KESAH.ID – Di tengah deru mesin industri dan kilauan api abadi dari menara suar eksplorasi migas yang mengepung Delta Mahakam, warga Desa Muara Pantuan justru terperangkap dalam sebuah ironi besar. Mereka hidup di atas lumbung energi nasional, namun harus bergelut dengan kelangkaan gas yang mencekik. Ketika pipa-pipa raksasa menyalurkan kekayaan bumi ke penjuru negeri sementara dapur warga terancam dingin, masyarakat setempat pun kembali menoleh ke akar, memanen pengetahuan leluhur tentang kayu mangrove sebagai benteng terakhir kedaulatan energi mereka.
Muara Pantuan bukan sekedar titik di peta Delta Mahakam yang dari udara terlihat seperti kipas besar. Desa ini merupakan salah satu tempat penting dalam peta energi nasional. Langit malam tak pernah benar-benar menjatuhkan tirainya. Di ufuk barat langit Delta Mahakam sering kali semburat jingga tetap menyala, bukan karena matahari enggan tenggelam, tetapi lidah api dari cerobong flare milik perusahaan migas nasional menyembur abadi.
Di wilayah yang seharusnya sepi dan tenang ini sura gemuruh mesin-mesin industri dari kejauhan menjadi latar kehidupan dari ribuan jiwa yang tinggal diatas rumah-rumah panggung kayu yang berderet di tepian air.
Desa ini berdiri di atas hamparan sedimen Sungai Mahakam yang mengeras selama berabad-abad, membentuk daratan unik yang dikepung labirin perairan. Di bawah perairannya pipa-pipa baja raksasa tertanam di dasar lumpur, menyalurkan jutaan meter kubik gas bumi yang menjadi tulang punggung energi nasional. Namun, kemegahan infrastruktur itu kontras dengan realitas di dapur dan meja makan warga. Di sini, energi adalah barang mewah yang rapuh.
Listrik hanya menyala selama 12 jam sehari, memaksa warga berakrab dengan kegelapan saat fajar sebelum mentari menyingsing. Masalah kian pelik ketika memasuki awal tahun 2026. Gas LPG 3 kilogram, atau lebih sering dikenal sebagai “gas melon” yang seharusnya menjadi hak masyarakat kecil, mendadak hilang dari peredaran.
Nade (50), menatap kosong ke arah perairan yang memisahkan desanya dengan pusat kecamatan di Anggana. “Suplai dari darat tersendat. Kalaupun ada, harganya sudah tidak masuk akal, bisa tembus 40 sampai 45 ribu rupiah per tabung,” ujarnya dengan nada getir.
Bagi nelayan yang penghasilannya bergantung pada pasang surut laut dan fluktuasi harga ikan, angka tersebut adalah lubang besar dalam anggaran rumah tangga. Kelangkaan ini menjadi anomali yang menyakitkan; mereka tinggal di pusat produksi migas, namun harus berebut untuk memperoleh satu tabung gas melon demi menyambung nyala kompor.

BACA JUGA : Humor Serius

Saat energi modern yang didistribusikan negara mulai tersendat oleh jarak dan birokrasi, masyarakat Muara Pantuan tidak lantas berhenti memasak. Di tengah ketiadaan pilihan, mereka kembali ke “pelukan lama”: energi subsisten dari hutan mangrove. Di dapur-dapur rumah panggung yang lembap oleh uap air laut, kayu bakar kembali menjadi penyelamat.
Ini bukan sekadar tindakan darurat, melainkan sebuah manifestasi dari pengetahuan lokal yang dalam. Bagi warga seperti Norsiah (70), hutan mangrove di sekitar desa adalah supermaket energi yang menyediakan spesifikasi panas berbeda-beda. Norsiah, yang sehari-hari memproduksi kerupuk udang dan ikan, tahu betul bahwa tidak semua kayu diciptakan sama.
“Kalau mau merebus adonan kerupuk dalam kuali besar, pakainya kayu Lendro’ (Rhizophora sp.). Apinya besar, menjilatnya cepat, dan tidak mudah mati,” jelas Norsiah sambil menyusun potongan kayu di bawah tungku tanah liatnya. Sebaliknya, jika urusannya adalah memanggang ikan, Pak Baco (60) akan mencari kayu Api-api (Avicennia sp.). Kayu ini tidak menghasilkan api yang berkobar hebat, melainkan bara yang stabil dan tahan lama—kunci agar daging ikan masak merata hingga ke tulang tanpa meninggalkan aroma asap yang getir.
Ada pula kayu Paci-paci yang menjadi andalan Pak Bahar untuk kebutuhan memasak cepat. Pengetahuan ini bukan didapat dari sekolah teknik atau sosialisasi pemerintah, melainkan dari ribuan jam interaksi antara manusia dan ekosistem pesisir. Di tangan mereka, mangrove bukan sekadar tanaman pelindung pantai, melainkan teknologi energi yang handal dan mandiri. Yang menarik, ketergantungan ini tidak lantas membuat mereka destruktif. Ada etika lingkungan yang kuat; mereka hanya mengambil ranting yang jatuh atau pohon yang sudah mati secara alami, menyadari sepenuhnya bahwa jika hutan itu habis, maka habis pulalah pelindung desa mereka dari amukan ombak.

BACA JUGA : MBG McDonald

Fenomena di Muara Pantuan adalah sebuah otokritik bagi narasi besar transisi energi nasional. Di Jakarta dan kota-kota besar, transisi energi dibicarakan melalui angka-angka investasi triliunan rupiah, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya masif, atau ekosistem kendaraan listrik. Namun, di hilir Mahakam, transisi energi justru terasa seperti jalan mundur menuju kayu bakar akibat kegagalan distribusi energi modern yang adil.
Kasus Muara Pantuan membuktikan bahwa ketahanan energi sebuah bangsa tidak hanya diukur dari seberapa banyak cadangan migas yang tersimpan di dalam perut bumi, tetapi dari seberapa dekat akses tersebut bagi rakyat yang tinggal di atasnya. Kayu bakar di dapur Norsiah bukan sekadar simbol kemiskinan; ia adalah tanda daya tahan masyarakat menghadapi sistem yang abai.
Transisi energi yang adil seharusnya tidak hanya mengejar target emisi nol bersih (net zero emission), tetapi juga harus memastikan tidak ada lagi warga yang harus bersusah payah mencari kayu di hutan hanya karena harga gas tak terjangkau di lumbung gas sendiri. Masa depan energi Indonesia harus dibangun dengan mendengarkan suara-suara dari pinggiran—suara para perempuan lansia pembuat kerupuk dan para nelayan pencari bara.
Dari asap dapur di desa yang daratannya leboh kecil dari kawasan perairannya ini, kita diingatkan kalau kedaulatan energi yang sejati bukanlah tentang seberapa besar pipa yang tertanam, melainkan tentang seberapa hangat tungku rakyat kecil bisa menyala setiap pagi tanpa rasa cemas.
Penulis : Jamiah
Editor : Yustinus S Hardjanto
Gambar : Jamiah









