Minggu sore {13/02/2022} saya meneruskan ke sebuah WAG, flyer berisi pengumuman diskusi dan bedah buku. Kecuali penulisnya, sosok dan nama yang mewakili akademisi, aktivis organisasi lingkungan hidup, budayawan dan jurnalis saya kenal dengan baik.

Dan sepuluh jam setelah saya mengirimkan pesan itu, Senin dini hari penyelenggara diskusi dan bedah buku itu menelepon saya. Memberitahukan bahwa seorang pembicara tidak mungkin hadir karena mendadak harus keluar kota. Saya diminta mengantikannya.

Saya tahu kalau permintaan harus dijawab dengan cepat. Saya mencoba berkelit dengan mengatakan tak elok membedah sebuah buku yang belum saya baca. Dan dengan waktu yang tersisa saya tak mungkin membaca habis buku itu andai versi ebook-nya dikirimkan.

“Baca satu bab saja, bab 7 yang berhubungan dengan masyarakat dan kebudayaan,’ begitu jawaban dari seberang sana.

Saya mulai berkeinginan mengatakan iya. Tapi masih ada hal lain yang mengganjal dan mesti saya sampaikan.  Saya mengatakan tidak bisa membuat materi untuk dipresentasikan.

Permintaan saya diiyakannya dan kemudian saya jawab iya.

Sebuah link google drive dikirimkan dan saya segera membuka untuk mendownloadnya. Ukurannya sangat besar sehingga bisa dipastikan versi cetaknya pasti amat tebal.

Sambil mengurus postingan di kesah.id, saya mendownload ebook itu dengan laptop agar enak dibaca. Membaca dengan cepat, satu bab yang berisi 11 esai, saya bisa menangkap penulisnya adalah seseorang yang tidak bersikap netral, seorang dengan latar belakang keilmuan dan pengalamannya mau berpihak.

Menemukan kenyataan itu kegentaran untuk berbicara di forum diskusi dan bedah buku mulai terkikis. Apa yang dituliskan tak perlu ada yang disanggah,  11 esai itu atas salah satu cara juga merefleksikan keadaan di Kalimantan Timur.

Satu hal lagi yang membuat saya tenang adalah keyakinan bahwa atribut untuk pertemuan itu semua pasti sudah disiapkan. Sehingga pada latar belakang diskusi dan bedah buku nanti, foto wajah saya tak akan terpampang, yang di bawahnya tertulis nama dan atribusi yang bakal mengintimidasi diri saya sendiri.

Andai foto saya terpampang dan kemudian ditulis atribusi sebagai budayawan pasti banyak yang beranggapan bahwa saya mendaku-ndaku. Sebab saya sama sekali tak punya kompetensi, selembar sertifikat pengakuan yang membuktikan saya layak disebut sebagai budayawan.

Jam 3 pagi akhirnya saya bisa merebahkan badan di kasur dengan kehendak bisa memejamkan mata secara cepat dan besok pagi terbangun tepat waktu untuk mengantar anak saya pergi sekolah serta setelahnya kembali membaca ebook serta membuat catatan agar apa yang saya sampaikan dalam diskusi nanti tidak berantakan.

BACA JUGA : Kita Masih Terus Bermain-main Dengan Kekerasan Seksual dan KDRT

Senin {14/-2/2022} pagi setelah mengantarkan anak saya ke sekolah ada waktu kurang lebih 5 jam bagi saya untuk kembali membaca buku dan menulis catatan untuk mengkomparasi antara apa yang saya baca dengan pengalaman dan pengamatan saya tinggal di Kalimantan Timur.

Kebetulan tahun 2022 ini merupakan tahun ke 20 saya tinggal dan menetap di Kalimantan Timur, maka kesempatan diskusi dan bedah buku ini bisa menjadi tempat buat saya menceritakan pengalaman perjalanan hidup selama di Kalimantan Timur yang berkaitan dengan isi buku.

5 jam waktu yang tersisa tentu tidak semuanya saya gunakan untuk membaca buku dan membuat catatan karena saya juga mesti menyiapkan tulisan untuk mengisi kesah.id yang biasanya akan saya posting pada tengah malam.

Catatan saya mulai dari judul buku yang dalam pandangan saya mengandung unsur click bait. Dosa dan Masa Depan Planet Kita, sebagai sebuah judul mengandung unsur teologi serta religi. Padahal jelas buku ini bukan buku soal agama, kajiannya juga bukan kajian agama melainkan ilmu pengetahuan.

Tapi tak masalah, dalam masyarakat yang mengaku religius, judul itu pasti menarik perhatian.

Ternyata setelah saya buka-buka bukunya, judul buku ini merupakan esai pertama yang ada di Bab 2 yang diberi judul Perjalanan Krisis Lingkungan Hidup.

Kloplah, karena dosa mesti dimaknai sebagai kesalahan. Jika dihubungkan dengan krisis lingkungan yang penyebab terbesarnya adalah perilaku manusia maka wajar jika kemudian kita mempertanyakan terang gelapnya masa depan planet satu-satunya di seluruh sistem tata surya yang layak untuk kita tinggali ini.

Menenggok perjalanan sejarah dan peradaban manusia yang keberadaan baru seujung kuku bila dibandingkan dengan umur planet bumi, nyatanya kehadiran manusia di bumi berhasil melampaui algoritma alamiahnya ketika memasuki fase menetap dan budidaya.

Ketika masih hidup dalam fase pemburu pengumpul, manusia masih hidup layaknya mahkluk-mahkluk hidup lainnya. Hidup dengan mengkonsumsi langsung apa yang ada di lingkungannya. Perjuangan hidup manusia sama dengan perjuangan hidup kera, monyet, gajah, harimau, singa dan lain sebagainya. Evolusi manusia berjalan secara alamiah.

Setelah mampu menguasai api, perjalanan evolusi manusia menjadi semakin dipercepat. Api membuat manusia mampu membuat makanan yang lebih enak, lebih mudah dicerna sehingga manusia mempunyai lebih banyak waktu luang. Waktu luang itulah yang dipakai oleh manusia untuk mengembangkan peradaban.

Evolusi peradaban menjadi semakin cepat ketika manusia kemudian memasuki fase menetap dan melakukan budidaya. Hal-hal yang bersifat alamiah kemudian mulai semakin berkurang. Alam atau lingkungan kemudian hanya menjadi alat yang kemudian dikendalikan oleh manusia untuk memenuhi bukan hanya keperluannya melainkan juga keinginannya.

Berbeda dengan binatang manusia kemudian mempunyai ambisi. Ambisi yang kemudian dikejar dengan pengetahuan dan teknologi untuk mewujudkannya. Dunia manusia kemudian penuh dengan hal-hal buatan, yang berbahan dan energi untuk mengolahnya berasal dari ektraksi sumberdaya alam yang sebagian besar tidak terbarukan.

Memasuki fase industrialisasi kebutuhan akan bahan mentah dan energi menjadi semakin besar. Atas nama pertumbuhan ekonomi industrialisasi semakin digenjot. Pengetahuan dan produk teknologi memang berhasil membuat kehidupan manusia meningkat mutunya. Namun pada sisi lain ketidakseimbangan menjadi semakin besar.

Baik ketidakseimbangan sosial maupun ketidakseimbangan lingkungan. Beban lingkungan menjadi berat karena perubahan bentang alam akibat ekplorasi dan ekploitasi. Proses produksi dan paska konsumsi juga menghasilkan limbah serta sampah yang kemudian meracuni dan merusak bumi.

Berbagai macam bencana non alami kemudian semakin sering terjadi, makin hari makin parah sehingga kerap disebut sebagai bencana ekologi.

Puncak dari kebencanaan itu bisa disarikan secara singkat dalam istilah perubahan iklim, sebuah perubahan yang mengancam bukan hanya kehidupan melainkan juga masa depan planet bumi.

Aktifis lingkungan hidup dan ilmuwan garis lurus telah lama meneriakkan persoalan ini. Negara kemudian sadar dan mulai melakukan serangkaian perubahan kebijakan terkait tata guna ruang, lahan dan wilayah agar sumberdaya alam bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Negara dan pemerintah juga mulai melakukan perubahan kebijakan terkait akses dan pemanfaatan sumberdaya berkelanjutan oleh masyarakat. Selama ini atas nama pertumbuhan ekonomi negara lebih mempercayai sektor swasta untuk mengelola dengan memberi konsesi atau ijin yang kerap kali meminggirkan masyarakat.

Bung Hatta yang adalah wakil presiden semasa Republik Indonesia lahir telah memperingatkan perihal pemanfaatan lahan dan hutan. Hatta khawatir jika lahan dan hutan tidak dikelola dengan benar, tidak dimanfaatkan sebagai aset yang berkelanjutan maka akan mendatangkan kesengsaraan yang berkepanjangan untuk rakyat dan hanya memberi keuntungan pada segelintir orang.

Untuk itu Hatta mengusulkan model bisnis tata kelola lahan dan hutan melalui koperasi. Namun apa yang dikhawatirkan dan diperingatkan oleh Muhammad Hatta tidak menjadi perhatian utama. Atas nama pembangunan, Presiden Suharto dan presiden berikutnya menjadikan ekonomi ektraksi sebagai mesin utama untuk membiayai pembangunan.

76 tahun lebih kita telah merdeka namun apa yang menjadi kekhawatiran Bung Hatta msih menjadi kekhawatiran kita bersama saat ini. UUD 1945 yang mengamanatkan kekayaan alam harus digunakan sebanyak mungkin untuk kesejahteraan rakyat belum bisa dipenuhi. Rakyat masih terus menjadi korban kebijakan negara dan sepak terjang koorporasi yang rakus lahan dan sumberdaya alam. Disana-sini rakyat masih dipersekusi oleh aparatur keamanan dan juga dikriminalisasi hanya karena ingin membela hak hidup dan penghidupannya.

Dosa atau kesalahan kita selama kurang lebih 76 tahun paska kemerdekaan adalah tata kelola khususnya korupsi yang terbukti telah membelenggu langkah untuk membuat masyarakat sejahtera dengan modal kekayaan alam yang kita punya.

Terlalu banyak keuntungan karena ekploitasi, pemanfaatan hutan dan lahan hanya menguntungkan pihak atau kelompok tertentu, baik secara legal maupun ilegal.

Hal mana kemudian menjadi semakin parah karena mentalitas birokrasi yang lebih berpihak pada politik ekonomi ketimbang pada kebutuhan masyarakat. Birokrat kita bekerja bak robot yang hanya patuh pada algoritma administrasi dan keuangan, ketimbang fakta-fakta kebutuhan masyarakat yang ditelusuri di lapangan.

BACA JUGA : Sangkulirangprenuer Xtravaganza

Tak mungkin saya menceritakan buku setebal 632 halaman dalam tulisan ini. Buku yang terdiri dari dari 8 bab ini berisi kurang lebih 96 esai yang ditulis oleh Hariadi Kartodiharjo, Guru Besar kebijakan kehutanan di IPB University.

Buku yang selengkapnya berjudul Dosa dan Masa Depan Planet Kita : Percikan Pemikiran Tentang Tata Kelola Kenijakan serta Politik Kehutanan dan Lingkungan Hidup sebenarnya bersumber dari esai-esai yang dipublikasikan melalui forestdigest.com.

Berbicara melalui zoom saat diskusi dan bedah buku yang diselenggarakan di Magara Café, Juanda I Samarinda, Hariadi mengatakan esai-esai itu merupakan tulisan yang berasal dari aktivitas kesehariannya sebagai akademisi, ahli di berbagai lembaga, kegiatan maupun penelitian lapangan.

“Seusai rapat, seminar atau pertemuan dengan berbagai pihak, atau sepulang dari kunjungan di lapangan, pertemuan dengan masyarakat, saya selalu menuliskannya dalam bentuk esai agar hasilnya tersimpan, terdokumentasi,” ujar Hariadi.

Tak sedikit pula dari esainya merupakan uraian dari pertanyaan yang kerap diajukan oleh mahasiswanya. Jawaban atau uraian yang dituliskan menurut Hariadi akan lebih mudah dicerna dan dibaca ulang bukan hanya oleh mahasiswanya melainkan juga orang lain yang ingin belajar.

Sebagian masalah yang dituliskan dalam esainya adalah topik yang kompleks dan berat. Oleh karenanya pada bagian akhir dari buku ini, Hariadi menyertakan 17 halaman referensi atau sumber kepustakaan yang bisa dipakai untuk memperkaya atau lebih mendalami topik-topik yang ditulis dalam bukunya.

Buku ini telah menempatkan Hariadi Kartodiharjo sebagai salah satu akademisi langka di republik ini. Kebiasaanya untuk {memaksa diri} menulis menunjukkan tanggungjawabnya sebagai seorang ilmuwan bukan hanya untuk mendidik mahasiswanya melainkan juga para pemangku kebijakan, sektor swasta, birokrat dan juga masyarakat luas agar melek terhadap persoalan lingkungan hidup dan tata kelola yang benar atasnya.

Berbasis pada keilmuannya, Hariadi juga dengan jelas menunjukkan keberpihakan, berani membela masyarakat yang lemah sekaligus menyampaikan gagasan dan pemikiran yang kritis terhadap pemerintah atau institusi yang mempunyai mandat serta wewenang dalam bidang kebijakan pembangunan dan lingkungan hidup.

Pada akhir diskusi dan bedah buku, Hariadi berpesan kepada semua yang hadir untuk rajin menulis. Walau hanya disimpan sendiri, sebuah tulisan menurut Hariadi kelak pasti akan ada gunanya.

Yang berminat untuk membaca buku ini terutama versi elektoniknya bisa dibeli link ini 

Sedangkan versi cetaknya bisa ditanyakan melalui berbagai akun ofisial yang ada di forestdigest.com

Selamat membaca.