Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa banyak perubahan. Kalau dulu berkirim kabar baik tulisan maupun gambar harus lewat kantor pos dan dikirim lewat darat, udara atau laut sehingga bisa berhari-hari menunggu, belum lagi kalau kesasar alamatnya, kini semua bisa serba cepat.
Kini mencari literatur, bahan bacaan, bahan pelajaran atau apapun yang bisa menjadi sumber pembelajaran akan begitu mudah. Ada layanan mesin pencari yang dengan cepat bisa menyajikan link yang bisa diakses untuk mencari apa yang diperlukan. Dengan mengetikkan keyword yang tepat kita bisa mendapat banyak sumber bahan.
Namun pada sisi lain muncul juga berbagai persoalan seperti pornografi, kekerasan pada anak, bullying dan kejahatan elektronik lainnya yang membuat banyak orang merasa internet berbahaya. Mustofa beruntung mempunyai Kepala Sekolah yang bijaksana. Pak Kepala Sekolah tidak ikut-ikutan menuduh internet sebagai setan yang berbahaya. Bahkan ketika demam game berbasis AVR, semacam Pokemon, Kepala Sekolah Mustofa tidak ikut-ikut mengeluarkan larangan bagi muridnya untuk memainkannya.
-000-
Pagi ini suasana kelas berbeda dari pada hari biasanya. Guru meminta murid-murid menepikan meja ke dinding pinggir kelas. Dan bangku disusun membentuk huruf U. Dari jam pelajaran pertama hingga jam istirahat, pelajaran akan diisi oleh Kakak Kakak Tim Internet Sehat. Pak Kepala Sekolah menjadikan pekan ini sebagai Pekan Literasi Internet Sehat dengan tagline Berinternet Secara Asyik dan Bertanggungjawab.
“Semangat pagi,” begitu salah satu kakak Tim Internet Sehat membuka pertemuan.
“Yes … Yes…Yes,” jawab murid-murid serempak.
Dan kemudian kakak kakak yang lain membagikan phablet kepada semua murid murid. Hati mereka riang karena bisa bermain internet di sekolahan. Selain itu mereka juga tahu bahwa jam istirahat nanti mereka akan mendapat kudapan, berupa makanan kotak yang ada di pojok kelas mereka.
“Nah, adik-adik hari ini kita akan belajar menggunakan internet untuk pembelajaran, senang nggak?”
“Senang,:” jawab murid-murid serentak.
“Adik-adik tahu google?”
“Tahu … mbah google panggilannya,”
Kakak Internet Sehat tersenyum kemudian melanjutkan keterangannya.
“Kali ini kita akan belajar menggunakan google sebagai tool untuk penelitian,”
Kakak Internet Sehat tak sadar telah memilih kata-kata sulit yang membuat murid-murid melonggo.
“Oh, maaf. Tool adalah perangkat atau sarana atau alat,” ujarnya.
Kemudian kakak Internet Sehat meminta murid murid mengaktifkan browser atau perambah dan membuka halaman google.
“Adik adik tahu Karang Mumus?”
“Tahu, ini orangnya,” jawab murid-murid menunjuk Mustofa.
Melihat kakak Internet Sehat kebingungan, Bondan berinisiatif menerangkan.
“Ini Mumus kak nama pendeknya, nama panjangnya Pria Karang Mumus,” ujar Bondan sambil tertawa.
“Maksud kakak, Sungai Karang Mumus,” ujar kakak Internet Sehat menjaga agar perbicangan tidak lari.
“Tahu kak, sungai tempat Mumus mandi,” ujar seorang murid.
“Sungai kotor kak,” ujar yang lainnya.
“Airnya hitam kak,” sambung yang lain lagi.
“Nah, kenapa sungai jadi begitu?” tanya kakak Internet Sehat.
“Banyak yang buang sampah ke sungai kak,”
“Ada ATM berjejer kak,”
Kakak Internet Sehat tak paham kenapa ada ATM di Sungai Karang Mumus.
“Lho kok ATM di sungai?”
Murid-murid tertawa melihat kakak Internet Sehat kebingungan.
“ATM itu Anjungan Tinja Mandiri kak,” ujar Mustofa mulai ikut angkat bicara.
Lagi-lagi kakak Internet Sehat harus menjaga agar perbincangan tidak melenceng.
“Nah, itu berarti ada pencemaran di Sungai Karang Mumus, tapi apa yang terjadi di Sungai Karang Mumus mari kita lihat di google,”
Kemudian kakak internet sehat meminta murid-murid menuliskan kata Karang Mumus di kolom mesin pencari google. Dan murid murid segera menuliskannya.
“Sudah…… Nah kita lihat apa saja yang muncul di halaman mesin pencarinya. 10 link pertama,”
“Tentang Sungai Karang Mumus kak, di wikipedia,”
“Cerita susur sungai kak di viva,”
“Berita kak di tribunnews,”
“Ada karangmumus.id kak,”
“Berita tentang sungai yang harus diselamatkan kak di mongabay.co.id,”
“Ngabuburit di Karang Mumus kak, menurut republika.co.id,”
“Nah, hari raya kurban tapi kok karang mumus juga jadi korban kak, di kiliksamarinda.com,”
Kakak Internet Sehat senang melihat murid-murid dengan cepat memahami apa yang diminta.
“Nah, mari kita lihat link-nya satu persatu,”
Kemudian bersama dengan murid-murid, Kakak Internet Sehat membuka link tentang Karang Mumus yang ada di halaman pertama mesin pencari. Link itu ditunjukkan lewat LCD sehingga murid-murid bisa melihat bersama-sama. Setelah selesai kemudian kakak Internet Sehat kembali melanjutkan keterangannya.
“Jadi tadi kita sudah lihat 10 link pertama yang isinya adalah paparan, cerita dan berita, pertama kita bisa lihat siapa saja yang menuliskannya,” ujar kakak Internet Sehat.
“Kita akan menilai apa yang disampaikan. Ada tiga kategori yaitu netral, positif dan negatif,” lanjutnya.
Dan kemudian kakak Internet Sehat menerangkan kalau netral artinya tulisan itu mengungkap informasi dasar misalnya sejarah sungai, panjang sungai, seluk beluk sungai dan lain sebagainya. Sementara positif berarti tentang potensi sungai, upaya-upaya atau inisiatif pemulihan sungai, praktek baik di sungai, keindahan sungai dan seterusnya. Sementara negatif terkait dengan permasalah sungai yang berlarut larut, perilaku buruk terhadap sungai, kebijakan yang tak menjawab persoalan sungai dan seterusnya.
“Gimana adik-adik, paham kan. Jadi mana lebih banyak, netra, positif atau negatif?”
“Banyak negatifnya kakak?”
“Itu pertanda apa?”
“Banyak masalah di Sungai Karang Mumus kak,”
“Dan …. “
“Dan dibiarkan saja dari dulu kak …,” jawab murid murid kompak.
Kakak Internet Sehat tersenyum masam mendengar jawaban murid murid. Tapi bisa jadi jawaban ini adalah sebuah kebenaran karena anak-anak akan jauh dari basa-basi, mereka belum punya kepentingan yang disembunyikan soal memberi jawaban. Mereka tak peduli apakah jawaban polos mereka akan mempengaruhi lancar tidaknya aliran dana BOS atau beasiswa lainnya. Hal yang sama tentu tak berlaku untuk kakak kakak mereka yang tengah menempuh pendidikan sarjana, master sampai doktoral. Mereka tentu sudah pintar berdiplomasi dalam urusan jawab menjawab. Sebab jawaban bukanlah soal kebenaran melainkan kepentingan apa yang sedang coba direngkuh.
“Hari ini kita sudah belajar soal bagaimana menggunakan internet terutama mesin pencari sebagai alat untuk melakukan riset kecil-kecilan dan cepat. Hal ini bisa dipraktekkan untuk beberapa hal. Namun yang terpenting ketika menarik kesimpulan soal positif atau negatif perlu dipertimbangkan siapa yang menuliskannya atau menyampaikannya agar kita bisa mengambil kesimpulan yang obyektif,” terang kakak Internet Sehat.
“Ya …. kakak,” ujar murid-murid serentak.








