KESAH.ID Jauh-jauh hari Muhaimin Iskandar sudah mendeklarasikan diri sebagai Calon Presiden untuk pemilu 2024. PKB kemudian bergandengan dengan Gerindra membentuk koalisi dengan nama Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya. Koalisi ini mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden, sementara wakilnya belum ekplisit dinyatakan. Koalisi membesar dengan bergabungnya PAN dan Golkar. Namun Muhaimin Iskandar tak segera dinyatakan akan berpasangan dengan Prabowo sebagai Cawapres. DIgantung cukup lama, Muhaimin Iskandar segera menyambar tawaran dari kubu Anies Baswedan. Dan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar pun kemudian dideklarasikan.

Bangun dulu ijin belakangan. Begitu kiat banyak pihak ketika mendirikan bangunan. Anggapannya jika bangunan sudah berdiri yang berwenang memberi ijin ‘terpaksa’ akan mengijinkan karena fisik bangunannya sudah ada. Walau ada sedikit pelanggaran pasti akan dimaklumi. Toh pemberi ijin selalu mempunyai diskresi. “Mohon kebijakannya,” begitu pinta yang tertangkap basah melanggar peraturan.

Dalam urusan pemilu presiden, partai-partai umumnya juga mengumumkan dengan yakin seyakin-yakinnya siapa calon presidennya. Pokoknya maju dulu baru setelah itu bingung mencari-cari pasangan atau wakil presidennya.

Soal nama capres kelihatannya gampang, masing-masing ketua partai seperti punya hak prerogratif. Tapi utusan calon wakil presiden jadi rumit, terlebih jika sebuah partai berada dalam koalisi agar bisa mengajukan pasangan calon.

Anies Baswedan ketika diumumkan sebagai calon presiden oleh Partai Nasional Demokrat segera bisa menarik perhatian PKS dan Demokrat bergabung. Dengan nama Koalisi Perubahan, gabungan tiga partai itu memenuhi elektoral threshold untuk mengusung dan mengajukan pasangan calon dalam pilpres 2024.

Anies dan partai-partai pengusungnya mulai kasak-kusuk, mencari siapa calon wakil presidennya.

Sebagai calon presiden, Anies Baswedan nampaknya mengincar Khoffifah Indar Parawansa. Gubernur Jawa Timur ini dipandang mempunyai elektabilitas yang baik terutama di Jawa Timur dan kalangan Nahdiyin. Terus didekati dan dirayu namun Khoffifah tak mau.

Anies kemudian berupaya mendekati sosok perempuan lain. Susi Pujiastuti yang pernah populer sebagai Menteri Kelautan mulai dilobby. Bu Susi mungkin saja mau dan bisa mempunyai sumbangsih elektoral pada Anies namun bisa jadi partai koalisi kurang sreg.

Nama lain yang diinginkan oleh Anies Baswedan dan mungkin bisa diterima oleh partai koalisi adalah Mahfud MD, namun lagi-lagi Mahfud menyatakan tidak ingin.

Digambarkan sebagai calon yang tidak diinginkan oleh Joko Widodo, efeknya memang membuat banyak yang tidak berani untuk dipinang sebagai calon wakil presiden bagi Anies Baswedan.

Kesulitan mencari pasangan menjadikan peluang untuk Demokrat. AHY sudah lama digadang-gadang menjadi penerus SBY. Posisi AHY menguat, sepertinya tak ada pilihan lain bagi Anies dan koalisi kalau ingin berpartisipasi dalam pemilu presiden 2024.

Gambar Anies dan AHY segera dipasang serta dinaikkan. Demokrat pede dan SBY mulai merasa senang. Jalan bagi putra mahkotanya mulai lempang.

Partai Demokrat pun mulai semangat untuk menjadi mesin pemenangan bagi Anies Baswedan. Para calon anggota legislatif Demokrat yang mulai mencuri start kampanye, memasang wajah AA, Anies-AHY. Tidak seperti caleg PKS yang hanya memasang wajah Anies Baswedan, atau caleg PDIP yang hanya memasang wajah Ganjar.

Yang berbeda hanya orang Gerindra yang kerap memasang wajah Prabowo bersama Joko Widodo.

Tapi suasana kebatinan yang mulai riang di Partai Demokrat buyar. Tiba-tiba saja muncul nama pasangan Amin, Anies Muhaimin.

Muhaimin Iskandar, Ketua Partai Kebangkitan Bangsa membuat perubahan dalam Koalisi Perubahan.

BACA JUGA : Cara Jitu Melaporkan Jalan Rusak 

Yenny Wahid pernah mengatakan Muhaimin Iskandar sebagai politisi yang hobby-nya nyapres. “Orang kok hobbynya nyapres,” begitu ujarnya.

Jauh sebelum sosok lain mengatakan hendak maju atau mau menjadi calon presiden, Muhaimin Iskandar sudah lebih dahulu mendeklarasikan diri. Kalau yang lain memulai dari dini hari, PKB sudah mulai dari tengah malam. PKB sudah mempersiapkan pasukan pemenangan untuk Muhaimin ketika partai lain bahkan belum punya calon.

Dilihat dari gelagatnya, Gus Muhaimin sebenarnya tak ngotot untuk mesti jadi calon presiden. Capres itu versi partainya, tapi kalau digandeng jadi cawapres, Muhaimin tak keberatan.

Hal ini dibaca oleh Gerindra dan Prabowo hingga kemudian lahirlah sebuah koalisi bernama Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya, KKIR. Namanya bagus dan mencerminkan dua partai di dalamnya.

Jelas yang akan menjadi calon presiden versi KKIR adalah Prabowo Subianto, tak bisa ditawar-tawar lagi. Prabowo lebih senior dalam semangat untuk mencalonkan diri menjadi presiden atau wakil presiden. Hampir semua pemilu setelah reformasi diikuti oleh Prabowo sebagai peserta kontestasi. Gus Muhimin baru ingin, Prabowo sudah khatam bertarung.

Publik pun mengira bahwa tinggal tunggu waktu pasangan Prabowo-Muhaimin akan diumumkan sebagai pasangan Capres dan Cawapres KKIR.

Tapi ditunggu-tunggu ternyata tak terjadi. Prabowo malah rajin runtang-runtung dengan Joko Widodo, bahkan juga dengan Gibran, Walikota Solo anak Jokowi. Prabowo juga rajin bertemu dengan partai pendukung pemerintahan Jokowi yang lainnya, PPP, Golkar dan PAN. Hingga kemudian muncul wacana Koalisi Besar. Koalisi yang diselorohkan sebagai Koalisi Joko Widodo.

Padahal Golkar, PAN dan PPP juga sudah mendeklarasikan diri sebagai koalisi. Namanya Koalisi Indonesia Bersatu. Yang pada akhirnya juga tidak satu gerak karena PPP kemudian merapat ke PDIP.

Meski Gus Muhaimin terlihat sering senyam-senyum setiap kali ikut runtang-runtung namun dalam hatinya pasti was-was. Kepastian dari Prabowo dan Gerindra tidak datang-datang. Bahkan Golkar dan PAN yang cenderung lebih agresif menawar-nawarkan pasangan untuk Prabowo.

Bergabungnya PAN dan Golkar ke koalisi Gerindra membuat Muhaimin Iskandar makin kehilangan harapan. Padahal gabungan antara Gerindra, PKB, Golkar dan PAN serta PBB sudah membuat koalisi ini meraksasa.

Hanya saja Prabowo malah semakin tak fokus. Runtang-runtungnya malah meluas termasuk mendekati PSI yang sedang mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi agar menurunkan batasan umur calon wakil presiden.

Upaya ini ditenggarai untuk memasukkan nama Gibran, putra Jokowi dalam orbit calon wakil presiden.

Prabowo termakan umpan yang ditebar oleh PSI. Mungkin Prabowo membayangkan jika bisa berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka, elektabilitasnya akan makin melejit. Prabowo akan menjadi populer dalam kelompok pemilih mud ajika mengandeng Gibran.

Lama menunggu tanpa kepastian, Gus Muhaimin Iskandar segera menyambar peluang ketika Anies Baswedan dan Nasdem menawarinya untuk berpasangan. Anies pernah mengatakan yang akan menjadi pasangannya adalah orang yang berani.

Dan Muhaimin Iskandar memenuhi persyaratan itu. Muhaimin akan berani maju mendampingi Anies Baswedan yang bisa diartikan melawan Joko Widodo. Jangankan Joko Widodo, Gus Dur tokoh bangsa dan juga tokoh agama saja dilawan oleh Muhaimin Iskandar.

Merapat ke Anies, Muhaimin bukan hanya mengejutkan dinamika politik menjelang pemilu presiden. Atmosfir tahun politik ikut berubah. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, Muhaimin mendapat kepastian sekaligus menghukum Prabowo dan Gerindra yang mengantung-ngantung nasibnya.

Ditinggal PKB, nasib Gerindra bisa saja dalam bahaya, andaikan PAN atau Golkar digoda oleh koalisi lainnya untuk hengkang masa depan pencapresan Prabowo bisa padam sebelum dinyalakan.

Jodoh memang tak bisa ditebak. Bermesraan dengan Prabowo Subianto, melirik-lirik Ganjar Pranowo, Muhaimin Iskandar akhirnya jadian dengan Anies Baswedan.

BACA JUGA : Gudeg Salah Pakem 

Deklarasikan dulu, bagaimana cara memenangkan pikirkan kemudian. PKB pun bergerak cepat, jangan sampai tawaran Anies dan Nasdem masuk angin. Dan begitu nama pasangan Anies-Muhaimin berhembus, pasukan PKB segera memasang gambar AMin di postingan mereka. Hampir semua calon legislatif dari PKB mewarnai feed dan dinding media sosialnya dengan wajah sang ketua umum yang kesampaian cita-citanya, menjadi cawapres.

Giliran SBY dan Demokrat yang pusing tujuh keliling. Mau memposisikan diri sebagai yang dikhianati atau dikadali juga percuma, tak akan menaikkan elektabilitas AHY. Deklarasi Anies-Muhaimin tidak akan punya efek elektoral bagi AHY walau meniupkan angin bahwa dirinya didzolimi.

Sebagai pemilik partai, presiden dua periode, Pak SBY nampaknya lupa urusan mengajak dan meninggalkan itu hal biasa dalam politik. Tak bisa dibilang khianat, ingkar janji atau nggak komit. Dalam politik elektoral itu merupakan bagian dari dinamika politik, sebab politik selalu mencari peluang yang terbaik.

Sakit yang dialami Demokrat, SBY atau AHY belum seberapa jika dibandingkan dengan Mahfud MD menjelang pemilu 2019 lalu. Pak Mahfud sudah ukur baju, sudah tinggal menunggu ganti baju di sebuah restoran untuk kemudian berangkat didaftarkan ke KPU sebagai calon wakil presidennya Joko Widodo. Dan tak jadi karena pada menit-menit terakhir yang dijemput untuk pergi mendaftar justru Kyai Ma’ruf Amin.

Dalam politik ada istilah tidak boleh ada matahari kembar. Anies kemungkinan besar tidak memilih AHY karena tidak ingin ada matahari kembar. Andaikan pasangan Anies-AHY bisa memenangkan pemilu, nasib pemerintahannya mungkin akan runyam. AHY pasti akan mencari panggung untuk pemilu berikutnya.

AHY akan menjadi pilihan terakhir Anies jika sudah tak ada jalan, karena sekali lagi memilih AHY berarti memelihara anak macam. Manis didepan dan akan menerkam di belakang.

Ibarat kata, Anies menolong AHY mentas karena terperosok dalam sumur. Begitu sudah diatas, AHY balik mendorong Anies agar terperosok dalam sumur.

Satu-satunya kepentingan dari seorang pemimpin adalah wakilnya tidak lebih populer darinya. Jika di periode pertama sang wakil bisa populer, maka jalan menuju periode kedua akan tertutup atau makin jadi terjal.

Prinsip seperti ini kemudian membuat calon semacam Erick Thohir dan Sandiaga Uno tidak kunjung dipinang oleh para calon yang masih tersisa.

note : sumber gambar ilustrasi – DETIK.COM