Bagaimana cara kita menyikapi sebuah perubahan akan menentukan apakah perubahan itu menjadi kabar baik atau kabar buruk. Pandemi Covid-19 contohnya, akan menjadi hambatan atau peluang baru, semuanya akan tergantung kepada upaya yang kita lakukan, menyerah atau tetap produktif dengan cara baru.

Pramuwisata sebagai garda depan layanan industri pariwisata jelas kehilangan tamu atau pelangannya karena pembatasan kunjungan atau penutupan lokasi wisata. Bagaimana pramuwisata tetap bisa memperoleh pendapatan jika tak ada wisatawan?.

Alternatif untuk bisa memperoleh pendapatan di saat pandemi dan era normal baru dalam bidang pariwisata sebenarnya tetap terbuka. Salah satunya adalah dengan menyelenggarakan paket virtual tour.

Maka bagi seorang pramuwisata menguasai cara atau ketrampilan untuk merancang dan menjalankan virtual tour menjadi penting untuk dikuasai.

Reza Permadi, Chief Operating Officer Atourin yang mempunyai pengalaman panjang dalam dunia pariwisata minat khusus mengatakan dunia pariwisata amat dinamis, selalu berubah-rubah.

Menjadi terbuka dan adaptif baik pada kondisi saat ini serta teknologi mestinya menjadi sikap dan sifat yang selalu dipunyai oleh seorang pramuwisata.

“Saat ini virtual tour menjadi alternatif kegiatan yang paling memungkinkan, mampu mendatangkan pendapatan dan tidaklah sulit untuk merancang serta membuatnya. Pramuwisata sudah punya modal utama yaitu kemampuan bercerita,” terangnya.

Secara garis besar virtual tour bisa dibedakan menjadi dua yaitu virtual tour yang bersifat umum dan virtual tour tematik. Virtual tour tematik lebih menantang karena bersifat khusus, peminatnya terbatas dan perlu pengetahuan yang luas serta dalam untuk melaksanakannya.

Adapun cara untuk menjalankan virtual tour terdiri dari 4 model yaitu webinar, siaran langsung dari lokasi, siaran tunda (tapping) dan hibrid atau campuran.

Masing-masing model mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun yang paling lazim adalah webinar dimana gambar berupa foto atau video bisa diambil lebih dahulu atau disiapkan dengan memakai google tour creator.

“Siaran langsung lebih menantang karena amat tergantung pada cuaca dan belum belum semua destinasi dibuka. Hostnya juga harus punya pengetahuan dan kemampuan menyampaikan narasi secara baik,” lanjut Reza.

Namun yang tersulit adalah model hibrid yang mengabungkan antara webinar, siaran langsung dan siaran tunda.

“Dibutuhkan sumber daya manusia dan biaya yang lebih besar,” tandas Reza.

Pengalaman atourin sebagai pioner virtual tour dan telah melakukan pelatihan ratusan kali di hampir seluruh provinsi di Indonesia menjadi landasan keyakinan bahwa untuk menguasai atau membuat virtual tidaklah sulit dan rumit. Sama seperti pertemuan online, yang diperlukan hanyalah membiasakan diri.

“Kita belum tahu kapan pastinya pandemi akan berakhir. Namun lepas dari itu virtual tour tetap akan menjadi peluang dan potensi baru ke depan yang akan berjalan beriringan dengan visit tour atau kunjungan langsung,” tegas Reza.

Tetap kreatif, produktif dan promotif

Tidaklah benar jika dikatakan virtual tour hanya relevan karena kita berada dalam pandemic. Ditinjau dari teknologi, potensi dan kepentingannya dimasa depan, virtual tour tetaplah penting lepas dari masa pandemi atau tidak.

“Potensi dan kekayaan wisata Kalimantan Timur masih banyak yang tersembunyi serta perlu diangkat,” ucap Sri Wahyuni, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur yang hadir untuk menyaksikan hasil akhir dan menutup Pelatihan Pembuatan Video Kreatif Daya Tarik Wisata.

Kepada peserta yang merupakan anggota dari Himpunan Pramuwisata Indonesia dari 10 Kabupaten/Kota di Kalimantan Timur, Sri Wahyuni mengharapkan pramuwisata terus kreatif, produktif dan promotif setelah mengikuti pelatihan ini.

“Hujani dunia maya dengan cerita-cerita wisata Kalimantan Timur,” himbaunya.

Himbauan ini senada dengan kenyataan bahwa konten foto baik foto spere maupun foto 360 dari destinasi atau potensi wisata di Kalimantan Timur umumnya masih langka tersimpan di google map maupun google street view.

Padahal konten foto di google map dan google street view merupakan bahan yang bisa diambil untuk disusun menjadi sebuah paket perjalanan virtual tour melalui aplikasi google tour creator. Sebuah aplikasi yang lazim dan gratis untuk dipakai menyusun paket virtual tour yang nantinya akan dibagikan dengan cara share screen di aplikasi zoom atau aplikasi sejenis lainnya.

“Tak usah memfokuskan diri untuk menggaet wisatawan mancanegara karena kondisi saat ini belum memungkinkan. Pasar wisatawan domestik kita juga besar. Tidak semua orang Kalimantan Timur tahu dan mengenal Kalimantan Timur,” terang Sri Wahyuni.

Kalimantan Timur selama ini dikenal baik oleh orang Kalimantan Timur sendiri maupun orang luar sebagai daerah dengan hutan tropis dataran rendah, daerah tambang, pusat industri kayu dan lain sebagainya. Padahal ada banyak potensi dan lanskap lain yang tak kalah menarik dan potensial.

“Kita bisa mempromosikan lewat virtual tour, Kalimantan Timur sebagai negeri di atas awan. Karena kita punya gunung embun di Paser, Gunung S di Kubar dan Merabu di Berau,” usulnya.

Tagar dan jejak digital baru memang perlu dinarasikan di dunia maya agar tersebar dan jejaknya tetap tersimpan di internet. Apalagi Kalimantan Timur telah ditetapkan sebagai lokasi calon Ibukota Negara yang baru.

“Jadi mari kita sama-sama bekerja dan bekerja sama memberdayakan semua potensi yang ada, sehingga siapapun yang berada atau datang ke Kalimantan Timur akan merasa melarikan diri dan tersesat di surga,” pungkasnya.

Peserta berfoto bersama dengan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur dan para narasumber dari atourin

note : artikel ini merupakan kerjasama pemberitaan antara Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim dengan Borneo Corner/kesah.id

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 3 =