Saya tak punya kapasitas untuk menjadi penasehat keuangan sebab arus keuangan saya tak cocok untuk dimasukan dalam skema perencanaan apapun. Sebagai seorang yang tidak work-work amat, pendapatan atau pemasukan ke dompet tidak bisa diduga-duga.

Tapi dalam kondisi sekarang saya mesti lebih berhitung, melakukan aksi penting yaitu berhemat agar saya tetap bisa mengebulkan asap dari mulut. Tapi sekali lagi saya tak punya tips yang ampuh untuk semua orang.

Sebelum pandemi ini datang saya kerap mendengar seseorang mengatakan kalau seminggu tak nonton film terbaru di bioskop badannya akan gatal-gatal. Tentu saya tak bisa membantah karena saya tak punya bukti ilmiah yang bisa membuktikan dampak tidak nonton film dalam badan. Saya hanya membatin saja “Kamu lebay, Bro,”.

Tentu saja banyak orang lain mengatakan hal senada. Persis sama dengan para lelaki yang mengatakan akan sakit kepala kalau nafsu berhubungan badan tidak dituruti.

Tanpa saya beri nasehat atau bantahan, semua yang mengatakan harus ini dan itu agar tidak begini begitu dengan sendirinya pasti buyar sejak Work From Home dilaksanakan. Sadar atau tidak apa yang mereka katakan, apa yang dihayati sebagai kebutuhan primer ternyata merupakan kebutuhan tersier. Dan tanpa dihapus ternyata terhapus sendiri. Dan tak terbukti bahwa tidak nonton bioskop seminggu sekali akan membuat badan gatal-gatal.

Kini bahkan dengan uang berlebih sekalipun banyak hal atau keinginan yang dulu bisa kita turuti tak mungkin bisa diwujudkan. Tanpa disuruh, baik yang kelebihan uang maupun yang pas-pasan bahkan berkekurangan kini harus berhemat.

Yang kaya kini harus berhemat karena percuma memberi mobil baru, baju baru dengan merek ternama dan lain-lainnya karena tak ada tempat untuk memamerkan, tak ada kegiatan sosialita. Untuk apa beli mobil baru kalau tak bisa dipakai keliling kota, untuk apa beli baju baru kalau tidak dipakai menghadiri undangan party.

Sedangkan untuk yang berkekurangan atau pas-pasan, mereka terpaksa berhemat karena pemasukan yang seret atau bahkan tak ada serta belum tahu kapan bisa mencari uang lagi.

Maka sungguh mengembirakan, karena covid 19 baik yang kaya maupun yang pas-pasan dan berkekurangan punya kesepakatan yang sama yaitu berhemat.

Nah urusan berhemat ini saya bisa memberi tips atau nasehat. Sebab berhemat itu sederhana saja. Prinsip utamanya adalah penuhi kebutuhan pokok. Bahasa kerennya basic needs atau kebutuhan primer kita sebagai mahkluk hidup.

Yang mesti dipastikan di dapur ada beras, gula, minyak, garam dan barito (bawang, rica, tomat) atau bumbu dapur. Dan di kamar mandi ada sabun, pasta gigi dan shampoo. Singkirkan merek, karena merek sering kali tidak berhubungan dengan mutu. Urusan merek kadang lebih berkaitan dengan urusan gengsi. Dan ingat gengsi itu bukan kebutuhan primer.

Penghematan lain yang bisa dilakukan adalah hemat energi dan kuota. Pemakaian energi cenderung naik saat WFH karena semua penghuni rumah menjadi lebih sering dan lama berada di rumah. AC, Kipas Angin dan Televisi lebih sering dan lama dihidupkan. Lampu-lampu dalam ruangan rumah juga terus menyala. Begitu juga dengan kuota, pemakaian paket data menjadi lebih meningkat karena kebanyakan kita hanya rebahan di dalam rumah dengan smartphone yang lengket di tangan.

Maka untuk menghemat energi dan kuota, carilah kegiatan bersama di luar rumah. Misalnya bersih-bersih sekeliling rumah, buka semua pintu sehingga sinar atau terang matahari masuk rumah. Terangi dalam rumah dengan sinar matahari bukan lampu. Berkebun juga menjadi pilihan terbaik atau duduk-duduk bersama di teras bertukar cerita satu sama lain.

Mungkin ada yang pingin berkebun tapi tak punya lahan. Siapa bilang kebun di rumah perlu lahan luas. Ada banyak cara berkebun yang tidak butuh lahan yang luas, bahkan dinding pagar rumah bisa jadi kebun, teras rumahpun bisa jadi tempat bertanam. Kantong plastik yang tebal dan wadah-wadah plastik di rumah bisa menjadi tempat bertanam. Juga botol-botol yang kemudian digantung atau ditempel di dinding. Kalau nggak tahu caranya, ambil smartphone dan gunakan untuk mencari informasi yang berguna, jangan untuk main tik tok, smule, bigo atau game saja.

Nah, hemat energi yang lainnya adalah BBM. Kini kita mungkin harus sering berada di dalam rumah. Kebutuhan kita juga tidak sebanyak hari-hari biasanya. Kini kita tak perlu beli kado, karena semua undangan dibekukan. Jadi belilah kebutuhan di warung terdekat, selain menolong tetangga juga tak perlu berkendara untuk membelinya. Cukup jalan kaki. Dan dengan jalan kaki selain lebih sehat kita juga menghemat energi.

Saya yakin kita semua bisa menemukan cara sederhana untuk bisa berhemat tanpa menjadi penasehat keuangan. Intinya adalah beli yang paling perlu dan usahakan sendiri apa yang bisa diusahakan, sesederhana itu. Menanam lima pohon tomat dan terong, hasilnya pasti bisa dibagi ke tetangga sebelah. Bayangkan jika masing-masing rumah bertanam, maka kita bisa bertukar hasil. Dan dengan saling berbagi maka kita saling bersilaturahmi. Saling dukung satu sama lain karena masalah memang harus diselesaikan secara kolektif.

Semoga setelah covid 19 berlalu kita secara kolektif bisa menyadari bahwa selama ini kehidupan kita berlebihan. Salah satu bukti dari konsumsi yang berlebihan adalah bertumpuknya sampah domestik. Sampah wadah dan kemasan yang bahkan dibuang sembarangan sehingga got dan saluran air penuh dengan sampah.

kredit foto : daftarardhan.com