembalap tengil ini berusaha untuk lepas dari bayang Marc Marquez, namun dalam beberapa kali duel, Pedro terlihat memang bukan lawan Marc Marquez.

Yang bisa memanfaatkan kesempatan justru Fermin Aldequer. Pembalap yang karirnya ke Moto GP agak lain ini mampu memanfaatkan kesempatan. Fermin berkali-kali bisa meraih banyak poin karena melewati pembalap yang sebelumnya diintimidasi oleh Marc Marquez sehingga bannya kehilangan cengkraman.

Di Sirkuit Red Bull Ring, Fermin berhasil menjadi pemenang kedua dengan melewati Pedro Acosta dan Marco Bezzecchi.

BACA JUGA : Pati Gandul

Sampai dengan paruh musim seri Moto GP 2025, apa yang disajikan oleh Marc Marquez di lintasan semakin membuka mata pada bisa memori balapan yang lampau. Masa ketika Marc lebih dinilai sebagai pembalap nekat, karena opini lebih mengikuti pandangan Valentino Rossi.

Rossi membuat cara pandang pada Marc menjadi berbasis suka tidak suka.

Pandangan ini mulai dikoreksi karena bersama Ducati Marc Marquez membuktikan dirinya adalah pembalap yang cerdas.

Jadi Marc Marquez bukan GU atau Gila Urusan untuk mempengaruhi hasil balapan. Marc dengan semua bakat, kerja keras dan niatnya yang kuat mampu meng’orkestrasi’ balapan.

Ketika membalap Marc bukan hanya berpikir untuk menang, tapi bagaimana meraih kemenangan dengan melakukan analisa baik pada motornya sendiri maupun motor lawan di depannya.

Berkali-kali Marc Marquez membuat kejutan, motornya seperti kehilangan kecepatan. Tim dan penonton berpikir Marc ada masalah.

Tapi ternyata, Marc sengaja mundur manis.

Dua kali Marc mundur manis karena masalah tekanan ban yang berada di bawah regulasi. Marc membiarkan Alex Marquez dan Pedro Acosta melewati dirinya dengan gampang. Tapi kemudian ditempel ketat di belakang agar Marc mendapat panas dari knalpot motor di depannya.

Panas akan membuat temperatur dan tekanan bannya naik. Dan ketika dirasa cukup, Marc kemudian segera melakukan overtake yang kesemuanya dilakukan dengan mudah lalu ngacir ke depan.

Valentino Rossi pernah digelari The Doctor, gelar yang diamininya. Maka Marc Marquez mungkin lebih tepat menyandang gelar The Professor.

Kecerdasan Marc Marquez, kemampuannya membalap ratusan kilometer per jam disertai dengan berpikir dan menganalisa dibuktikan kembali di Sirkuit Red Bull Ring. Marc yang berusaha menempel Marco Bezzecchi dan mencapai jarak yang cukup untuk melakukan overtake kemudian mundur manis. Setiap lap kecepatan Marc semakin menurun hingga kemudian berjarak hampir satu detik. Yang menyaksikan sudah was-was, Marc akan kalah dengan Bezzecchi bahkan mungkin bakal disusul oleh Pedro Acosta atau Fermin Aldequer.

Namun dalam beberapa lap, Marc kemudian menunjukkan peningkatan kecepatan, dengan segera mendekati Marco Bezzecchi dan kemudian saling salip. Saling salip pertama Marc melakukan ujicoba pada simpanan kecepatan Bezz. Dan saling salip kedua, begitu bisa melewati Marc Marquez langsung ngacir.

Marc ternyata mundur manis karena temperatur bannya yang mulai meninggi. Tekanan yang naik akan membuat ban mengembung sehingga tidak rata. Akibatnya cengkeraman pada aspal akan menurun dan berpotensi untuk terjatuh.

Marc harus mendinginkan bannya sehingga menjauh dari Bezzecchi. Dan ketika tekanan mulai normal, Marc langsung melakukan tekanan pada Bezzecchi dan berhasil melewatinya untuk meraih gelar juara.

Dengan Ducati, Marc Marquez kini menjadi konduktor yang meng-orkestrasi balapan Moto GP.