KESAH.ID Balapan Moto GP 2025 memang baru berlangsung dua kali, namun sudah menghadirkan kejutan karena Marc Marquez yang awalnya diprediksi akan bersaing dengan Pecco Bagnaia dan Jorge Martin, ternyata justru bersaing ketat dengan adiknya, Alex Marquez. Ducati masih merajai, memimpin di depan dengan meyakinkan. Walau mungkin masih cocok disebut Ducati Cup, namun dua seri pembukan Moto GP 2025 lebih cocok untuk disebut sebagai Marquez Grandprix.

Coba perhatikan baik baik logo Moto GP ada yang berubah di tahun 2025 ini. Logonya lebih sederhana, tak lagi menggunakan kotak hitam, seperti bendera start dan finish. Hanya huruf saja dengan tambahan tagline “Faster, Forward, Fearless”.

Nah, menariknya logo ini sering disingkat menjadi MGP, seperti terlihat dalam mikrofon awak media resmi Moto GP.

Seperti singkatan ini pas dengan plesetan, Moto GP menjadi Marquez GP karena dalam dua seri pembuka tahun 2025, podium dikuasai oleh Marquez bersaudara. Marc dan Alex, empat kali berturut-turut duduk di podium 1 dan 2.

Balapannya juga seperti template, dimana dalam balapan utama, Alex memimpin di lebih banyak putaran namun di beberapa lap terakhir kembali diambil alih oleh Marc.

Jika tahun lalu banyak yang mengatakan Moto GP ibarat balapannya murid Rossi yang menunggang Ducati, atau Rossi Ducati Cup, walau pada akhirnya yang menjuarai adalah Jorge Martin yang bukan murid Rossi. Pada seri tahun 2025 ini Ducati memang tetap memimpin, namun lebih layak untuk disebut bukan sebagai balapan Ducati melainkan balapan keluarga Marquez. MGP artinya Marquez Grand Prix.

Soal kebangkitan kembali Marc marquez memang banyak yang meramalkan. Begitu meninggalkan Honda yang sebenarnya mampu membuatnya menjadi pembalap dengan bayaran tertinggi dalam sejarah Moto GP, Marc yang bergabung dengan Gresini Racing langsung menunjukkan tanda-tanda kembali digdaya.

Sejak balapan pertama di tahun 2024, Marc Marquez sudah langsung menjadi salah satu penantang utama, Pecco Bagnaia dan Jorge Martin yang digadang-gadang akan menjadi juara.

Marc Marquez jadi perbincangan, kebintangannya naik kembali. Sampai-sampai Pecco dan Jorge menjadi gerah, mereka yang menang tapi Marc yang dibicarakan.

Moto GP yang menjadi tenang ketika Marc Marquez cidera kemudian kembali bergemuruh. Sorak sorai ala tontonan dangdut terdengar kembali. Setiap kali Marc Marquez bersaing merebut posisi dan kemudian berhasil melewati pembalap lainnya, ada gemuruh sorak sorai dari pendukungnya.

Dan Marc memang menyajikan tontonan yang mengasyikkan. Dia berkali-kali bisa membalik keadaan, start dari baris belakang dan kemudian berhasil merangsek ke depan.

Beberapa kemenangannya terjadi secara dramatis.

Marc telah kembali seperti dahulu lagi.

Tampil ngotot hingga masih tercatat sebagai salah satu rider yang paling banyak mengalami crash. Marc hanya kalah jumlah dengan Pedro Acosta, rookie yang bersinar di tahun 2024.

Di Gresini Racing, Marc masih menunjukkan DNA membalapnya ala-ala Honda. Memaksa motornya sampai batas. Jatuh menjadi pertanda kalau sudah melampaui batas.

Penampilannya yang menarik secara olahraga dan bisnis kemudian membuat Ducati kepincut.

Ducati kepincut karena Marc bisa memperlakukan Ducati berbeda dengan pembalap lainnya. Aksi Marc Marquez dengan Ducati tuanya berada di luar text book.

Dan kejutan terbesar di Moto GP 2024 adalah Ducati berani membuang bibit-bibit muda potensial yang dibina olehnya untuk menjadi pembalap masa depan, demi memberi satu tempat pada Marc Marquez.

Bukan hanya kehilangan pembalap, Ducati juga kehilangan mitra setia yang bertahun-tahun menjadi tandem untuk melakukan pembibitan pembalapnya. Prima Pramac Racing kemudian juga hengkang dari Ducati, karena kecewa pembalapnya tidak dipilih sebagai pembalap utama Ducati pabrikan.

BACA JUGA : Sang Surya Energi Masa Depan

Tanda-tanda Marc Marquez makin gacor terlihat dalam test pra musim. Walau dikenal bukan sebagai pembalap yang punya bakat mengembangkan motor, soal adaptasi pada motor Marc terbilang jago. Setelah lama menunggangi Honda, ternyata Marc langsung nyetel dengan Ducati saat berada di Tim Gresini Racing.

Maka tak ada keraguan kalau Marc juga akan segera nyetel dengan motor Ducati terbaru yang akan menjadi tunggangannya di Tim Ducati Lenovo.

Test Sepang dan Buriram membuktikan hal itu. Marc tidak kesulitan menunggangi motor Ducati 2025. Walau pada akhirnya Marc merekomandasikan untuk memakai motor versi 2024.

Hal yang sama rupanya diusulkan juga oleh Bagnaia. Menurut mereka Ducati versi 2025 walau kencang namun sulit dikendalikan saat pengereman dan belokan.

Yang kencang di test pra musim ternyata bukan hanya Marc, Alex adiknya juga kencang. Memasuki tahun ketiga sebagai pembalap Ducati lewat Tim Gresini, Alex sepertinya telah menguasai karakter motor Ducati. Apalagi menunggangi Ducati versi tahun 2024 yang merupakan motor juara.

Dalam beberapa kesempatan Alex bahkan lebih kencang dari Marc Marquez.

Maka sebelum seri 2025 dimulai, Marc menyampaikan kalau salah satu lawan terberatnya yang akan dihadapi di musim balap 2025 adalah adiknya sendiri.

Persaingan pada musim balap 2025 memang akan terjadi di kalangan penunggang Ducati. Sebab pabrikan lain seperti Aprilia akan digawangi oleh pembalap baru. Jorge Martin sang juara dunia yang kemudian bergabung dengan Aprilia mengalami kecelakaan saat ujicoba sehingga terancam tak bisa mengikuti beberapa balapan pembuka.

Praktis Aprilia akan melawan Ducati lewat Marco Bezzecchi yang juga merupakan pembalap baru, pindahan dari VR46 yang sebelumnya mengendari Ducati.

KTM juga dipandang tidak akan memberi perlawanan yang berat karena tertimpa masalah di perusahaannya. Pabrikan yang sebelumnya jor-joran melakukan pengembangan, kini terbatas keuangannya karena masalah penjualan yang tidak seperti diharapkan. Dengan kesulitan ini, tim balap KTM bahkan belum jelas masa depannya.

Sedangkan Yamaha dan Honda masih berkutat dengan pengembangan untuk mengejar ketertinggalan. Walau menunjukkan tanda yang positif, namun belum cukup bagi Yamaha dan Honda untuk menjadi sekompetitif pabrikan Eropa.

Bisa dibayangkan sejak awal, bahwa Moto GP 2025 akan menyajikan persaingan antar pembalap Ducati yang menurunkan 6 motor. Walau kemungkinan besar Fermin Aldequer, sang rookie masih akan sulit mengimbangi pembalap Ducati lainnya.

BACA JUGA : Macan Loreng

Moto GP 2025 diiklankan sebagai pertarungan para juara dunia. Di musim ini pembalap aktif di Moto GP, yang pernah meraih gelar tertinggi berjumlah 5 orang. Mereka adalah Marc Marquez, Fabio Quartararo, Johan Mir, Francesco Bagnaia dan Jorge Martin.

Balapan bertabur bintang ini mestinya seru. Hanya saja, Jorge Martin ternyata tak bisa bergabung karena cidera yang membuatnya harus beristirahat cukup panjang. Mungkin sampai 3 – 4 seri pertama.

Dan balapan pertama atau pembuka yang digelar di Sirkuit Chang, Buriram, atmosfirnya berubah.

Marc Marquez dan adiknya menguasai sejak sesi latihan. Memang ada beberapa pembalap yang menyodok, namun tak mampu menghentikan dominasi kakak beradik ini. Francesco Bagnaia, rekan satu tim Marc Marquez ternyata masih menghadapi masalah dengan motornya.

Dan benar saja di balapan sprint Marc langsung mampu ngacir ke depan. Dan tak terkejar lagi. Podium pertama di balapan sprint pertama diraih dengan santai oleh Marc Marquez, yang kemudian disusul oleh adiknya.

Pada balapan utama, Marc mengulangi kembali langkahnya dengan langsung ngacir ke depan. Namun karena problem tekanan ban, Marc kemudian mengendurkan gasnya dan membiarkan Alex memimpin sebagian besar putaran. Marc membuntuti ketat di belakangnya, untuk mendapat semburan panas.

Dan menjelang lap terakhir Marc langsung mengambil alih pimpinan balapan dan kemudian finish di depan.

Kejadian hampir sama terjadi di Termas de Rio Hondo, Argentina. Marc kembali meraih pole position dan melakukan start yang baik. Di balapan utama, Marc nampak harus sedikit berjuang. Beberapa kali motornya oleng seperti hendak mengalami high side dan kehilangan traksi ban depan.

Namun beberapa lap menjelang balapan berakhir lagi-lagi Marc berhasil bangkit dan mengambil alih pimpinan balapan serta mengakhiri balapan sebagai yang terdepan.

Empat balapan, yakni dua sprint dan dua balapan utama, Marc berhasil menjadi pemenang dan disusul oleh adiknya, Alex Marquez. Hampir tak ada keseruan dalam balapan. Keseruan hanya di tingkat mikro, rebutan antara podium satu dan dua, lalu ada jarak dengan pembalap di belakangnya yang berebut podium 3 dan empat, lalu berjarak lagi dan kemudian pembalap berebut podium lima dan seterusnya.

Rombongan pembalap terpecah-pecah dalam rombongan kecil, yang kemudian saling berebut posisi terbaik. Marc dan Alex bukan tujuan mereka untuk disalip, jaraknya terlalu jauh.

Jadi tak salah kalau sampai dengan seri di Argentina, Moto GP disebut sebagai Marquez Grand Prix karena yang bersaing di barisan depan hanya kakak adik, Marc dan Alex Marquez.

Mungkin persaingan ini akan berlanjut di seri ketiga, ketika balapan digelar di Circuit Of The America, Austin. Marc hampir selalu tampil baik disini, dan Alex juga sudah mulai tahu bagaimana bersaing dengan kakaknya sampai titik akhir, sampai pada batas motornya.

Mungkin balapan tidak akan seru, membosankan untuk ditonton karena jarang terjadi overtake di barisan depan. Drama balapnya juga berkurang. Namun kita tak tahu, apa yang hendak Marc Marquez perbuat, dia adalah jenis pembalap yang kerap menghadirkan kejutan.

Namun sepertinya, penampilan Marc yang garang, perhitungan pendek dan mengambil resiko tinggi untuk menang, sepertinya semakin sulit untuk diharapkan. Pembalap terbaik dengan motor dan tim terbaik ini sekarang tampil kalem. Tak ngotot lagi dan ternyata tetap menang.

Tanpa hal-hal yang aneh dan membuat drama disana-sini, sebagian besar pembalap Moto GP kini sudah terkena mentalnya gara-gara dominannya Marc Marquez di dua balapan pertama tahun ini.

note : sumber gambar – CRASH