KESAH.ID – Makan tidak lagi hanya soal memuaskan rasa lapar, tapi menjadi pengalaman visual dan emosional—di mana tampilan makanan yang cantik dan tertata rapi menjadi kunci utama meningkatkan selera dan kepuasan makan, menggeser fokus dari sekadar kenyang menjadi makan yang estetis dan menyenangkan.
Kesenangan dalam menikmati makanan masa kecil sering kali datang tak terduga. Contohnya, undangan bancakan, yaitu acara makan bersama yang diadakan oleh tetangga sebagai bentuk rasa syukur atas suatu perayaan tertentu. Dinamakan bancakan karena hidangannya disajikan dalam satu wadah besar, dan peserta duduk melingkar beralaskan tikar.
Hidangannya biasanya berupa nasi liwet, urap, tahu dan tempe bacem, telur pindang, ayam goreng, mie goreng, sambal ati, dan lainnya. Bagi keluarga yang lebih mampu, mereka bisa menyajikan ingkung atau ayam utuh. Untuk acara ulang tahun atau kenaikan kelas, biasanya undangan bancakan juga ditujukan kepada anak-anak. Selain menyenangkan dan menyambung silaturahmi, makanan yang disajikan oleh keluarga biasanya lebih lengkap dan lezat dibanding hari-hari biasa.
Bancakan berbeda dengan kenduri atau kenduren, karena suasananya lebih akrab dan tidak terlalu formal. Meski tak jarang disiapkan oleh beberapa orang saja di dapur, suasana makan bersama ini terasa begitu hangat, membuat orang lebih bersemangat saat menyantap. Ada teori yang menyatakan bahwa makan di bancakan yang serba gratis memang terasa lebih nikmat, karena manusia cenderung suka diberi dan mendapatkan pemberian—terlebih lagi jika yang diberikan lebih dari biasanya. Kegiatan ini juga mencerminkan kebersamaan dan rasa syukur kolektif.
Selain bancakan, di sekolah ada pula momen menyenangkan terkait makanan, seperti pemberian ataupun pembagian makanan tambahan seperti kacang hijau, susu, vitamin, atau kapsul minyak ikan yang rasanya amis. Paling berkesan tentu saat perayaan kenaikan kelas: pembagian raport yang disertai kupatan, di mana murid-murid membawa ketupat dari rumah dan berbagi dengan guru dan teman. Ketupat biasanya dimakan bersama telur asin, abon, kering tempe, atau lauk kering lainnya. Momen ini penuh sukacita dan kekeluargaan, meskipun tak semua anak naik kelas. Rasanya, anak-anak zaman dulu lebih santai menghadapi ketidaklulusan—biasa saja, berbeda dengan anak zaman sekarang yang bisa merasa seolah dunia runtuh.
Kini, tradisi bancakan dan perayaan makan bersama perlahan mulai langka. Banyak perayaan ulang tahun yang beralih ke gedung, hotel, atau restoran. Meski begitu, masih ada yang mempertahankan konsep serupa dengan sajian nasi tumpeng, yang tampil lebih estetik dan modern. Anak-anak pun cenderung lebih tertarik pada bingkisan atau souvenir, ketimbang sajian makanan. Tren makanan yang viral di media sosial—seperti ayam geprek, mie instan dengan topping unik, atau makanan kekinian lainnya—menggeser keistimewaan makanan tradisional.
BACA JUGA : Discipula Humana
Pengalaman perihal makan yang kemudian tersimpan secara istimewa di memori saya adalah ketika tinggal di Sulawesi Utara, di Minahasa dan Manado.
Sebelum pergi sudah diwanti-wanti tentang kebiasaan makan orang-orang disana.
Pengalaman tentang makan disana memang membekas. Karena dimulai dengan kejutan.
Sewaktu baru tiba di Pineleng, Minahasa, di Sekolah Tinggi tempat saya akan tinggal dan belajar sedang ada acara besar. Dan tentu saja acara besar selalu ada makan besar.
Makanan yang disajikan di meja panjang, aneka rupa dalam piring besar dan piring kecil hampir semuanya tak saya kenal.
Di Jawa Tengah tempat tinggal saya, jarang-jarang ada acara yang menyajikan makanan prasmanan. Umumnya makanan disajikan dalam piring yang berisi nasi, sayur, lauk dan lainnya. Maka pada acara besar perlu banyak laki-laki untuk membawa sajian karena harus membawa baki yang cukup berat.
Sesekali memang saya ikut acara yang menyajikan makan prasmanan, seperti acara yang sering diselenggarakan di Susteran.
Tapi suasana makan prasmanan di Minahasa dan di Jawa Tengah waktu itu sungguh berbeda. Di Minahasa saya menemukan ada semangat untuk menyantap makanan. Begitu doa selesai, meja langsung diserbu.
Saya terkejut baik laki-laki maupun perempuan sama-sama membuat ‘gunung’ di piringnya.
Kelak ketika sudah cukup lama tinggal disana, saya mulai mendengar gurauan tentang mukjizat yesus yang memberi makan 5000 orang hanya dengan bekal lima roti dan dua ikan. Semua orang kenyang dan ternyata masih tersisa beberapa bakul.
Konon mukjizat itu tidak akan terjadi jika yang diberi makan oleh Yesus itu adalah orang-orang yang tinggal di tanah Minahasa. Jangan sisa, membuat kenyang saja tidak.
Makan merupakan kegiatan penting dalam budaya Minahasa. Kalau urusan ‘Kampung Tengah’ beres, hal-hal lainnya akan mudah juga dibereskan.
Saya ingat sebelum tahun 2000-an, jarang sekali orang membuat acara pernikahan di hotel. Karena biasanya hotel tidak menyajikan makanan yang berlimpah. Kelak ketika masyarakat mulai membuat acara di hotel, mereka membawa makanan tambahan dari luar.
Ukuran keberhasilan atau kemegahan sebuah acara yang ada makan-makannya adalah ketika yang hadir semua sudah kekenyangan tetapi makanan masih banyak. Kalau sampai bisa bikin acara seperti ini maka akan menjadi cerita baik di kalangan tetangga.
Yang bikin acara makan-makan memang harus punya pedoman, semua mesti kenyang kalau perlu sampai gak bisa berdiri.
Dalam budaya Indonesia Timur makan sampai tahede-hede ini disebut makang bunung {makan bunuh}. Disebut makan bunuh karena makanannya berlimpah, yang datang makan sampai kekenyangan.
Di Minahasa atau Manado, orang sering bertanya “Kapan TMP?”. Maksud sebenarnya adalah bertanya kapan menikah. Tapi menikah diganti dengan TMP, Tarik Meja Panjang. Di resepsi acara nikah biasanya memang akan dibuat meja-meja panjang, tempat menyajikan hidangan.
BACA JUGA : Pertamina Pertamini
Saya nggak tahu apakah orang-orang sekarang masih sesemangat sepuluh atau duapuluh tahun lalu saat menyantap hidangan di acara syukuran, bancakan atau resepsi. Bisa jadi tak seseru dulu lagi, karena apa yang dihidangkan di meja makan atau meja panjang tak seistimewa dulu.
Pertumbuhan usaha F&B beberapa tahun terakhir ini membuat kiblat kuliner menjadi berbeda. Persepsi terhadap makanan yang istimewa juga sudah berubah.
Dulu jenis atau resep makanan tradisional tertentu hanya akan ditemukan di acara-acara khusus. Namun kini bisa jadi ada di restoran atau warung makan yang mengusung konsep bahari atau heritage.
Apa yang istimewa adalah apa yang sedang viral karena direview oleh food reviewer atau food vlogger yang ternama. Warung yang tadinya sepi-sepi saja selama beberapa tahun, tiba-tiba mendadak ramai. Dan semua yang datang mengatakan hidangannya aduhai.
Persaingan antar pengusaha yang makin ketat, membuat jenis-jenis kuliner dari wilayah lain juga dihadirkan di daerah tertentu. Hingga akhirnya pecel lele ada dari Sabang sampai Merauke, pun juga ayam geprek, rica-rica, aneka sambal-sambalan dan lain-lain. Tak perlu ke Yogya kalau hanya ingin makan gudeg, tak perlu ke Banyumas kalau mau makan tempe mendoan dan tak usah jauh-jauh ke Bontang kalau mau mencicipi sambal gami.
Gambar atau video atau konten visual lain yang tersebar melalui media sosial memang lebih mudah menstimulasi atau menggugah selera, hal itu kemudian akan memicu keinginan untuk makan. Paparan media sosial membuat orang makan bukan untuk memenuhi kebutuhan melainkan juga untuk hiburan.
Karena diunggah oleh sosok tertentu, atau oleh kebanyakan orang, kita kemudian cenderung menriu perilaku itu. Dan dengan tambahan caption, termasuk lokasi, maka resto atau warung kemudian menjadi destinasi yang terpercaya. Kita kemudian cenderung langsung menerima dan menjadikannya sebagai tujuan.
Sementara acara-acara sosial semacam ulang tahun, syukuran, resepsi pernikahan, halal bihalal dan lain-lain makan besarnya tak lagi menjadi daya tarik. Acara semacam ini menarik karena tema khususnya, pengisi acaranya dan hal lainnya yang bisa dijadikan konten.
Tujuan utama menghadiri acara sosial adalah menghasilkan konten.
Dulu, ketika merencanakan acara sosial alokasi anggaran terbanyak barangkali untuk makanan, kini yang banyak memakan biaya justru dekorasi, tema atau pengisi acaranya.
Jadi istilah makang bunung mungkin tak populer lagi, karena makan terlalu kenyang di masa sekarang ini bisa dianggap sebagai usaha bunuh diri.
note : sumber gambar – RRI








