Pernah bosan dengan media sosial?. Pasti pernah. Jangankan dengan media sosial, yang bosan dengan hidup saja juga tak kalah banyak. Maka tak perlu heboh atau pura-pura kaget setengah mati jika ada orang yang amat terkenal di media sosial tiba-tiba ingin menghilang, menutup akunnya dan pergi menyepi lepas dari keramaian di internet.

Benar-benar berubah, hijrah berpindah dari satu kondisi ke kondisi lain yang lebih ideal bisa jadi merupakan langkah yang serius. Ada istilah yang disebut dengan ‘bunuh diri kelas’. Seseorang yang sudah mempunyai kemapanan misalnya bekerja di perusahaan besar, menduduki jabatan eksekutif tingkat tinggi, bergaji ratusan atau bahkan ribuan kali lipat dari rata-rata pekerja kebanyakan lalu tiba-tiba memutuskan untuk mengundurkan diri. Setelah itu pulang ke kampung dan kemudian menjadi petani. Dia meninggalkan semuanya.

Kisah seperti itu bukan kisah mustahil karena memang banyak terjadi. Jadi kalau sekedar hilang atau mengundurkan diri dari riuh medsos itu adalah cerita biasa. Toh tidak sedikit mereka yang terkenal di medsos bahkan beroleh uang darinya lalu pamit. Menutup akunnya atau menghibahkan akun yang telah dimonitize itu kepada pihak lain agar didayagunakan.

Menjadi wajar pada satu titik seseorang mencapai kulminasi bahwa apa yang dilakukan olehnya tidak lagi punya arti bagi dirinya, tidak lagi memuaskan. Atau bahkan kemudian menjadi beban yang membuat dirinya tidak nyaman. Beban itu tidak selalu berupa masalah atau kesulitan. Keterkenalan yang didamba banyak orang, ternyata juga bisa menjadi beban. Sehingga seorang yang terkenal kemudian memutuskan untuk menjadi orang biasa.

Media sosial mungkin memang bikin capek kalau sedikit-sedikit muncul notifikasi. Tapi kalau lama tak ada notifikasi juga bikin gelisah. Biar sibuk dan banyak teman kemudian banyak orang mengikuti aneka grup, misalnya WA Group. Awalnya asyik, tapi lama-lama bisa menganggu dan bikin HP jadi error.

Hidup yang tadinya nyaman-nyaman saja tiba-tiba menjadi teror. Seperti di masa pandemi ini, banyak group WA berisi ajakan untuk mengikuti aneka pertemuan lewat zoom. Semua kelompok tiba-tiba saja menjadi seragam karena semuanya menjadi zoomers.

Group WA buat saya memang kerap bikin kikuk. Terutama yang berasal dari lingkaran pertemanan di masa lalu. Sudah lama saya tidak bertemu, tidak berkomunikasi dan tidak saling tahu lagi, lalu tiba-tiba harus bersama lagi. Tentu saja saya kehilangan konteks, ramai pembicaraan di dalam group terkadang menjadi tema yang asing buat saya. Dan jika kemudian saya hanya diam saja, tidak bereaksi kemudian muncul pesan lewat jalur pribadi, teguran kenapa saya diam saja dan tidak proaktif.

Bayangkan betapa tersudut saya. Padahal saya bukan orang yang antisosial dan tidak mau akrab dengan orang lain, apalagi dengan teman. Tapi lama tidak bertemu terkadang kita sudah tak tahu apa yang mesti diomongkan. Belum lagi saya ada masalah dengan ingatan, banyak lupanya ketimbang ingat nama teman-teman, 20 atau 30 tahun lalu. Jadi nggak sederhana untuk kemudian ikut aktif di WA group seperti itu.

Dan sekali tercebur ke sebuah group sungguh tak enak untuk meninggalkannya begitu saja tanpa alasan yang kuat. Bisa saja pura-pura mengatakan kalau HPnya hang, tapi alasan seperti ini pasti ketahuan bohongnya. Dan kalau persatuan dan kesatuan dianggap sebagai nilai utama group, bisa-bisa kita malah dibelikan HP dan kemudian menjadi semakin susah meninggalkan group.

Selalu saja ada enak dan tidak enaknya dalam menggunakan media sosial. Dan gak ada sesuatu yang akan enak selalu. Semua akan tergantung bagaimana kita menggunakannya. Buat saya media sosial selalu saja penting walau tak selalu saya antusias menggunakannya. Sesekali terbebas darinya juga perlu, meski terkadang karena terpaksa seperti HP rusak atau berada di daerah yang tidak bersignal.

Scroll instagram, twitter dan seterusnya bisa juga untuk mengisi waktu, melihat dan membaca yang lucu-lucu atau asyik-asyik, tak usah mencari yang berat-berat, ikut-ikutan me-react atau twitwar yang bikin kepala jadi pening. Melihat yang nggak penting-penting amat sesekali juga penting, paling tidak bisa tahu apa yang sedang berlangsung dan terjadi di seluruh penjuru negeri dan dunia.

Dan gak usah mengantungkan harapan tinggi-tinggi pada media sosial, seperti berharap postingan kita menjadi viral. Menjadi berarti di media sosial bukan berarti apa yang kita posting di like, di komen dan di share oleh banyak orang. Syukuri saja dan tak usah menyindir-nyindir mereka yang tidak bereaksi terhadap postingan kita sebagai sombong atau tinggi hati. Selalu bersikap begitu hanya akan membuat kita jadi cepat-cepat meninggalkan media sosial atau kemudian memproduksi sampah berupa hoax dan klik bait agar jangkauan media sosial kita jadi tinggi. Jangan sampai media sosial membuat kita menjadi sosok lain, lain di bumi lain di dunia maya.

Dan hidup itu kemudian menjadi berarti jika kita juga menyibukkan diri dengan hal-hal lainnya, seperti membaca buku, berkebun, memasak dan piknik. Asal kita piknik bukan sekedar untuk mencari foto-foto selfie untuk diunggah ke media sosial. Ingat ada banyak keindahan yang akan menenangkan jika disimpan dalam hati bukan di kartu memori HP kita.

kredit foto : shutterstock

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here