Sebagian besar bencana yang terjadi dalam sejarah manusia berhubungan dengan air. Bencana keairan ada yang bersifat alamiah sehingga sulit atau mustahil untuk dicegah. Namun kebanyakan lainnya terjadi karena pengaruh perilaku manusia terhadap lingkungan.
Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai kelimpahan sumberdaya air maka resiko bencana yang berhubungan dengan air ini menjadi sangat besar dan dekat dengan kenyataan hidup sehari-hari. Selain dikelilingi lautan, curah hujan yang turun ke daratan setiap tahunnya juga cukup berlimpah.
Ada ribuan sungai besar dan sungai-sungai menengah serta kecil. Sebagian diantaranya berpotensi meluapkan air di saat musim penghujan. Bencana banjir kemudian menjadi bencana yang paling merata penyebarannya.
Meski akrab dengan bencana banjir, namun sampai dengan saat ini belum ditemukan model yang sahih untuk mengelolanya. Sebagai contoh, banjir di Jakarta yang dari gubernur ke gubernur selalu menjadi isu utama. Hingga saat banjir mulai mengenangi Istana Negara, maka rencana pemindahan IKN yang sudah didengungkan semenjak jaman Presiden Sukarno akhirnya menemukan ‘bensin’ untuk segera dilaksanakan.
Kesulitan menangani banjir selalu bermuara dari caranya. Bencana banjir selalu didekati dari tempat kejadiannya. Akibatnya mengatasi banjir di satu tempat kerap kali sama dengan memindahkan banjirnya ke tempat lain.
Itu baru banjir, belum lagi dengan saudara kembarnya yaitu kekeringan. Meski wajahnya berbeda, banjir dan kekeringan sebenarnya interdependen, penyebab dasarnya sama, yakni tata kelola air dari hulu ke hilir yang tidak benar.
Turunan lainnya dari banjir dan kekeringan adalah tanah longsor dan kebakaran lahan.
Daftar bencana yang berhubungan dengan air ini bisa terus diperpanjang, meski beberapa diantaranya kemudian tidak dikenali sebagai bencana. Seperti menurunnya kesehatan tanah karena pencemaran air, turunnya populasi biota air atau bahkan sampai dengan punahnya jenis ikan tertentu, serangan hama tertentu pada lahan pertanian, menurunnya produktifitas lahan dan berbagai tanaman serta tumbuhan.
Hingga kemudian bencana yang paling menyedihkan adalah kita mempunyai banyak air namun sebagian besar airnya tidak bermutu atau tak layak pakai untuk keperluan sehari-hari.
Dilihat dari respon kebijakan atas bencana keairan bisa dipastikan kita masih akan terus akrab dengannya dengan kemungkinan intesitas kejadian yang akan lebih sering.
Salah satu hal yang akan membuat bencana ini terus menjadi ancaman adalah paradigma pembangunan kita yang abai terhadap kondisi keairan. Hampir sebagian besar wilayah negeri kita tak bisa dilepaskan dari Daerah Aliran Sungai. Namun konsepsi pembangunannya sama sekali tidak mempertimbangkan hal ini.
Yang terjadi kita hanya terus sibuk pada badan airnya, seperti alur sungai.Oleh karenanya urusan menanggulangi banjir tak pernah jauh-jauh dari badan sungai. Dan penanganan banjir tak akan jauh-jauh dari semen. Padahal semen adalah salah satu musuh terbesar dari air.
Yang dikenal sebagai normalisasi sungai bisa jadi akan ‘mengatasi banjir’ sesaat sesudah diresmikan. Namun dalam jangka panjang justru akan semakin menyulitkan tata kelola banjir. Sebab selain tidak memperbaiki siklus dan kualitas air, normalisasi yang ditopang oleh infrastuktur lama kelamaan akan aus, rapuh dan butuh biaya pemeliharaan yang tinggi.
Salah Urus Air
Samarinda ketika tidak ada campur tangan manusia alias masih kosong melompong, pada saat musim hujan pasti ada banjir di tempat-tempat tertentu. Apalagi ketika sudah mulai ada campur tangan manusia, makin banyak orang yang tinggal di wilayahnya. Banjir menjadi semakin menggila sehingga menjadi bencana.
Hanya saja kita masih selalu menganggap banjir adalah bencana alam, padahal kejadian banjir di Samarinda saat ini sebagian besar adalah ulah manusia. Baik manusia biasa maupun manusia yang punya kedudukan dan kuasa.
Pertanda banjir adalah akibat perilaku masyarakat atau kebijakan bisa dibuktikan dengan pernyataan “Sudah 20 tahun tinggal disini, baru kali ini kami kebanjiran,”. Pernyataan ini menandakan adanya salah urus air.
Pengaruh atau kelakuan yang menyebabkan banjir menjadi semakin besar adalah kita merasa bisa mengatur air, bisa membelokkan air, bisa mengeringkan air, bisa membendung air, bisa menahan air dan seterusnya.
Merasa lebih hebat dari air, membuat kita abai bahwa air mesti punya ruang, punya tempat dan punya rumah. Apa yang merupakan kepunyaan air kemudian kita rampas.
Bukit dengan tutupan vegetasi sebagai ruang tangkapan air dipangkas, digunduli sehingga air hujan yang jatuh akan segera meluncur cepat ke perlembahan. Dan diperlembahan, rawa-rawa yang merupakan kolam penyimpan air sementara diuruk, menjadi lahan kering agar lahannya lebih bernilai jual.
Pun demikian dengan sungai sebagai jalan untuk mengalirkan air ke laut agar tak terjadi genangan, ketenangannya juga terus diganggu. Ruang lebarnya terus diambil, tak heran jika kemudian beberapa sungai berubah jadi parit atau bahkan hilang sama sekali.
Tapi tenang saja, toh banyak dari antara kita yang sekolah tinggi-tinggi sehingga layak digelari sebagai ahli air. Mereka inilah yang kemudian mencari jalan dan cara sehingga masalah air bisa menjadi proyek besar.
Air kemudian diatur oleh para ahli air dalam bentuk bendungan, normalisasi sungai, drainase dan lain sebagainya. Tapi ternyata banjir tetap saja bahkan makin parah. Kenapa?. Karena sebuah proyek pasti dirumuskan dengan masalah yang terjadi sebelumnya, bukan masalah yang akan diantisipasi di masa depan.
Dan tanggul, turap, bendungan, waduk, polder atau apapun adalah infrastruktur yang punya masa pakai, atau punya umur menyangkut daya atau efektifitasnya. Begitu masalah semakin bertambah sementara masa pakai berkurang maka efektifitas infrastruktur tersebut otomatis juga menurun.
Apalagi kebiasaan kita hanya gemar membangun sehingga setelah diresmikan alias dilaunching, segala sesuatu diurus apa adanya saja. Polder yang mestinya dipakai untuk menampung air limpasan, ternyata airnya tetap dibiarkan meski berhari-hari panas menyengat. Padahal mestinya pada saat itu air polder dikeringkan dengan pompa sehingga nanti jika hujan datang lagi daya tampungnya tetap ada. Tapi rata-rata pompa di polder tidak bisa berfungsi, bahkan sebagian di rumah pompanya tidak berisi mesin pompa.
Itu baru urusan banjir. Padahal salah urus air bukan hanya menimbulkan banjir melainkan juga kekeringan, longsor dan kebakaran lahan. Dan selama ini berurusan dengan banjir saja tidak beres-beres apalagi ditambah dengan kekeringan, longsor dan kebakaran.
Dan salah urus air ini jika kemudian dihubungkan dengan pemanasan global akan lebih bermasalah lagi.
Jadi jangan berharap kepada janji politik yang mengobral harapan untuk mengatasi banjir. Apalagi jika caranya adalah dengan membangun berbagai macam infrastruktur. Permasalahan banjir ini ada di kepala kita semua. Jika kita belum bisa mengatur isi kepala, niscaya banjir akan tetap melanda dan semakin parah saja.








