Orang Samarinda lawas kerap menyebut THG yang merupakan kependekan dari Taman Hiburan Gelora. Sayangnya tempat yang biasa menjadi ruang berkumpul warga Samarinda itu kemudian berkembang menjadi area yang kumuh dan tempat kegiatan prostitusi.

Kenyataan itu membuat pemerintah provinsi dan kota Samarinda menjadi gelisah. Kemudian dirancang konsep untuk merestorasi kawasan itu menjadi ruang hiburan dan usaha. Dan rencana itu kemudian terwujud dalam pembangunan Citra Niaga di tahun 1986.

Konsep Citra Niaga adalah mall terbuka dengan kios pedagang dan jasa yang terdiri dari pengusaha kecil dan pengusaha menengah besar dengan komposisi 60 : 40. Selesainya pembangunan kawasan ini mampu menunjukkan demokratisasi ekonomi lewat prinsip koperasi sehingga kepentingan berbagai pihak terakomodasi. Model kelola ini kemudian diganjar dengan penghargaan Aga Khan Award di tahun 1989.

Aga Khan Award adalah penghargaan untuk bidang arsitektur. Dan Citra Niaga memperoleh penghargaan itu bukan semata karena nilai arsitektur bangunan kawasannya melainkan karena nilai-nilai yang melatari dan dipraktekkan dalam tata kelolanya.

Sampai sekitar tahun 90-an Citra Niaga masih dikenal baik dan menjadi salah satu destinasi belanja sekaligus hiburan masyarakat. Namun perlahan-lahan memudar, citranya kembali ke masa-masa sebelum dibangun. Banyak orang kemudian jeri ke Citra Niaga apalagi pada malam hari. Citra kembali dipayungi bayangan kelam, disebut kampung Texas dan tempat mangkal prostitusi utamanya transpuan.

Semenjak tahun 2015/2016, pemerintah Kota Samarinda berupaya untuk mengembalikan wajah Citra Niaga ke wajah pada jaman keemasannya. Citra Niaga termasuk satu kawasan strategis yang akan menjadi tonggak Samarinda sebagai Smart City.

Ada perubahan tampakan pada beberapa titik di kawasan Citra Niaga, namun belum bisa mengusir bayangan kelam dan juga keenganan warga untuk kembali datang kesana.

Dan diawal tahun 2020, tanpa koar-koar sebelumnya dibukalah sebuah kedai kopi yang buka dari pagi hingga malam hari. Dengan prinsip bersaing lewat kolaborasi dalam waktu beberapa bulan saja kedai kopi tumbuh di Citra Niaga bak cendawan di musim hujan. Kedai kopi di kawasan Citra Niaga menjadi gelombang baru kopi di Kota Samarinda setelah kemunculan berbagai gerai kopi kekinian di berbagai penjuru kota.

Kini kurang lebih ada 70 brand berniaga di Citra Niaga, tidak semuanya berjualan kopi melainkan juga makanan dan minuman lainnya. Dan kehadiran brand-brand lokal yang umumnya dikelola oleh anak-anak muda, pemain baru dalam dunia wirausaha ini ternyata mampu merubah wajah citra. Brand-brand itu ibarat kunang-kunang di malam hari, meski nyalanya kecil namun karena banyak maka mampu membuat terang wajah Citra Niaga di malam hari.

Citra Niaga telah berubah, jalan kembali ke era keemasan sudah terbuka. Meski demikian masih ada banyak pekerjaan rumah untuk menyempurnakannya.

Dan apa gerak dan dinamika Citra Niaga terkini, silahkan simak dalam video bincang-bincang bersama inisiator pengembangan kedai kopi Citra Niaga berikut ini :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two + 11 =