KESAH.ID – Terus dihantam oleh dampak operasi tambang baik tambang resmi maupun ilegal, petani Kalan Luas Makroman terus berusaha setia dalam bertani sawah. Area persawahan yang kerap tercemar oleh lumpur tambang terus digarap dengan penuh semangat. Selalu ada harapan bahwa sawah akan kembali mendatangkan kesejahteraan untuk petani, karena padi dan berasnya dibutuhkan oleh warga Kota Samarinda.
Tigapuluhan tahun lalu area persawahan di Kalan Luas, Makroman mulai dikembangkan. Luasnya kurang lebih 70-an hektar. Berada di bagian perlembahan yang dikelilingi oleh bukit yang menghijau. Berbekal air hujan dan mata air yang mengalir dari perbukitan, masyarakat petani di Kalan Luas, bersama petani dari wilayah lain di Makroman mampu menjadikan kawasan persawahan di Kelurahan Makroman itu sebagai penopang pangan Kota Samarinda.
Petani yang mulai menikmati hasil jerih payah mereka ini hidupnya jadi porak poranda karena sekitar tahun 2008, perbukitan yang mengelilingi area persawahan mulai ditambang. Adalah CV Arjuna yang mendapat ijin konsesi menambang di wilayah Makroman.
Operasi tambang membuat area persawahan yang ditanami padi menjadi terganggu. Sumber air untuk persawahan mati karena bukitnya ditambang. Selain kekurangan air, ladang atau kebun masyarakat kemudian diganggu oleh serangan Monyet dan Beruk karena habitat mereka di perbukitan hilang.
Dan di musim penghujan, sawah sering terendam banjir yang membawa lumpur. Padi yang terendam lumpur akan mati, kalaupun bertahan hidup perkembangannya akan terganggu. Seiring dengan operasi tambang, penghasilan petani dari padi di sawah ikut menurun.
Kehadiran tambang yang mengakibatkan hilangnya sumber air juga membuat peternak ikan kehilangan kolamnya. Tak ada lagi sumber air untuk mengisi kolam ikan.
Sekitar lima tahun lalu operasi tambang CV Arjuna berhenti karena ijinnya berakhir dan tak diperpanjang lagi. Tiga kelompok tani di Kalan Luas perlahan-lahan memulihkan kondisi lahan pertaniannya.
Dengan mengandalkan irigasi yang dialiri oleh air dari lubang tambang, petani bisa mulai meningkatkan hasil panenannya. Setelah tambang tak lagi beroperasi, sawah yang ditanami padi bisa menghasilkan 6 ton gabah setiap hektarnya.
Namun ketenangan para petani kembali terusik. Paska pandemi Covid 19 ternyata penambang koridoran masuk ke bekas wilayah konsesi CV Arjuna. Mereka berusaha untuk menambang sisa-sisa batubara yang ditinggalkan oleh CV Arjuna.
Ekonomi yang kembali bertumbuh selepas pandemi memang membutuhkan banyak sumber energi. Harga batubara melonjak dan permintaannya tinggi. Penambangan liar marak termasuk di Makroman.
Perbaikan lingkungan yang telah dilakukan oleh para petani terancam lagi karena pembongkaran lahan oleh para penambang.
“Kami kaget melihat tambang hidup lagi, eksavator kembali mengeruk tanah di perbukitan sana,” uajr para petani.
Wargapun menjadi gelisah, persatuan juga goyah karena ada beberapa warga yang mengijinkan lahannya ditambang atau menjadi jalan tambang.
Namun sebagian besar warga masih ingin mempertahankan lahannya sebagai lahan produktif, persawahan untuk bertanam padi dan ladang untuk bertanam sayuran serta komoditas lainnya.

“Hidup mati kami ini untuk bertani,” tutur mereka.
BACA JUGA : Gus Muhaimin Akhirnya Ketemu Jodoh
Pada tahun 2021, Pemerintah Kota Samarinda telah menerbitkan peraturan daerah tentang Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan. Perda ini pada intinya menetapkan kawasan pertanian sebagai kawasan perlindungan, zona merah yang tidak bisa dialihfungsikan.
Petani seharusnya merasa tenang dengan kehadiran peraturan daerah ini karena lahan pertanian mereka dilindungi. Kawasan pertanian terutama pertanian tanaman pangan seharusnya bebas dari ancaman pertambangan. Selain dilarang operasi tambang juga bisa dipidanakan karena melanggar peraturan daerah.
Namun ternyata di lapangan tidak demikian. Bisnis tambang batubara berjalan seperti biasa. Penambang masih bisa leluasa menambang di area lahan-lahan produktif bahkan tanpa ijin dari pemerintah. Hanya berkoordinasi dengan pihak tertentu dan sebagian kecil masyarakat, tambang ilegal bisa beroperasi siang malam.
Peraturan daerah ternyata tak mampu melindungi petani di Makroman dari ancaman buangan limbah pertambangan yang akan membuat sawah mereka dipenuhi lumpur dan air yang buruk untuk pertumbuhan padi.
Lingkungan perbukitan dengan tutupan lahan yang terus dibongkar juga menimbulkan persoalan lain. Monyet, Warik dan Beruk yang menjadikan wilayah itu sebagai rumah juga terusik. Habitatnya yang terganggu membuat mereka mencari makan di lingkungan rumah dan kebun penduduk. Merasa terganggu, para wargapun kerap memburu Warik dan Beruk, memasang perangkap untuk menangkap mereka.
Terus didera oleh kesulitan akibat konversi lahan mengakibatkan modal untuk budidaya tanaman padi menjadi semakin besar. Tingkat kesuburan lahan yang terus menurun akibat tiadanya pasokan kesuburan alami dari dekomposisi material organik hutan perbukitan membuat petani mesti memberi asupan pupuk pada lahannya.
Agar hasilnya sebanding dengan tenaga dan waktu yang dikeluarkan petani mesti memupuk lahannya dengan pupuk industri. Memang ada pupuk subsidi, namun jumlahnya terbatas dan kadang sulit untuk diakses.
Petani menjadi seperti anak tiri. Dipuja-puja sebagai penopang pangan namun nasibnya kurang diperhatikan.
“Kami ini seperti berjuang sendiri,” keluh mereka.
Berbagai cara dilakukan oleh petani untuk menarik perhatian pemerintah. Salah satu yang paling sering dilakukan adalah mengundang pemimpin daerah untuk melakukan panen raya.
Dalam kesempatan panen raya petani akan bisa mengungkapkan permasalahan kepada pemimpinnya, berdialog dan mencari jalan untuk menyelesaikan persoalannya.
Hampir setiap musim panen petani Makroman yang hanya bisa menanam padi dua kali setahun mengundang Walikota untuk acara panen raya. Sudah berkali-kali ganti Walikota namun nasib petani Makroman masih sama. Persoalannya juga tak berubah, jika awalnya mereka diganggu oleh tambang batubara dengan ijin konsensi kini mereka dilabrak oleh tambang ilegal.
Pada tanggal 4 September 2023, 3 kelompok tani di Kalan Luas, Makroman kembali mengadakan panen raya. Kali ini panen raya dilakukan dengan Rumah Bersama Ganjar Pranowo Kalimantan Timur. Rumah Bersama adalah tempat berkumpul sukarelawan dan simpatisan pendukung calon presiden Ganjar Pranowo.

BACA JUGA : Cara Jitu Melaporkan Jalan Rusak
Rumah Bersama Ganjar Pranowo Kaltim hadir bersama dengan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada yang diketuai oleh Ganjar Pranowo. Kegiatan panen raya ini bisa terlaksana dengan dukungan atau sponsor dari Pupuk Indonesia Holding Company.
Untuk para anggota Kelompok Tani Kalan Luas, Makroman, Pupuk Indonesia menyumbangkan 3 ton pupuk Urea dan NPK. Pupuk didatangkan dari Pupuk Kalimantan Timur {PKT} Bontang.
Dalam sambutannya, Baharuddin, Ketua Kelompok Tani Tunas Muda mengungkapkan beberapa persoalan yang dihadapi oleh petani. Selain ancaman konversi lahan, kelangkaan pupuk, petani juga menghadapi persoalan buruknya infrastruktur jalan tani. Mobilitas petani sering terganggu karena kondisi jalanan yang tidak baik.
Rusman Ya’qub, anggota DPRD Provinsi Kaltim dari Fraksi PPP yang merupakan Pembina Rumah Bersama Ganjar Pranowo Kaltim menerima keluhan para petani dan berjanji akan memperjuangkan pembangunan jalan tani.
“Pemerintah punya anggaran. Tahun depan Kaltim menorehkan rekor APBD. Tapi benar pertanian memang sering tidak ditempatkan sebagai prioritas. Padahal kita tergantung dari daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pangan,” ujar Rusman Ya’qub.
Rusman Ya’qub juga menghimbau agar ditengah semua kesulitan, para petani harus berupaya menyekolahkan anaknya.
“Tidak boleh ada anak putus sekolah disini, lapor ke saya kalau ada,” pintanya.
Kesempatan itu dipakai oleh warga untuk menyampaikan kondisi gedung SMAN 15 yang terbakar beberapa tahun lalu dan sampai kini belum diperbaiki.
Sementara itu Kagama diwakili oleh Didiek Anggrat, Ketua Pengda Kagama Kaltim yang sekaligus merupakan koordinator nasional kelompok kerja Kagama Kerja Nyata {KKN} untuk Negeri. Didiek yang bergelut dalam dunia pertanian terkejut melihat hamparan sawah di Makroman.
“Ternyata ada sawah seluas ini di Samarinda,” ujarnya.
Didiek berjanji ini bukan kali pertama Kagama akan datang ke Makroman. Kesempatan pertama ini merupakan perkenalan yang akan ditindaklanjuti dengan kegiatan-kegiatan lainnya untuk memajukan pertanian di Makroman.
“Pertanian di Makroman harus hebat,” pungkas Didiek.
Sedangkan Koordinator Rumah Bersama Ganjar Pranowo Kaltim, Asman Azis mengatakan kegiatan panen raya yang didukung oleh Kagama dan Pupuk Indonesia merupakan bukti kepedulian dari Ganjar Pranowo sebagai calon presiden terhadap masyarakat petani.
“Kami akan menyampaikan masalah di Makroman ini beserta masalah lain kepada Pak Ganjar agar menjadi pertimbangan dalam menyusun rencana kebijakan jika beliau menjadi presiden di 2024 nanti,” tutur Asman Azis.
Asman berharap bantuan dari Pupuk Indonesia bisa dimanfaatkan sebaik mungkin agar petani bisa menikmati hasil yang setara dengan tenaga dan waktu yang digunakan untuk bertani.
“Dan semoga kedepannya, kelompok tani di Makroman bisa terus bekerja sama dengan Kagama dan Pupuk Indonesia lewat skema program serta kegiatan yang lain sehingga Makroman bisa tetap menjadi lumbung padi untuk Kota Samarinda,” pungkas Asman.
Terik mentari semakin memanas, namun wajah petani Makroman nampak sumringah. Hari ini dan beberapa hari mendatang, hamparan padi akan berubah menjadi gabah yang siap untuk digiling dan menghasilkan beras baru untuk dinikmati oleh warga Kota Samarinda.
note : sumber foto ilustrasi – RUMAH BERSAMA GANJAR PRANOWO








