“Awas ada razia!”
Yang hendak bepergian naik sepeda motor kemudian sadar tidak memakai helm.
“Pinjam helmnya,”
“Bukan razia helm,” sahut yang mau dipinjami.
“Lalu razia apa?”
“Razia orang jelek,”
Dan semua tertawa.
Cerita diatas tidaklah masalah jika hanya merupakan cerita atau gurauan belaka. Namun dalam kejadian sehari-hari mereka yang dipandang jelek memang kerap dibully.
Seperti halnya cantik atau ganteng, jelek itu bawaan walau sekarang bisa saja diperbaiki dengan perawatan dan operasi plastik hanya saja ongkosnya mahal. Dan jika ketahuan bahwa ganteng atau cantiknya adalah hasil operasi plastik maka bully-an bisa semakin bertambah kejam.
Ada banyak orang sejak lahir menjadi obyek bullying fisik karena terlahir sebagai anak manusia yang memiliki kriteria jauh dari standar kecantikan dan kegantengan alias jelek. Bahkan jika kejelekannya akut melebihi kedua orang tuanya sampai-sampai bisa dituduh entah sebagai anak siapa.
Lebih sial lagi jika wajah dibawah standar diikuti dengan hal-hal lain yang juga dibawah standar, yang disebut dengan perundungan akan semakin mekar.
Dari berita di berbagai media massa kerap tersiar kabar adanya orang yang bunuh diri karena diejek jelek. Dan sialnya yang diejek jelek itu belum tentu benar-benar jelek. Seorang yang cantik atau ganteng sekalipun jika dikatakan jelek oleh orang sekampung bisa-bisa nggak yakin kalau dirinya cantik atau ganteng hingga kemudian jadi depresi lalu mengambil langkah mengakhiri hidup.
Untungnya sebagian orang biasanya kuat dan menerima takdir alias nasib dilahirkan dengan wajah serta penampilan di bawah standar. Meskipun kemudian mereka kerap kali merasa minder atau kurang percaya diri.
Namun tak sedikit pula yang kemudian berhasil menggunakan sebagai daya lenting hingga pondasi eksis misalnya dengan menjadi bintang film atau penampil.
Sebagian lain juga berhasil misalnya menjadi kaya dan atau punya kedudukan. Di Indonesia siapapun yang kaya dan punya kedudukan akan punya banyak teman serta bakal bertabur pujian, pujian yang melewati kenyataan. Maka biarpun jelek asal kaya dan punya kedudukan bakal berasa cantik atau ganteng sepanjang waktu.
Hanya saja pengejek dan pengolok-olok selalu punya cadangan kata serta kesempatan untuk memuntahkan penghinaan. Jika yang jelek kemudian punya pacar yang cantik atau ganteng, para perundung akan segera sirik, menyebut laki-laki yang jelek berpacar cantik sebagai kejatuhan durian runtuh, sementara si cantik akan disebut sebagai katarak.
Tapi masih mending jika disebut sebagai kejatuhan durian runtuh ketimbang dikatakan main dukun atau pelet serta santet.
Dan ketika undangan nikah dilayangkan, biasanya orang akan mendoakan semoga langgeng hingga kakek nenek, sampai maut memisahkan. Tapi jika the beauty and the beast yang menikah maka tak sedikit yang bertaruh “Berapa lama pernikahan akan bertahan’. Keterlaluan memang.
Saya sendiri sampai sekarang tak paham kenapa jelek itu kemudian menjadi masalah untuk banyak orang, terutama orang lain. Bukankah adanya orang dengan wajah atau penampilan jelek membantu orang lain kelihatan menjadi lebih. Jadi sudah membantu kenapa mesti dihina?.
Sialnya soal yang jelek-jelek ini kemudian menular. Yang disebut jelek bukan hanya wajah atau penampilan melainkan juga suku, etnis atau ras. Terlalu mudah bagi kita menyebut suku, etnis dan ras tertentu sebagai auto jelek, yang lebih parah bahkan kemudian menular ke agama. Otomatis kalau seseorang beragama tertentu langsung kita anggap jelek meski ganteng dan cantiknya setinggi langit.
Maka agar tak ikut-ikutan menjelek-jelekkan apa saja, saya selalu berusaha menyadarkan diri bahwa saya terlahir dari bapak atau ibu siapa, suku apa, ras atau bangsa apa itu tidak bisa saya pilih. Jadi alangkah tidak adilnya jika kemudian saya menjelek-jelekkan apa yang bukan pilihan.
Urusan yang terberi itu tentu saja tidak bisa kita lawan, jelek atau baik mesti diterima saja. Tapi kalau yang jelek itu adalah sikap, perilaku, persepsi atau pengetahuan maka wajib dilawan. Jangan terima kelakuan, sikap atau persepsi jelek itu sebagai nasib.
kredit foto : Markus Winkler – unsplash.com








