KESAH.ID – Empat kali berturut-turut Marc dan Alex berada di podium dengan menjadi pemenang satu dan dua pada dua seri balapan pembuka Moto GP. Posisi terdepan dalam balapan di Buriram dan Argentina hanya diperebutkan oleh kakak beradik yang kini tak berada di tim yang sama namun sama-sama menaiki motor Ducati. Jika sebelumnya dperkirakan seri Moto GP 2025 akan diwarnai oleh persaingan sengit antara Marc, Pecco dan Martin, ternyata yang terjadi jauh dari sangkaan banyak orang. Alex marquez ternyata melejit dan kemudian menjadi penantang paling serius Marc Marquez yang nampaknya akan kembali merengkuh gelar juara dunia yang melayang karena dirinya didera cidera.
Absen dalam persaingan perebutan gelar juara dunia Moto GP selama 5 tahun tidak membuat nama Marc Marquez tenggelam. Come back dari cidera panjang, Marc masih menjadi magnet Moto GP, terlebih ketika Valentino Rossi meninggalkan gelangan balap jet roda dua itu.
Tidak terlalu yakin dengan dirinya sendiri Marc Marquez mengambil keputusan yang mengejutkan, meninggalkan Honda yang telah membesarkan namanya. Keputusan itu diambil karena Marc harus menguji dirinya sendiri, apakah masih mampu mencetak prestasi di balapan Moto GP atau tidak. Marc memutuskan harus mengendarai motor terbaik, walau bukan di tim pabrikan.
Dan di tahun 2024 Marc Marquez bergabung dengan adiknya di Gresini Racing yang mempersenjatai diri dengan motor Ducati. Bukan motor terbaru, namun sudah cukup bagi Marc Marquez untuk mengembalikan kepercayaan dirinya.
Dengan Ducati yang setahun lebih tua dari yang dikendarai oleh para pembalap Tim Pabrikan dan Tim Satelit lainnya, Marc Marquez terbukti menjadi ancaman. Kecepatannya belum hilang, potensinya untuk menjadi pembalap terdepan masih ada.
Bersama dengan Gresini, Marc Marquez melakukan come back yang meyakinkan, karena diakhir musim Moto GP 2024 Marc berada di posisi 3 klasemen pembalap. Motor setahun lebih tua bisa mengalahkan dua pembalap lain yang mengendarai Ducati versi terbaru.
Menjelang akhir musim lagi-lagi Marc Marquez membawa kejutan. Marc direkrut oleh pabrikan Ducati untuk menajdi salah satu pembalap utamanya. Marc Marquez mengeser Jorge Martin, juara dunia Moto GP 2024 yang sangat merindukan satu kursi di Tim Pabrikan Ducati. Gara-gara Marc Marquez, Jorge Martin meninggalkan Ducati, bergabung dengan Aprilia.
Marc Marquez memang hanya menargetkan 1 tahun di Gresini Racing, dan jika terbukti kompetitif Marc akan mengincar kursi pabrikan. Ini pertaruhan besar, karena Marc hanya memberi waktu pada dirinya sendiri selama satu tahun untuk membuktikan apakah masih kompetitif atau tidak. Jika tidak Marc akan memilih pensiun.
Pertaruhan karena ketika memilih Gresini, Marc mengabaikan tawaran lain yang nilainya jauh lebih besar. Bahkan tawaran dari Honda yang bisa membuatnya tercatat abadi sebagai pembalap dengan bayaran tertinggi dengan hormat ditolaknya.
Tahun 2025 akhirnya Marc meninggalkan Gresini dan bergabung dengan Ducati Lenovo. Nampaknya kepergian Marc Marquez menjadikan Alex Marquez tumbuh kepercayaan dirinya. Alex menjadi leader di tim Gresini Racing yang kemudian kedatangan pembalap masa depan dari Spanyol yakni Fermin Aldequer.
Setahun bersama sang kakak yang juga mentornya, Alex telah belajar banyak dan menikmati cipratan keberhasilan. Salah satunya bisa berada di podium pemenang, sesuatu yang sangat jarang dicapai oleh kakak beradik di lintasan Moto GP.
Selama tahun 2024, Alex Marquez kecipratan ekposure dari Marc Marquez yang namanya selalu mendapat percakapan dan pemberitaan yang lebih banyak dari pemenang-pemenang lainnya. Nama Marc seperti memayungi jagat Moto GP.
Sama-sama menaiki motor Ducati walau dalam tim yang berbeda, Marc dan Alex Marquez kemudian naik bersamaan mulai dari sesi ujicoba sebelum memasuki musim balap 2025.
Dalam sesi ujicoba, Alex dan Marc bergantian menjadi yang tercepat di lintasan.
BACA JUGA : Kopimu Manis
Prediksi berdasarkan hasil ujicoba terbukti di Sirkuit Chang International Buriram, Thailand. Pada seri pembuka, Marc dan Alex Marquez menguasai sirkuit. Kecepatan mereka berdua sulit disaingi bahkan oleh Francesco Bagnaia, salah satu pembalap utama Ducati pabrikan.
Jorge Martin tak bisa memvalidasi diri sebagai juara dunia, sebagai penunggang motor nomor 1 karena cidera.
Persaingan dalam balapan sprint dan balapan utama hanya milik Marc, Alex dan Pecco dengan hiburan yang ditunjukkan oleh Ai Oigura, sang rookie dari Jepang.
Dan Marc dan Alex yang kemudian menguasai podium 1 dan dua, back to back. Ini menjadi rekor baru, kakak adik berbagi podium satu dan dua dalam sprint dan balapan utama. Sejak balapan pembuka Marc telah menciptakan rekornya sendiri.
Tanda bahaya telah dinyalakan, kecepatan Marc Marquez seperti berada di planet lain. Alex dan Bagnaia mengakui hal itu, jangankan mengejar, mendekati saja sulit.
Kisah balapan di Buriram menjadi kisah sendiri. Karena Marc yang sempat memelankan motor karena tekanan ban, membuat Alex sempat memimpin di depan sebagian besar putaran di balapan utama. Ibunya yang menonton dari rumah berharap Alex memenangkan balapan.
Tapi Marc tetaplah Marc, sebelum bendera finish dikibarkan yang ada dipikirannya adalah menjadi pembalap terdepan jika memungkinkan. Begitu celah terbuka, dalam sekali putaran saja Marc berhasil membuat jarak yang sulit untuk dikejar.
Lampu merah makin menyala terang karena balapan berikutnya adalah di Sirkuit Autodromo Termas de Rio Hondo Argentina. Salah satu sirkuit kesenangan dari Marc Marquez. Dan Marc adalah salah satu raja di sirkuit itu sebelum cidera panjang.
Datang setelah 6 tahun tak membalap di Sirkuit Argentina, Marc Marquez belum kehilangan sentuhannya. Sejak latihan Marc langsung memimpin, bahkan kemudian memecahkan rekor lap time atas namanya sendiri yang sudah bertahan selama 11 tahun.
Seperti yang diperkirakan, Marc memang dominan hingga berhasil merebut pole position, disusul oleh adiknya dan rekan satu timnya Pecco Bagnaia. Dari hasil analisis top speed, Marc bukan pembalap tercepat, kecepatan puncaknya jauh dibawah banyak pembalap lainnya. Namun meski bukan yang tercepat, ternyata Marc Marquez berhasil menorehkan lap time terbaik. Kuncinya ada pada saat membelok, Marc Marquez berhasil membelokkan motornya dengan efektif.
Kemampuan dan kecepatan membelok memang menjadi kunci pada balapan di Sirkuit Termas de Rio Hondo ini, sirkuit yang flowing ini memungkinkan pembalap untuk membelok tanpa banyak mengurangi kecepatan motornya.
Ketika balapan sprint, Marc berhasil melakukan start dengan baik dan langsung memimpin hingga akhir balapan. Hanya Alex Marquez yang konsisten berusaha mengejar Marc Marquez. Alex berhasil mendekati dan menguntit Marc hingga menjelang akhir balapan.
Namun Marc tak terkejar, dua lap terakhir bahkan mampu menciptakan jarak dengan Alex yang mulai melambat. Marc meninggalkan Alex hampir satu detik, dan berjarak dengan Pecco Bagnaia hampir 3 detik.
Berhasil melintasi garis finish sebagai pembalap terdepan, disusul oleh Alex Marguez sang adik, duo Marquez kembali mengulangi prestasi di Thailand. Baru dua seri, sudah tiga kali podium diduduki oleh pembalap yang sama, Marc Marquez, Alex Marquez dan Pecco Bagnaia.
Tiga kali berturut berada di podium yang sama, prestasi duo Marquez ini bakal sulit disaingi oleh kakak beradik pembalap lainnya. Yang pasti, Valentino Rossi seteru abadi Marc Marquez tak bakal lagi merayakan kegembiraan seperti Marc dan Alex.
BACA JUGA : Transisi Energi Bukan Hanya Turunkan Emisi
Baru dua seri balapan, dominasi Ducati makin terasa. Dalam balapan utama di Argentina, 5 pembalap Ducati berada di barisan paling depan.
Lagi-lagi Marc dan Alex berada di dua nomor terdepan. Ini menjadi kali keempat, Marc finish di posisi pertama dan disusul oleh Alex adiknya.
Mengawali balapan dengan sangat baik, Marc memimpin di depan. Bagnaia sempat berebut posisi dengan Alex Marquez, namun tak lama kemudian Alex berhasil merebut kembali dan kemudian mengejar Marc yang mulai membuat jarak.
Dalam beberapa lap, Alex berhasil mendekat bahkan mencatatkan disi sebagai pembalap tercepat. Hingga akhirnya Alex mampu melewati Marc yang sedikit melebar. Di belakangnya, Franco Morbideli berhasil melewati Bagnaia dan membuat jarak. Morbideli berupaya mengejar Marc Marquez.
Beberapa kali terlihat Marc hampir kehilangan cengkeraman ban depan setiap kali hendak mengejar Alex Marquez. Ketika menjelang lap 20, Marc Marquez berusaha melewati Alex yang konsisten cepat di depannya. Percobaan Marc berhasil namun sedikit melebar sehingga dilewati kembali oleh Alex.
Dan kemudian Marc mengulangi kembali, beberapa lap kemudian hingga ketika balapan menyisakan sekitar 5 lap, Marc berhasil melewati Alex Marquez lalu tancap gas untuk membuat jarak.
Dalam satu putaran saja Marquez berhasil membuat gap hampir setengah detik. Dan makin bertambah hingga ketika balapan hanya menyisakan 3 atau 4 lap, jarak antara Marc Marquez dan Alex sudah melewati angka 1 detik. Marc nyaman memimpin di depan, hanya crash yang bisa menghentikannya untuk finish sebagai pemenang.
Tapi Marc tak terhentikan.
Kemenangan dua kali berturut-turut di dua seri pembuka membuktikan Ducati tidak salah merekrut Marc Marquez dan mengabaikan Jorge Martin yang berjasa membawa Ducati juara dunia. Marc menjadi pembalap utama Ducati yang pertama memenangi balapan di Sirkuit Argentina. Dengan kemenangan ini Marc menyamai prestasi Angel Nieto, juara dunia 12 kali dengan 90 kemenangan di seluruh kelas. Kemenangan di Argentina membuat Marc mempunyai catatan yang sama dengan sang legenda balap Spanyol itu.
Dominasi Marc Marquez memang membuat balapan terasa membosankan. Tidak ada manuver berbahaya dan langkah grusah-grusuh yang selama ini ditunjukkan oleh Marc Marquez. Berada dalam tim utama Ducati pabrikan, cara membalap Marc sangat mulus. Marc hampir tak terlihat memaksakan motornya, membalap dengan santai.
Sampai-sampai Pecco Bagnaia mengatakan Marc sedang mempermainkan pembalap lainnya. Atau kata Alex adiknya, Marc berbohong dengan kekuatan motornya.
Balapan berikutnya akan diselenggarakan di Sirkuit Austin, Amerika Serikat. Sirkuit ini merupakan sirkuit kegemaran Marc Marquez, dia disebut sebagai Raja COTA atau Circuit of The America.
Menarik untuk menunggu kiprah Marc Marquez di COTA dengan Ducati tunggangannya. Jika dominasi Marc dan Alex masih berlanjut, maka seri Moto GP 2025 bukan lagi Ducati Cup melainkan balapannya Duo Marquez. Hanya mereka berdua yang memperebutkan kemenangan, yang lainnya hanya jadi tim hore-hore.








