KESAH.IDPeradaban terus bergerak maju, namun disela kemajuan selalu saja ada pengulangan. Apa yang dulu populer dan disukai banyak orang lalu hilang kemudian muncul kembali serta mengetarkan banyak orang. Ditengah kekhawatiran banyak orang soal anak-anak yang kecanduan games digital, ternyata mainan jadul kembali hadir dan hype-nya benar-benar terasa.

“Haish, sudah jam segini masih main,” keluh seorang teman yang lagi asyik ngobrol menjelang tengah malam dan kemudian terganggu oleh bunyi mainan yang populer dengan sebutan latto-latto.

Bunyi tek-tek efek dari benturan dua bola plastik padat yang disambung dengan tali itu memang terdengar dimana-mana, tak peduli waktu. Seolah menggantikan slogan “kapan saja, dimana saja dan siapa saja” yang dulu identik dengan Coca Cola.

Latto-latto memang lagi digemari, sedang musimnya walau tak sedikit yang kemudian jengkel karena terganggu dengan bunyinya. Dan seperti biasa apapun yang bikin jengkel maka mulai ada yang mengisukan kalau permainan itu dari Yahudi.

Padahal itu jelas tidak benar karena besar kemungkinan yang membuat mainan dua bola diadu itu adalah China.

Menilik sejarahnya, latto-latto yang juga dikenal dengan nama ethek-ethek, toki-toki, nok-nok dan banyak sebutan lain sejatinya berasal dari Amerika Serikat.

Permainan ketangkasan untuk menggerakkan dua bola yang terhubung dengan tali secara cepat maupun lambat sehingga menimbulkan efek bunyi ini populer di tahun 60-an dengan nama Clackers Balls.

Sekitar tahun 70-an kemudian menyebar hingga Indonesia, hilang dan muncul kembali dalam rentang waktu tertentu. Terakhir sebelum kemudian terkenal kembali, permainan ini ramai dimainkan oleh anak-anak menjelang tahun 2000.

Ditilik dari sebutannya, trend saat ini kemungkinan dimulai dari Sulawesi Selatan. Sebab kata latto-latto berasal dari bahasa Makassar. Artinya bunyi yang keluar dari dua benda yang berbenturan.

Kemungkinan besar ada yang memainkan permainan ini dan kemudian merekam lalu menguploadnya di media sosial hingga terkenal di Tik Tok. Karena terkenal kemudian banyak orang ikut memainkannya.

Latto-latto jadi semakin populer karena banyak pejabat ikut memainkannya. Salah satu video yang banyak dibagikan menunjukkan Presiden Jokowi mencoba memainkan latto-latto bersama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Menjadi trending maka permainan latto-latto juga diperlombakan. Konon sebuah lomba di pusat perbelanjaan bisa membuat jam tutup diundur karena peserta lomba bisa memainkan latto-latto lebih dari 4 jam.

Dan sejarah kembali berulang. Dulu di Amerika Serikat permainan ini sempat dilarang karena dianggap berbahaya. Bahannya yang dari kaca rawan pecah, jika dimainkan terlalu keras berpotensi untuk hancur berkeping-keping dan pecahannya bisa melukai orang disekitarnya.

Di Mesir permainan ini juga sempat dilarang, karena dua bola yang terhubung ini diasosiasikan dengan testis. Permainan ini dianggap melecehkan.

Karena banyak dimainkan oleh anak-anak, Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Barat, Lampung mengeluarkan larangan untuk membawa latto-latto ke sekolah. Selain bisa menganggu konsentrasi belajar, dua bola yang terbuat dari plastik keras itu dikhawatirkan bisa menjadi senjata yang berbahaya kalau siswa berkelahi dengan siswa lainnya.

Benar juga sih, bayangkan jika terjadi tawuran entah antar kelas atau antar sekolah dan mereka saling pukul dengan menggunakan latto-latto. Bisa dipastikan akan banyak anak yang badannya lebam dan kepalanya benjol karena hantaman bola latto-latto yang keras karena terbuat dari plastik padat yang tak mudah pecah.

BACA JUGA : Generative Pre Trained Transformer, Chat Bot Yang Menakjubkan Namun Bikin Ketar Ketir 

Sebagai warga nusantara yang termasuk dalam golongan generasi lama, saya merasa gembira dengan trendingnya permainan latto-latto walau saya tak ikut memainkannya.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang diikuti lahirnya banyak permainan digital, musim permainan tradisional mulai luntur. Tidak banyak lagi anak-anak, generasi baru Nusantara mengenal dan memainkan permainan tradisional.

Seingat saya di jaman kecil dulu, dalam satu tahun selalu ada siklus musiman permainan tradisional. Apa yang dimainkan baik secara individu maupun kelompok berganti-ganti, setiap permainan bisa bertahan antara 2 sampai 3 bulan, dimainkan dimana-mana.

Jenis permainan individual misalnya layangan, tulupan, kelereng, egrang, gasing, gambaran dan lainnya.

Sedangkan permainan kelompok yang bernilai rekreasi sekaligus olahraga misalnya petak umpet, gobak sodor, engklek, lompat karet, patok lele, congklak, bola bekel dan masih banyak lainnya.

Rasanya berbagai jenis permainan diatas saat ini mulai jarang dimainkan oleh anak-anak. Banyak anak-anak tidak lagi mengenalnya.

Pemerintah sendiri berupaya untuk melestarikan dan membuat organisasi untuk mewadahinya. Wadah untuk menaungi olahraga atau permainan tradisional adalah Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia atau Kormi.

Masyarakat yang prihatin dengan menurunnya minat anak-anak pada permainan tradisional kemudian juga membentuk komunitas, salah satunya adalah Traditional Games Return atau TGR.

Salah satu material kampanye yang disebarkan oleh TGR berisi pesan “Lupakan Gadgetmu, Ayo Main Di Rumah”

Memang banyak yang mengira bahwa permainan olahraga atau ketangkasan tradisional mulai jarang dimainkan anak-anak karena mereka lebih tertarik pada games di gadgetnya. Bisa jadi tenggara itu memang benar tapi tidak seratus persen.

Ada banyak permainan tradisional tidak lagi dimainkan karena anak-anak kehilangan tempat bermain. Bagaimana bisa memainkan layang-layang, kelereng, gobak sodor atau patok lele jika tak ada lagi tanah lapang atau rumah-rumah tak lagi punya halaman?.

Perubahan lain yang terjadi adalah lingkungan pergaulan. Dulu umumnya anak-anak berteman dengan anak-anak yang bertetangga. Mereka berteman karena juga merupakan teman sekolah. Kini di sebuah lingkungan, anak-anak sekolahnya bisa beda-beda sehingga tak lagi saling kenal.

Beberapa jenis permainan dulu dibuat sendiri oleh anak-anak, sebagian dibantu oleh orang-orang yang lebih dewasa. Bahannya ada di sekitar rumah. Kini segala sesuatu serba dibeli, maka jika tak ada yang menjual, tak akan ada pula yang memainkannya. Membuat sendiri akan terasa mahal atau merepotkan.

Tidak semua permainan tradisional luruh atau hilang. Beberapa bahkan berkembang dengan pesat seperti permainan layang-layang. Sekarang ada banyak festival layang-layang yang model dan bentuk layangannya telah berkembang, berbeda jauh dari yang dimainkan di masa mereka kanak-kanak.

BACA JUGA : Dua Paus

Walau punya kenangan dengan permainan ethek-ethek atau latto-latto, saya sama sekali tak punya niat untuk ikut-ikutan bernostalgia dengan memainkannya.

Memori saya terhadap permainan ini tak terlalu baik. Seingat saya ketika belajar memainkannya saat masih bocah, tangan saya terantuk salah satu bolanya. Sakitnya bukan kepalang dan membuat saya tak antusias lagi untuk ikut memainkannya.

Dulu saya lebih suka memainkan permainan-permainan grup karena lebih asyik dan tak perlu belajar terlalu lama. Saya memang kurang tekun dalam mempelajari sesuatu, sehingga jenis permainan seperti egrang tidak benar-benar bisa saya kuasai.

Apakah egrang, gasing, kelereng, loncat karet, engklek, patok lele juga akan kembali ngetrend seperti halnya latto-latto?. Mungkin saja, namun tak ada yang tahu dan bisa memastikan kapan.

Namun yang namanya pengulangan trend akan selalu terjadi dalam masyarakat. Segala sesuatu bisa muncul kembali, menjadi primadona, digemari setiap orang tanpa kita tahu sebabnya dan kemudian kembali menghilang.

Trend kerap berulang karena pada dasarnya kita senang dengan nostalgia sehingga kemunculan apa yang dulu pernah ada dalam memori atau ingatan menjadi menyenangkan.

Presiden Jokowi, Gubernur Ridwan Kamil dan pejabat-pejabat lainnya tentu punya ingatan terhadap latto-latto apapun sebutannya dimasa itu. Jadi tak peduli dengan kedudukan dan pangkat mereka saat ini meski terasa wagu tetap saja mereka senang ikut-ikutan memainkannya kembali.

Bisa jadi mereka dulu jago memainkannya sehingga ingin membuktikan bahwa kemampuannya memainkan beberapa trik belum hilang. Atau bisa jadi dulu mereka di-bully karena payah sehingga sekarang mau membuktikan bahwa sudah tidak payah lagi.

Setiap orang tentu berhak untuk menikmati nostalgia asalkan tidak terjebak di dalamnya. Jadi biarlah presiden, gubernur, bupati, walikota, camat dan lainnya ikut memainkan latto-latto. Tak usah nyinyir dengan mengatakan bahwa permainan itu tak pantas dimainkan oleh mereka.

Selama masih dalam batas kewajaran, pertunjukan presiden menjajal latto-latto akan terasa menyenangkan juga mengakrabkan. Tapi jadi lain ceritanya apabila saat memimpin rapat kabinet tiba-tiba presiden mengajak para menterinya untuk beradu ketangkasan bermain latto-latto.

Demikian juga dengan bunyinya. Saya paham saja kalau banyak yang terganggu dengan tak-tek-tok yang seperti tak kenal waktu itu. Sabar saja, tak perlu memarahi apalagi memaki mereka yang rajin memainkannya.

Yakinlah, tak lama lagi bunyi-bunyian itu akan sirna dan diganti oleh trend lainnya yang bisa jadi lebih menjengkelkan.

Sekali lagi meski saya tak antusias ikut bernostalgia lewat pengulangan trend latto-latto namun saya tetap ikut bersyukur. Sebab anak-anak kemudian bermain kembali, mengerakkan tangan dan belajar memfokuskan diri untuk menjaga agar bola beradu dalam rentang waktu yang lama.

Hal ini positif karena anak-anak kemudian terjeda hubungannya dengan gadget yang membuat hanya asyik pada dirinya sendiri.

Semoga saja pengulangan trend latto-latto akan diikuti oleh pengulangan trend permainan atau olahraga tradisional lainnya. Sehingga anak-anak tidak tertarik untuk mengulang trend viralitas ala Fajar Sad Boy. Bocil yang lebih doyan main cinta-cintaan namun tak siap dan tak paham kalau cinta bisa menyakitkan.

note : sumber gambar – GAYA.TEMPO.CO