Kebanyakan dari kita belum merasa makan kalau tidak menyantap nasi. Ya beras yang kemudian dimasak menjadi nasi adalah makanan pokok bagi hampir seluruh penduduk di penjuru negeri.
Meski kini mulai banyak generasi baru Indonesia yang merasa sudah makan ketika menyantap aneka makanan berbahan tepung seperti roti, mie, pizza dan juga kentang. Namun tetap saja nasi masih yang terpopuler sebagai makanan yang wajib dimakan saat ritual santap pagi, siang dan malam.
Karena populernya nasi maka banyak orang kemudian mengira padi adalah tanaman asli Indonesia, makanan pokok yang dimakan sejak jaman kerajaan-kerajaan Nusantara.
Beras menjadi populer atau mulai diperkenalkan semenjak kedatangan bangsa India untuk berdagang. Pun juga ketela dan jagung, kemungkinan besar diperkenalkan oleh Bangsa Portugis.
Masuknya bangsa-bangsa lain dari luar benua, memperkenalkan makanan pokok dan pola pertanian membuat perlahan-lahan bangsa Nusantara meninggalkan makanan pokoknya. Salah satu yang kemudian dilupakan adalah Sagu.
Sagu adalah makanan pokok yang kemudian dihabisi justru oleh usaha untuk menumbuhkan makanan pokok melalui pertanian. Deforestasi lahan-lahan pangan pokok alamiah terjadi untuk pengembangan agrikultur.
Ironisnya kemudian lahan-lahan pertanian yang mengkonversi hutan kemudian juga berkurang berubah menjadi permukiman atau fasilitas umum dan industri lainnya. Isu ketahanan atau kecukupan pangan kemudian menjadi isu penting. Pertanian rakyat tak mungkin lagi memenuhi kebutuhan pangan seluruh masyarakat. Mesti ada industri pertanian tanaman pangan.
Tahun 70-an ketika kebanyakan orang masih berhubungan dengan pertanian, rumah-rumah di perdesaan selalu mempunyai lumbung, kamar atau sentong tempat menyimpan padi dan kotak penyimpan beras. Ada juga yang mempunyai lumbung terpisah dari rumah.
Meningkatnya kebutuhan pangan dan menurunnya jumlah keluarga atau individu yang bisa memenuhi kebutuhan pangan dengan budidaya sendiri membuat pemerintah melakukan perluasan lahan tanaman pangan dalam hal ini padi (ekstensifikasi). Program ini kemudian disusul dengan intensifikasi lewat modernisasi pertanian lewat mekanisasi pertanian, penggunaan bibit unggul dan pemupukan lahan.
Ekstensifikasi dan intensifikasi membuahkan hasil di masa orde baru dimana pemerintah bisa melakukan swasembada pangan. Namun dibalik itu juga kehilangan banyak kearifan dan pengetahuan tanaman pangan lokal. Padi dan beras juga nasi menjadi panglima.
Pangan kemudian menjadi komoditas industri hingga akhirnya menyingkirkan sumber-sumber pangan lokal. Ketahanan pangan adalah kecukupan stok padi dan beras di lumbung pemerintah.
Penyingkiran sumber-sumber pangan masih terus terjadi sampai sekarang. Pada program MIFEE (Merauke Integrated Food and Energi Estate) yang mencanangkan pengembangan lahan pertanian lebih dari sejuta hektar telah menggusur lahan hutan sagu yang merupakan makanan pokok warga setempat.
Papua adalah pertahanan terakhir dari sagu setelah kebiasaan mengkonsumsi sagu lenyap di pulau-pulau lainnya. Pohon sagu bahkan mungkin tak dikenali lagi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.
Penghancuran kawasan hutan sagu menjadi kawasan industri pangan dan energy di Papua dengan sangat baik direkam dalam film documenter The Mahuze produksi Watchdoc.
Hilangnya hutan sagu membuat masyarakat kehilangan lumbung pangan alaminya. Sagu tidak seperti padi. Sagu hanya perlu ditanam atau tumbuh sendiri sekali dan bisa terus dipanen asal tidak dilenyapkan atau dialihfungsikan lahannya.
Setiap waktu masyarakat ketika perlu sagu bisa langsung memanen. Tinggal tebang, dipangkur, diperas dan sagu langsung bisa diperoleh hari itu juga. Satu pohon bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga selama berminggu-minggu.
Pohon sagu juga tidak hanya diambil empulurnya, kulit dan pelepah sagu serta daunnya di beberapa daerah dimanfaatkan untuk membuat bangunan, sebagai dinding, lantai dan atap. Bahkan ada yang memanfaatkan untuk tulangan jembatan.
Namun demi sawah untuk menghasilkan padi dan beras, sumber-sumber pangan lokal, pangan yang telah berkontribusi menjadi pondasi negeri ini terus dihilangkan. Lumbung-lumbung juga telah tumbang. Di mana-mana masih marak dengan penyelenggaraan pesta panen, meski mereka tak lagi menghasilkan pangannya sendiri.








