Diduga depresi karena sudah kuliah selama 7 tahun namun belum lulus, seorang mahasiswa ditemukan gantung diri.

Berada dalam masa injury time dan tugas akhir atau skripsinya kerap ditolak oleh dosennya, mahasiswa yang tinggal sendirian di rumah kakaknya yang bekerja di luar daerah memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri, Sabtu, 11 Juli 2020.

Menurut penuturan kakak angkatnya, adiknya itu sudah dua tahun jarang masuk kuliah. Kakaknya yang bekerja di luar kota memantau melalui CCTV dan melihat adiknya itu mondar-mandir di sekitar rumah, gerak-geriknya tidak karuan seperti orang stress. Ketika dicek lagi melalui CCTV ternyata tidak ada pergerakan yang nampak sehingga kakaknya khawatir dan kemudian pulang.

Setiba di Samarinda, rumah terkunci, ketukan pintu tidak dijawab. Dan lewat jendela samping rumah kakaknya melihat sang adik mengantung diri di dapur.

Tentu saja kejadian ini menghebohkan warga kota Samarinda, berbagai tanggapan muncul. Dan bukan sekali dua kali dunia pendidikan memakan korban.

Depresi dan stress memang kerap disepelekan. Padahal depresi adalah masalah yang nyata dan banyak terjadi di sekitar kita. Di seluruh dunia menurut WHO ada kejadian kurang lebih 800 ribu orang bunuh diri karena depresi. Bunuh diri menjadi salah satu penyebab terbesar kematian untuk orang yang berusia antara 15 – 29 tahun.

Menurut perkiraan ada sekitar 15 juta warga Indonesia yang mengalami depresi. Menurut Ryu Hasan seorang neuoroscientist, depresi memang masih dipenuhi oleh fenomena, hal-hal yang belum bisa diterangkan secara jelas dan gamblang bagaimana mekanismenya. Namun yang jelas depresi bermula dan berakhir di otak.

Kejadian, mood dan pengalaman apapun yang dialami oleh orang depresi bersumber dari otak. Dan dampak paling mengerikan dari depresi adalah bunuh diri. Ryu menegaskan bahwa kejadian terbesar dari bunuh diri disebabkan oleh depresi.

Fakta statistic menunjukkan 1 dari 5 orang pernah depresi. Namun depresi itu berbeda-beda. Level atau tingkatannya mulai dari yang berat sampai ringan. Gejala ringan yang paling biasa terjadi adalah mood yang berubah-ubah dengan cepat. Dan ternyata depresi tidak ada hubungannya dengan kesedihan dan kegembiraan. Orang bisa saja depresi dan gembira pada saat yang sama.

Depresi biasanya dimulai dari merasa sendirian, merasa dunia lebih baik tidak ada saya. Lalu timbul ketakutan menjadi gila. Namun yang pasti depresi adalah kejadian riil, WHO dengan hastag #let’stalk mengajak orang-orang yang tidak depresi membantu orang-orang depresi.

Meski demikian depresi tidak selalu menghasilkan hal yang negatif. Ryu memberikan contoh dua orang legendaris yang seumur hidupnya mengalami depresi yaitu Abraham Lincoln dan Winston Churchil.

Dalam sebuah catatannya, Lincoln menuliskan “Andai kesedihan saya ini dibagikan ke suluruh dunia, saya yakin tak ada senyum di dunia ini.”

Dengan alat-alat yang tersedia sekarang berupa Functional MRI atau Path Scan akan terlihat jelas perbedaan citra di otak antara orang depresi dan tidak depresi. Depresi itu variasinya sangat luas, namun depresi adalah kondisi sakit karena itu perlu obat-obat antidepresan untuk penderitanya. Maka menghadapi orang depresi sama dengan menghadapi orang sakit.

Sayangnya sampai sekarang belum ada cara yang benar atau salah dalam menghadapi depresi. Meski demikian para praktisi sudah mempunyai panduan treatment yang terus diperbaharui. Hanya saja jarang sekali para penderita depresi mendatangi entah dokter, psikiater maupun psikolog.

Seorang penderita depresi yang merasa sendirian, terkadang justru menolak kehadiran orang lain meski sebenarnya dia perlu.

Waspada atau cepat menyadari ketika orang disekitar kita depresi menjadi penting. Mereka yang mempunyai tanda sedih berkepanjangan, mendadak menyendiri, suka bertanya saya ini gila apa ndak ya , merasa sendirian dan apalagi sampai mencoba bunuh diri. Ajaklah mereka bicara, hadirlah sebagai teman, meskipun dia kelihatannya tidak ingin.

Catatan pentingnya penderita depresi tidak memerlukan nasehat. Menurut Ryu Hasan nasehat kepada penderita depresi justru akan membuatnya semakin depresi. Jadi dampingi saja dan dengarkan.

Kondisi eksternal yang bagus justru kerap merugikan, membuat penderita depresi semakin merasa bersalah makin dalam, makin bertanya apa yang dia tak punya dan tak bisa lakukan dengan semua kelebihan keluarga, masyarakat dan lain-lain.

Perkataan ayu bangkit, move on, maju dan lain-lain akan membuat mereka yang depresi menjadi semakin depresi. Ryu menandaskan kalau kita tak bisa menahan diri untuk menasehati maka jauhkan diri dari mereka yang depresi.

Peristiwa bunuh diri seorang mahasiswa yang ditenggarai karena berkali-kali skripsinya ditolak sementara masa pendidikannya sudah hampir habis mestinya menjadi lonceng peringatan untuk siapapun yang sedang punya tanggungjawab membimbing siswa atau mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir.

Semangati dan buatlah mudah untuk siswa dan mahasiswa menyelesaikan tugas akhirnya seperti yang ditemukan dalam halaman facebook Yaya Rayadin, Ahli Orang Hutan, Dosen Universitas Mulawarman yang menyebarkan pesan motivasi kepada mahasiswa bimbingan skripsinya lewat WAG.

Yaya Rayadin menuliskan pesan demikian :

Kepada semua bimbingan skripsi, untuk kesekian kali saya mengingatkan kembali agar berani cepat menyelesaikan skripsi.

  1. Skripsimu itu tidak akan merubah nasib bangsa ini bahkan nasibmu sendiri.
  2. Skripsi itu hanya salah satu syarat kamu untuk lulus dan hanya 6 SKS dari 150 SKS yang sudah kamu tempuh.
  3. Buat skripsi yang mudah dan murah yang penting logika daasarnya jelas dan kamu bisa lulus.
  4. Dokumen skripsimu pada akhirnya akan menjadi bahan dasar sampah.

Yang terpenting adalah kamu harus lulus karena itu tanggungjawabmu pada dirimu, orang tuamu dan masa depanmu.

Ayo semangat.

Salam

Rr. YaR

 

Sumber tulisan :

https://samarinda.kompas.com/read/2020/07/12/19122501/mahasiswa-gantung-diri-di-samarinda-diduga-depresi-kuliah-7-tahun-tak-lulus?page=all

https://www.youtube.com/watch?v=cFPrzr00m8I

https://www.facebook.com/photo?fbid=3138188439627780&set=a.101575686622419

Kredit foto : Fernando – @ferdo  – unsplash.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here